padrover.com
everything about us
things we do
we're going out sometimes
pictures of us
skills related to scouting
one way to share
sign our guestbook!
|
|
Huff.. pagi yang lumayan segar.. dengan mendung yang sedikit menggantung di angkasa, kami sedikit terlambat sholat subuh karena dinginnya udara, dan nyamannya kasur putih serta selimut tebal biru yang menemani tidur kami di kamar. Aduw,, air di atas ga nyala. Akhirnya ngungsi ke sumber air laen deh, orang2 yang berkepentingan dengan kamar mandi, mulai dari wudhu, sikat gigi, pipis, hingga pup.
Pagi itu panitia mengajak peserta tippmann 98 custom upgrades berjalan-jalan keliling kaliurang seperti biasa.. sementara yang lain menyiapkan untuk acara sarapan pagi. Saya yang waktu itu berada di aula sempat melihat gelaran daun pisang yang ditata melingkar. Umm.. sepertinya mau ada sarapan lesehan kembulan ni..
assalamualaikum..wr.wb
ramadhan telah berjalan separo. Insya Allah hati telah teduh dan semai kebaikan mulai menampakkan kuncupnya.. salah dan khilaf pun tak sabar pergi meninggalkan diri kita. 0-0 teman..
kami, ambalan 63. mengingatkan teman-teman semua untuk melebur segala salah dan menuai hangatnya kebersamaan dalam SYAWALAN AMBALAN 2009. semoga kata maaf tidak hanya tertulis dalam sms, ter posting di wall FB, ato tak tersampaikan karena server lagi erorr..
semoga kata maaf dapat kita dengar langsung di telinga ku, kamu, kita bersama…
nantikan tanggalnya!!
terimakasih!!!
wass.wr.wb
Dimulai pada tanggal 23 Agustus 2008 .
Peserta datang tepat pada pukul 14.00 . Semua panitia sedang bersiap untuk menerimanya. Setiap petugas sudah standby dengan lembar penilaian masing-masing. Ada 9 regu yang mendaftar yang terdiri dari 3 regu putra dan 6 regu putri. Terdiri dari 4 pangkalan. Walaupun sedikit, acara tetap berjalan.
  
Usai daftar ulang, peserta digiring ke pos berikutnya, yaitu pos cek perlengkapan. Di sana, semua peserta memperlihatkan kebolehannya untuk mengatur susunan barang yang lumayan banyak dan total beban yang tidak ringan. Setelah memanage barang, mereka menentukan letak kapling mereka dan segera mendirikan tenda.
 
Upacara pembukaan yang dipimpin oleh kak Bud, berlangsung tertib. Tim juri lapangan yang betugas pun melaksanakan tugasnya dengan baik. Setelah upacara, peserta diberi waktu untuk berganti pakaian lapangan dan mengikuti halang rintang. Permainan di HR beberapa diambil dari permainan saat ujian perkemahan 2008. Tentu saja permainannya seru dan mengocok perut.


lanjut . . .
Setelah itu peserta istirahat sejenak dan melakukan ibadah. Di sela-sela waktu istirahat, mereka membuat berbagai macam masakan untuk diserahkan ke panitia dan dinilai. Makanan berbahan dasar tempe ini sangat kreatif. Mulai dari sate tempe sampai ‘perkedel’ tempe. Ketika waktu istirahat berakhir, peserta kembali dikumpulkan dan dimulailah musyawarah regu. Materi dibagikan oleh Rasita. Beberapa saat kemudian peserta langsung sibuk memikirkan langkah apa yang diambil untuk menyelesaikan permasalah tersebut.
WAKTU HABIS
Peserta pun mengumpulkan notulennya masing-masing.
Dilanjutkan [lagi...] dengan KIM . . atau wolf hunter.
di sini, peserta berusaha untuk mendapatkan tertai / lambang padmanaba sebanyak mungkin selama beberapa saat. Setelah diberi perpanjangan waktu, ternyata peserta hanya mampu mengumpulkan teratai tersebut sejumlah 8 buah yang paling banyak. .
dan doorprize untuk mereka [masing-masing 1putri dan 1putra] adalah berkeliling SMA 3 dalam keadaan gelap gulita. dengan penerangan seadanya dan beberapa sandi yang agak susah dibaca, mereka mencari arah ke mana mereka harus pergi . . .
Akhirnya mereka mendapatkan 1 buah majalah Progresif sebagai rewardnya . Selamat yawZ… !
setelah itu ada pentas seni. Setiap pangkalan menampilkan 1buah kesenian. terserah mereka menampilkan apa asal menarik.
setelah itu, peserta dapat istirahat . ..
Paginya, wew . .!
Olahraga PAGI . . .! dengan iringan musik2 yang ceria dan membangun semangat, kita adu kreatifitas peserta. Ada yang over, ada juga yang cuma diam, tingak-tinguk gag jelas .. ..
well, itulah lomba . .
kegiatan pagi itu diisi oleh kegiatan petualangan. di mana peserta berjalan dari SMA 3 sampai Kebun Binatang Gembira Loka . . CApek sih kata mereka . . )
Di area bonbin, mereka mencari 11 pos dan myelesaikan semuanya untuk mendapatkan nilai maksimal. mereka diberi ‘bekal’ berupa peta buta kebun binatang gembira loka. panitia tersedia hampir di setiap kandang hewan yang ada . . . Lomba sekalian wisata nih . . .
Akhirnya upacara penutupan pun dimulai. dengan pembina Pak Bashori, semua berjalan khidmat. Peserta yang menjadi juara pun terlihat puas atas segala hasil jerih payah mereka . . .
WEW, ! selamat guys . !
Speeding on the road in a heavy rain
This damn freeze rushing to my veins
My sense say
I’m giving in today
My spirit say
It can’t block my way
This chill is nothing
Warmth of your smile is everything
This shiver is nothing
Peace of your words is everything
This pain is nothing
Joy of your touch is everything
No matter how freeze it may
I just keep on my way
Till you’re the one I can see
My heart, so beautiful you to be
Speeding on the road in a heavy rain
This damn freeze rushing to my veins
I don’t care coz you’ll ease my pain
Melaju di jalan lengang
Dingin mencekam merasuk tulang
Inderaku berkata
Aku tak mampu melalui
Semangatku berkata
Tiada aral mampu menghalangi
Dingin ini tak berarti
Dibanding hangat senyummu
Gigil ini tak berarti
Dibanding damai kata-katamu
Derita ini tak berarti
Dibanding nyaman sentuhanmu
Sedingin apapun jalanku
Tetap ku terus melaju
Hingga kita berjumpa
Pujaan hati indah jiwa dan rupa
Melaju di jalan lengang
Dingin mencekam merasuk tulang
Tak pedulikan hingga kau kujelang
PENDOBRAK YANG TERDOBRAK ?!?
HARI PERTAMA
Pada tangggal 26 Desember 2006, “Idol” mengikuti suatu event yaitu Pengembaraan Desember Tradisional. Nah, pas itu rute perjalannanya rute perang gerilyanya Jenderal Sudirman.Waktu itu aku satu sangga sama: randy, tacho, gigin, bintang, cupank, wachid, iyus.Kita start p’jalanan dari museum sasmitaloka.
Awalnya sih kita mempunyai motto : ” Apa kamu mau didobrak juga??” tapi akhirnya setelah melalui p’jalanan nan melelahkan, dengan bijaksana, kami mengganti motto kami,yaitu: “Pendobrak yang terdobrak!!”. Hehe,, habisnya mau jalan di belakang komja tapi kesusul sama sangga lain,,jadi terdobrak deh sangga kita.
Tapi selama perjalanan itu,kita juga ngalamin kjadian2 yg kocak,Di hari pertama aja ya “idol” udah dapet “azab”.Jadi di hari pertama itu ada rute yang namanya tanjakan setan. Kenapa namanya tanjakan setan? Coz tanjakannya ngeri bgt. Udah jalannya panjang, sudut elevasinya yo medeni bocah.
Sebelum “idol” lewat situ..”idol” kena anyang2en. Namanya jg dehidrasi. Padahal jalannya udah mo nanjak. Boro2 jalan nanjak orang bwt berdiri tegak aja g bisa. “idol”. Jadi perasaan mo pipis tp pasti cm kluar dikit/malah g kluar sm skali?? Menurut Kitab pararaton yg “idol” baca, cara nyembuhin anyang2en tuh jempol kaki dililit sama karet. Dulu “idol” prnh nyoba resep ini dan t’nyata manjur jack …Akhirya cara itu pun q coba. Ga berapa lama kaki “idol” bengkak and biru2 gitu..(ya iyalah secara peredaran darah ga lancar!!) Akhirnya tu karet(yang di kaki lho..=) ”idol” copot. Dengan tertatih “idol” berjalan membungkuk..Eh ga taunya pas di jalan setan itu hujan turun dengan derasnya, sederas jeritan di hati(halah,,).
Oh ya jd di medan itu, satu persatu anggota sangga pendobrak udah g kuat&g bisa nerusin perjalanan.klo g salah pas itu yang jalan tinggal 3 ato 4 org gitu..Akhirnya “si otong” tidak kuat berjalan lg. Aq pun menyerah dan menunggu bantuan datang..Pas itu aq istirahat di pinggir jurang. Di situ g ada penerangan sama sekali and udah malam. Nah pas disitu gw liat ada orang tidur trus sluruh badannya ditutupin mantel,,Pertama kali liat gw kira tu orang udah mati abiz g gerak blas.Trus klo misalnya tidur,,gw takut tu orang ngelindur and tidurnya bergerak-gerak trus jatuh di jurang.Heh ga taunya pas lg nunggu anyang2en gw ilang + nunggu bantuan tiba2 dari belakang ada yg nyolek.Dia bilang,”Mo minum res?” Gw teriak,,,trus gw liat tu orang…ternyata dia orang yg tidur di pinggir jurang and..OH MY GOD…She is my junior high school friend!!!! Trus gw ngomong,”Busyet msh hidup loe?Punya nyawa brp sih loe?” Dia nyamber,”kurang ajar!! Lo mau ga minumannya, kyknya badan loe kurus kering and butuh minum..”
Hueh,,kurang ajar jg tu bocah,,kn emang badan gue kurus dari sononya. Tp brhubung gw haus, ya gue ambil aja tu minumannya dia.Ternyata isinya teh.Udah kecampur2 lumpur dikit hoeks….Ga higienis bgt!! Apa kata dunia klo seorang “idol” minum kyk gitu,,,Untung disitu ga ada paparazzi! Sambil melihat sekeliling klo2 ada wartawan infoteinment lewat “idol” pun minum.,Dan ternyata bantuan baru datang 2-3 jam kmdn…sial tau gitu td gue jalan aja,pasti klo jalan daru tadi udah nyampe.
HARI KEDUA
Di hari kedua ini,tipe rute perjalanannya sama kyk hari pertama,byk tanjakan..Nah jd di hari ini gw and sangga gw ngerasa kyk kesasar. Abiz klo kita liat peta p’jalanan mestinya kita udah nyampe di suatu pos. Tapi kenyatannya kita g nyampe2 jack!! Mana disitu ga keliatan peserta PDT lainnya lg..Akhirya setelah berjalan sedikit kita menemui penduduk sekitar.Kita nanya letak posnya.Kali aja dia tau.Berikut cuplikan tanaya jawab antara kita dan seorang ibu warga sekitar yang ajaib(lho?!?) :
Kita : Bu,tau tempat ini ga?(sambil nunjukkin peta)
Ibu : O..pos kalian tu di menara metro tv..(mukanya kyknya menyakinkan bgt)
Kita :Masih jauh bu posnya? (Dengan muka rada2 berharap)
Ibu : Oh,,enggak.Cm sekitar 300meteran lagi lah (Sambil menunjuk jalan yg menanjak)
Kita : Wlah gitu to bu,,ya udah kami pergi dulu ya bu,,trima kasih banyak
Ibu :Inggih sami2
Dengan segera km pun memulai perjalanan lg,pas udah 300meteran kok sepi ga ada orang..emang sih di situ ada menara metro tv..Km mulai curiga klo km km dikibulin oleh itu ibu..Ternyata benar,,,posnya bknnya 300m tp 3km!!! Sizzal marugin tenan..tu ibu bisa bc peta ga sih?? Orang Dora aja bisa bc peta,,hehehe
Singkat ceritakita2 udah sampe basecamp, disana kita lgsg disambut sma cwk b’jilbab and bermuka jutek. Pokoknya klo kita liat tu muka persis deh sama yg meranin saudara tiri di sinetron2…Kita kirain si -cewekberwajahsepertisaudaratiriyangjahatdisinetron- itu bkl sangar..eh ga taunya suaranya cempreng………udah gitu dodol pula…Pokoknya klo kita tanyain g prnh nyambung lah…Busyet kita2 sampe kbw emosi klo ngomong sm si -cewekberwajahsepertisaudaratirijahatdisinetron- hbs pasti ujung2nya ga nyambung!!
HARI KETIGA & KEEMPAT
Tungguin aja di cerita dodol dari “idol” berikutny,,,,
–Resa “idol”–
The First 3D Advertising Di suatu pagi di bulan Oktober 2005 pukul 6 pagi, di lapangan tengah SMAN 3 Yogyakarta terdengar suara benturan batu dengan besi. Agak aneh memang, di pagi hari, yang biasa terdengar adalah suara sapu cleaning service yang ‘beradu’ dengan kerasnya paving lapangan tengah menggiring daun-daun kering yang berjatuhan dari pohon karetan. Ternyata suara benturan itu adalah suara Alfi(Pad’s 60) dan Danu(Pad’s 62) yang sedang memukul-mukul pathok di lapangan tengah, tapi yang mereka pathok bukan tenda melainkan sepeda ‘onta’ tua yang dinaiki ‘seseorang’ yang mengenakan sebuah kaos lusuh dan helm ciduk abu-abu. Ya! Itulah publikasi 3 dimensi pertama yang pernah dibuat oleh Ambalan. Ide pembuatan iklan atau publikasi 3 dimensi ini berawal dari krisis ide pembuatan publikasi acara Pelantikan Calon Penegak (PCT) yang rencananya waktu itu akan diadakan di Pantai Ngobaran. Beranjak dari situ, 2 hari sebelumnya, 4 orang ‘pembesar’ Ambalan yang terdiri dari Itx (Pad’s 55), Ochiemin(Pad’s 59), HDA(Pad’s 59), dan Rmd(Pad’s 58) melihat sebuah festival iklan yang ternyata semua iklan yang dipamerkan dalam festival itu mengandung master ide yang sama yaitu, iklan harus mencolok, menarik orang agar setidak-tidaknya melihat secara sekilas dan selanjutnya bertanya, “Iklan apa sih ini?”. Master ide itu terealisasi dalam iklan-iklan spektakuler yang dipamerkan dalam festival iklan tersebut dan sebagian besar iklan yang dipamerkan ternyata berwujud 3 dimensi. Dari kenyataan tersebut, kemudian 4 orang tadi memutar otak untuk menentukan iklan apa yang dapat dibuat dengan biaya seminimal mungkin tapi bisa berwujud 3 dimensi serta sudah mewakili kriteria pada master ide. Setelah lama berpikir, akhirnya mereka pun menemukan sebuah ide brilian untuk membuat sebuah iklan dengan menggunakan sepeda ‘onta’ tua peninggalan kakek Danu yang dititipkan di Sanggar Ambalan sebagai media utama. Malam itu juga 4 orang tadi segera bergerak untuk membuat iklan 3 dimensi untuk publikasi PCT Ngobaran. Namun, karena Rmd dan HDA waktu itu tidak bisa ikut, mereka pun digantikan Danu dengan pertimbangan karena dia adalah pemilik sepeda ‘onta’ tua yang dititipkan di sanggar Ambalan. Pembuatan iklan dilakukan di sanggar Ambalan. Mendengar ide gila yang cukup ngosak-asik ini, Alfi pun ikut campur tangan. Setelah diadakan pembagian tugas dan sholat Isya’, mereka pun mulai bekerja dengan riang gembira. Canda tawa mengusik sunyi dan gelapnya sudut selatan SMA 3 Jogja. Mereka keluarkan semua barang-barang sanggar yang tersisa. Dari kain lusuh hingga kendi yang meninggalkan debu di tangan jika disentuh. Dari tongkat pramuka hingga helm ciduk yang ditinggal pemiliknya. 4 orang bekerja bersama bahu-membahu hanya berharap satu yaitu, persaudaraan bakti Ambalan dapat diwujudkan kembali. Tak diduga ternyata jarum jam telah membentuk sudut lancip dengan kaki pendek pada angka 10 dan kaki panjang pada angka 12. Mereka pun segera mengakhiri pembuatan proyek iklan 3 dimensi itu dengan hasil akhir 2 macam produk, yaitu sebuah sepeda ‘onta’ tua yang dinaiki orang-orangan berpakaian kaos lusuh dan memakai helm ciduk abu-abu serta pada stang sepeda digantung kendi pada bagian kiri dan sebuah perangkat gamelan lengkap dengan pemukulnya pada bagian kanan. Sedangkan produk yang lain adalah sebuah jas praktikum yang rencananya pada hari berikutnya akan digantung di depan ruang UKS. Pada sekujur tubuh kedua produk itu ditempel tulisan “Pantai Ngobaran Pantai Pasir Putih”. Kedua produk itu pun akhirnya dipajang oleh 2 orang yang diceritakan di awal tadi. Lalu, tentang pasir putih? Atau tentang Ngobaran? Baca saja PCT Ngobaran (2) yang akan segera terbit(&’s-11037-^^!) (Danu)
“Merayapi Karang Terjal Gunung Kidul”
Kapyuk..!!! Astaghfirullah.. Seakan air bah datang tiba-tiba tatkala saya sedang asik merayapi dinding karang terjal di pinggir pantai Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Sekujur badan basah kuyup..
Susur pantai adalah kegiatan outdoor yang jarang sekali dilakukan Ambalan Yos Sudarso-Kartini. Namun kali ini, BPH 60 mengisi masa akhir kepengurusan mereka dengan mengadakan susur pantai dari Siung hingga Wedi Ombo.
Wuah..pasti menantang sekali !! dan memang benar terbukti. Rute sejauh … km dilewati penuh dengan tantangan. Terjalnya karang, naik turun medan, hingga deburan ombak yang mulai pasang membuat perjalanan kali ini terasa sangat mengezutkan..
Diawali dengan berjalan kaki menaik-turuni bukit kapur yang panas, sore itu kami memulai perjalanan menuju suatu pantai yang dijanjikan panitia sangat indah.. beberapa pos kami singgahi dengan alasan pengerjaan soal perjalanan. Yang jelas, berteduh dari rasa panas tentu hal yang wajib dilakukan. Soalnya, daerah Gunung Kidul yang memang terkenal dengan cadas kapurnya itu benar-benar membuat jidat kami mengernyit, panaz..
Ya jelas peserta nggak bodoh. Berbagai perlengkapan ‘pendingin’ pun dipakai. Ada yang pake sleyer diikat di kepala jadi kaya ‘gadis penjual korek api’, ada yang pake topi pengembara ala Riyanni Djangkaru, sampe ada yang bawa paying guedhe bwanget.. ya lumayanlah.. bisa buat bareng-bareng.. kita kan harus setia kawin.. ups!
Meski panas nggak ketulungan, pemandangan puluhan bukit kapur membentang dihadapan kami secara bertubi-tubi. Argh.. ini yang namanya dunia!! Gila.. indah betul patahan-patahan batuan kapur yang tak sengaja nongol di antara bebukitan. Sebenarnya, tidak sulit kok mendapatkan pemandangan seperti ini, karena jalanan pun sudah diaspal. Selain memudahkan para warga, saya curiga, hal ini sengaja lebih ditujukan untuk menunjang aspek pariwisata di derah pesisir pantai GunKid itu sendiri.
Hawa segar plus bau anyir lautan sudah terasa begitu kental ketika tiba-tiba muncul di hadapan kami bentangan air laut biru yang membentuk cakrawala. Langsung kami berceburan di bibir pantai yang sedang surut itu. Memang, air laut pasang hanya pada saat tengah malam ataupun tengah hari. Mengapa? Ya karena tertarik gravitasi mahatari di kala siang, dan bulan di saat malam.
(pantai siung kaya apa?)
Malam hari ketika langit sudah benar-benar tertutup hitam, bintang-bintang bertaburan di atasnya. Tak berbatas jumlah.. takhenti berkedip, tak henti menyihir kami untuk tetap menatapnya. Panitia pun dengan cerdik memanfaatkan momen. Muhtar, Ambalan 59, diminta menjadi pemateri “navigasi bintang” malam ini. Secarik kertas bergambarkan peta formasi bintang pun dibagikan kepada para peserta. Banyak yang kesulitan melihat gugus bintang mana yang cocok dengan gambar. Itox, Ambalan 55, dengan sigap membimbing dari belakang. Sepertinya, dia tau betul letak formasi bintang mana saja yang ada dalam peta itu. Termasuk kapan gugus bintang itu muncul. Karena, tidak semua gugus bintang ada sepanjang tahun. Ursa Mayor, ursa minor, casiopea, canopus, …
Lapar? Tentu saja. Untungnya, ada satu rumah (atau tepanya gubuk ya?) di dekat camp kami. Awalnya, kami sangsi. Pintunya tertutup. Ternyata, hawa dingin lah penyebabnya. Di dalamnya, api dari lampu teplok menghangatkan serta menerangi ruangan yang hanya berkisar 3×2 meter itu. Mie rebus pus tes hangat adalah santapan terlezat di sana. Nyam.. nggak jadi masuk angin deh kalau sudah kenyang begini.. J
Huahm.. malam semakin larut. Kami pun bergegas menuju tenda yang sudah didirikan di antara bebatuan besar hitam di atas karang di samping kanan pantai. Beneran… batunya beneran guedhe-guedhe bwanget… jadi berasa kaya di jaman batu gitu.. kanan, kiri, depan, belakang.. batuan hitam sangat besar melindungi kami dari dinginnya angin pantai malam ini.
Wah, sayang sekali. Tenda dome yang ada tidak dapat memuat seluruh peserta. Akhirnya saya dan beberapa teman (Ipeh, manyol, TJ, Sunar, Westhi, dan.. ada yang kurang?) memilih mendekati api unggun. Zz.. tidurlah kami di sana. Beratap langit.. beralas bumi.. (sebenernya sih lebih tepat beralas matras!)
Malam itu, sebenarnya saya tidak dapat langsung memejamkan mata. Saya terbaring dengan mata yang terus memandang ke angkasa. Melihat keelokan ciptaan Yang Kuasa.. terus berkerlip, indah J terdengar pula beberapa celoteh teman, yang kudeteksi sebagai suara mas Itox, Manyol, dan mas Yoyok. Yah, sedikit banyak kumengerti. Kuremahi, kukunyah.. lucu juga. Sesekali kutimpali perbincangan mereka ke Ipeh. Setengah hidup pula dia menjawabnya. Maklum.. perjalanan kami tadi sangatlah panjang..
Pagi kuawali dengan menggososk gigi dengan air aqua. Di atas (karang) nggak ada air tuh. Ah, ini hanya awalan saja ketikak sekitar jam 8 pagi kami memulai penjelajahan sebenarnya. Bukitan karang tepat di bibir pantai adalah sasaran susuran kami. Dengan menggendong ransel perbekalan, kami perlahan merayapi batuan karang yang bertengger tegak di tepi lautan. Pemandangan elok nan indah terhampar jauh hingga batasan cakrawala. Uh.. sungguh menakjubkan!!!
Beberapa bentuk karang yang tampak aneh tiba-tiba menjadi studio mini bagi para peserta yang memang narsis. Di tengah berjalan, tiba-tiba kami menemukan batu karang yang berbentuk seperti lesung (tempat menumbuk padi) yang terisi air laut. Langsung saja, nyes… kaki yang tadinya pegel menapaki terjalnya batuan karang, langsung dicelupkan ke dalam ‘lesung’ tadi yang dingin. Hm.. sembari duduk di pinggiran batunya, saya nikmati kayanya guratan alur pada dinding batu karang itu. Uh.. sungguh tiada tara..
Hari pun semakin siang ketika tiba-tiba ombak besar menerpa kami. Wuah.. sudah hampir pukul 12. pantas saja, laut kan sedang pasang. Kalau saja saya tidak dipegangi oleh seorang teman, pastilah saya sudah jatuh di karang-karang di bawah sana. Naudzubillah.. pegangan yang saya rasa sudah cukup kuat ternyata tidak mampu menahan hempasan ombak yang lumayan kecil. Untunglah.. meski ransel basah kuyub, henfon dan camdig mas juan nggak kenapa-napa. Setelah itu, mas Itox terlihat mengenakan jubah (mantol sih..) ala batman untuk melindungi dirinya. Huah.. padahal saya saja sudah teranjur basah kuyub begini.
Segala haling rintang kembali mewarnai perjalanan kami setelah itu. Harus merayap karena berpasirlah.. harus melompat karena tinggilah.. bahkan menelusup di antara bebatuan, kami jalani. Akhirnya, sampailah pada tanjakan terakhir yang berupa kerikil dan pasir terasa sangat berat dilalui. Baju yang berat karena basah, dan tenaga yang sudah habis terkuras di ‘medan laga’, membuat nafas kami semakin ngos-ngosan.. tapi amazingnya, setelah tanjakan itu, langsung kami dapati hamparan pantai megah dan luas berpasir putih… pantai Wedi Ombo!!!! Dan sampailah kami pada saat yang berbahagia, sentausa, mengantarkan rakyat Indonesia.. wealah, malah preambule UUD 45! Intinya.. nikmat tak terkira ketika kami tiba di sana. Beberapa kawan sudah terlihat bercebura di sana. Beberapa memasak mie untuk dimakan bersama.. beberapa terlihat tiduran dengan kaca mata hitamnya (biar berasa turis gicu..). saya sih malah tertarik dengan ikan parang cucut yang digantung di pojok warung makan tak jauh dari bibir pantai. Wuh.. jadi inget cerita si Lumba-lumba punya adek saya…
-ratih-
Sepanjang Jalan Kenangan
Jogja-Ambarawa
(hari 1-2)
“ Ayo, gari sak plintengan neh!” Kalimat ini menjadi sebuah jimat yang membekas kala PDT tahun 2003. PDT kali ini mengambil rute Jogja-Ambarawa. Rute yang cukup membuat shock tetapi juga special. Kenapa bisa? Karena banyak kisah yang hingga kini masih begitu sayang untuk dibuang.
Sanggaku paling sangga!
Perjalanan kami dimulai dari sekolah tercinta Padamanaba. Aku tergabung dengan tim yang alhamdulillah geblek-geblek, heheh. Pos pemberangkatan berada di SMU 9, di Sagan. Jika regu yang lainnya (pendrobak, penegas, pelaksana) memilih untuk jalan kaki (galakkan anti Global Warming), sangga kami tetap yang paling praktis dan cerdas, yaitu naik bis jalur 2, haha. Secara yang menjadi pinsa adalah Christina Trijayanti alias mba’TJ, sangga kami mengusung tema praktis dan nyaman. Contoh konkritnya adalah: 1. Tidak pernah tidur di tenda (kecuali 1 malam kelabu). 2. Tidak pernah memasak (secara selalu jajan;D). 3. Selalu santai. 4. Tetapi tetap menang, ahahha! Totally, menyenangkan sekali bergabung dengan sangga ini. Kita memang jarang ada di barisan terdepan. Tapi itulah enaknya! Kembali kepada tema praktis dan nyaman, kami sering mendapat contekan jawaban dari pendobrak dan xx di pos-pos yang kebetulan mereka duluan. Hehe..sst jangan cerita-cerita ya ;p.
Mendadak Merampok Rumah
Hari ke-1. SMU9-Jl.Palagan-Jl.Magelang-Lapangan Jumoyo.
Mungkin sial mungkin gembira. Tentunya sudah pada tahu bahwa rumah salah satu anggota ambalan yang kebetulan berada dalam jangkauan rute PDT belum tentu selamat. Kenapa begitu? Karena akan dibuktikan dengan cerita berikut.
Yak! Tepat dugaan anda! Rumah saya merupakan tumbal tahun ini. Rumah saya berada di Jalan Magelang, otomatis dilewati oleh serombongan peserta PDT yang entah bagaimana bentuknya! Saat itu, hari semakin menjelang petang. Kaki kelelahan. Ada yang sudah mulai kapalan. Perut pun keroncongan. Pos entah pos berapa terletak di daerah Tempel, sungguh dekat dengan rumah saya. Seketika, tercetus ide untuk mampir ke rumah saya untuk sekedar menjamah makanan, dan menumpang ibadah. Sekonyong-konyong saya menelepon ibu saya, menodong makanan untuk orang sekitar 20 dalam waktu 1 jam.
Alhasil sampailah semuanya di rumah saya. Yang saya ingat menu malam itu hanyalah mie rebus, tahu, dan sebagian lagi saya lupa. Walau begitu saya menghargai usaha ibu saya yang sampai meminjam ricecooker tetangga karena takut nasinya kurang. Intinya adalah, malam itu kami menggemparkan orang rumah saya sekaligus tetangga saya.
Sekedar tambahan, setelah sampai di basecamp, sangga pelaksana protes pada kami karena tidak diajak mampir rumah saya. Alasan kami adalah demi prestasi pangkalan kita!!heheh..Secara sangga pelaksana dapat bendera etape hari pertama.
Operasi Kapal
Hari ke-2. Lpangan Jumoyo-Lapangan Candimulyo.
Gawat!Gawat!Gawat! PDT memang mengajarkan banyak hal. Dari yang tidak tahu menjadi tahu. PDT juga menimbulkan bayak efek samping. Dari efek kaki kapalan, lelah luar biasa, hitam, sampai kurus ;p.Kali ini adalah kasus kapalan. Saya jadi tahu sakitnya merasakan kapalan di kaki. Kejadian na’as ini terjadi pada hari ke-2. Sebenarnya banyak juga sih korban kapalan dari pangkalan kami. Oknumnya adalah Nica( Jin Poker), Chesa, Dila (alias saya, hehe), dan mungkin masih banyak lagi yang merahasiakan penyakit berbahaya ini, eheh. Cerita ini sedikit memalukan sih. Saya sempat diangkut ambulan sambil menangis karena kasus kapalan ini. La, sakit banget sih. Sampai di pos berapa entah lupa, Tim SBH (Saka Bhakti Husada—Red.) mengancam bahwa saya harus dioperasi, alias ‘kapal’ saya itu harus digunting, disobek-sobek, berdarah-darah, dan diplester. Weeeeer..saya langsung nangis deh, tidak rela telapak kaki saya amburadul, hehehe. Agak malu juga tapi apa boleh buat. Padahal sebenarnya kapalan saya juga tidak seberapa jika dibandingkan dengan milik Chesa atau Mba Nica. Kalau Chesa, malah berasa pakai sepatu kali, saking banyaknya. Mungkin diya koleksi. Dan asal tahu saja bahwa Chesa ini dijuluki dengan lemari berjalan. Gimana tidak? Carier yang dipakainya sebesar kulkas, sumpah. Pantas saja kapalan seluruh permukaan kaki. Untung tidak di mukanya yang ganteng, haha.
Keadaan sebaliknya dialami oleh peserta sangga pelaksana bernama Tika alias Cepi. Diya ini sangat membanggakan ramuan mujarobnya, ramuan anti kapal. Ramuan yang terdiri dari bawang merah goring dan minyak secukupnya ini sebenarnya sudah ditawarkan sejak hari pertama. Tapi, secara saya gengsi ya gimana..tangis dan malu ditanggung….saya sendiri, hehehe.
Malam hari ke-2 diisi dengan bersantai dan presentasi (opo kae sik cepi?) yang dilakoni oleh Tika, dll. Semua menyemangati!
(hari 3)
Harus dapat Etape!
Hari ke-3 PDT. SD Kalipucang-SD Bedono.
Hari pertama, sangga palaksana dapat bendera etape, yaitu bendera bagi siapa yang pertama kali menginjakkan kaki di basecamp. Entah kenapa, kami sebagai sangga perintis yang praktis dan nyaman merasa kebakaran. Kami juga pengen lah yauuw dapat bendera etape. Akhirnya hari itu kami bertekad harus dan wajib ain hukumnya untuk dapat bendera etape.
Untuk mencapai ini semua perlu perjuangan yang tidak ringan alias berat. Hari kedua diwarnai dengan guyuran hujan sepoi-sepoi (sepoi??—Red.). Saya masih ingat ketika saya memakai ponco, berjalan sendiri, lewat terminal, lewat pasar, waduuuh kalo sekarang mah maluuu banget! Tapi..demi Etape!!
Kami selalu dibayang-bayangi oleh ‘bayangan merah’, secara waktu itu sangga pelaksana berseragam merah, hehe. Setiap melihat sekelebatan merah, hayuuk! Tambah digenjot tambah aye!!
Perjuangan panjang tidak sia-sia hari itu, kami berhasil menjadi sangga pertama putri yang sampai di basecamp. Saya sampai terlihat kurus kering waktu itu (apa iya??—Red.). Masih ingat jelas, basecamp hari kedua adalah SD Kali Pucang! Nama yang cukup membuat dahi berkerut. Wow! Bletok-bletok oye! Di sinilah kesialan mulai menerpa. Dari jatuh kepleset dan numplek di depan umum, sampai merasakan tidur di lautan. Di sini pula terjadi kebodohan yang wagu. Misalnya, kejadian sore itu..para supplier datang. Mereka menawarkan mie ayam pada kami. Dan yang bikin ngenes adalah makan cara baru! Memakan mie ayam dengan sumpit yang berbahan baku bolpen! Tentu saja karena tidak ada sendok. Terobosan ini dicetuskan oleh Sidiq.
Malam itu kegiatannya adalah menonton film. Saya sih tidak konsen ke filmnya, konsen ke pesertanya, hahah! Secara film yang diputar agak tidak bermutu, tentang survive gitu sih, tapi gimana gitu deh, hehe. Justru acara nonton film ini disalahgunakan oleh sebagian oknum pangkalan kami untuk saling PDKT (pendekatan kalee..—Red.), haha. Sebut saja inisial RMD yang memberi cokelat batang kepada inisial INDH dengan menggunakan jasa YYK, hahaha, seru sekali.
Setelah puas dengan ajang PDKT (baca: nonton film bareng), sangga kami seperti biasa mencari mushola untuk tidur atau apapun yang beratap (secara kami anti tidur di tenda, hehe). Sayang seribu sayang, mushola tak ada.. (ada, tapi ga oleh ditiduri kata Bayu/Panitia PDT—Red.) di aula pun diusir panitia. Dengan sangat terpaksa, kami tidur di tenda.
Malam makin larut, nyamuk makin napsu, tiba-tiba saya merasakan sentuhan-sentuhan basah di dasar alas tidur saya. Yak! Bagus sekali! Ternyata tenda kami kebanjiran! Karena kami cerdas dan siap tanggap, kami segera mengevakuasi diri ke emperan kelas dan meniduri lantai apapun yang dikira muat dan kosong.
Paginya adalah kebanggaan bagi perintis. Penobatan eh penyematan bendera etape! Hore-hore berhadiah! Saya loo yang maju dan salah satu wakil sangga pendobrak berinisial RY. Salah satu yang sangat senang dengan perampasan bendera etape ini adalah mba NIca, nama bekennya sih jin poker, hehehe. Diya nih aye banget deh dengan style perjalanannya. Tongkat di tangan kanan, payung di tangan kiri, muka menerawang tanpa harapan, sosok seperti bayangan. Dapat dipastikan bahwa dialah mbak Nica, hehehe. Tapi begitu dapat bendera etape, wedeee semangatnya..tapi tetap dengan style yang sama.
Menyuap Komja dengan Mie Ayam
Naga-naganya, makanan berjenis mie ayam memang cukup popular di kalangan PDT lovers!Heheh.Pernyataan ini terbukti dengan kejadian berikut ini. Oiya, kalau untuk minuman yang ngetop waktu itu pepsi blue ;p (ga boleh ngiklan gretongan say..haruse bayar tuh!—Red.).
Waktu itu hari kedua, sangga pendobrak sangat eksis dengan berjalan tepat di belakang Komja (komandan perjalanan—Red.). Hujan mulai menerpa. Eh tidak dinyana, para Komja merasa kehujanan, ya iyalah orang udah dibilang ujan juga. Jadi, si Komja-komja itu merasa perlu berteduh alias berhenti, mungkin takut warna kulitnya luntur. Waa..sangga pendobrak panik ini. Kalau Komjanya berhenti, nanti sangga-sangga lain bakalan keburu nyusul dan kemungkinan bersaing makin besar lagi. Waktu itu, saingan terberat adalah sangga dari SMA 1. Segala daya upaya dilakukan oleh para pendobrak. Oknum waktu itu adalah Riyo, Eqi, Wijaya, Alfi, Dibob, Cesa, Taruna. Rayuan-rayuan maut untuk membujuk komja agar tetap jalan segera diluncurkan. Secara mereka orang-orang terlatih. Heheh. Materi pun dikorbankan. Mereka rela menyuap Komja dengan menjanjikan Mie ayam yang kemepul agar Komja tetap mau jalan. Tidak hanya itu, mereka juga meminjamkan ponco atau manthel mereka untuk para Komja itu. Bak pahlawan, Pendobrak mengarungi sisa rute hari kedua dengan menerjang hujan. Perjuangan yang mengharukan bukan? heheheh.
Kasus Pecurian
Berbagai macam kisah, cerita, suka, duka terjadi di sini. Sampai kasus pencurian pun tersedia (jreng-jreng..sontrek menyerupai backsound sinetron pas adegan tegang).
Oknum tersangka di sini adalah peserta dari sangga pendobrak berinisial DB (bukan demam berdarah). Obyek yang dimaling adalah TAHU. Hehehe, karena tidak tahan godaan, DB akirnya bertindak nekat dnegan menggondol tahu persediaan panitia di basecamp hari ke-3. Kejadian ini cukup membuat heboh teman-temannya karena DB dikenal dengan pribadi yang soleh, rajin ibadah dan rajin ceramah.
(hari 4-5)
Perang Bubat
HAri ke-4..
Seingat saya, hari ke-4 adalah hari yang beraaat sekali. Waktu itu saya sudah teler dan tidak sanggup membawa ransel saya. Alhasil, carier saya hari itu dibawakan oleh para penyelamat bumi dari sangga penegas, Sunar dan mas Yoyok, thanx a lot beby;), heheh. Dengan jalan yang lunglai lemah tak bergairah dan mengenakan kaos putih PPLB 2003 sampailah saya beserta keluarga perintis di stasiun Bedono. Wah..wah..mulai dari sini, entah kenapa semangat saya jadi berlipat ganda. Kami (perintis) bertemu dengan sangga-sangga lain yang sepangkalan;). Lalu, kami meneruskan perjalanan bersama-sama ke basecamp sambil menyanyikan Mars Padmanaba. Waduuh..senangnya saat itu. Secara kami memang artisnya PDT, ehehehh.
Hujan kembali mengguyur daerah xx sore itu. Kami lalu mengevakuasi diri (lagi-lagi) ke SD sebelah lapangan. Tenda-tenda dibongkar lagi karena hujannya sangat lebat sekali. Tapi, di sinilah peristiwa-peristiwa romantis terjadi, hahaha. Secara kan hujan bikin romantis..(maksa ya?). Oiya, jangan sampai lupa, di basecamp ini kami menemukan tempat favorit baru yaitu POM BENSIN. Heheh. POM BENSIN ini terletak tidak jauh dari basecamp. Fasilitasnya lengkaaap banget! Dari Mini market, kamar mandi, mushola, full musik pula! Duh, aji gile deh! Kami betah banget lama-lama kongkow di sini sore itu.
Malam hari ke-4 ini merupakan malam yang sangat spesial. FKR (Festival Kesenian Rakyat—Red.) akan digelar malam itu. Saya berperan sebagai Dyah Pitaloka di pentas drama yang berjudul Perat Bubat. FKR dari pangkalan kami kali ini menceritakan tentang perang Bubat antara kerajaan Pajajaran dan Majapahit (kalo gak salah hehe). Wah, FKR ini ayye banget deh. Sutradaranya adalah Mba Puspa. Kami sudah berlatih jauh-jauh hari. Kostum dan make-up pun telah disiapkan oleh para supplier yang selalu setia. Adegan Capoeira dari Mas Una dan Jabar sangat menarik perhatian. Totally, pentas ini sukses berat. Kami mendapatkan juara 1. Duuh..senangnya menang terus! Hahaha.
Kesimpulan dari hari ke-4 sih totally perfecto walaupun hujan mengguyur tanpa ampun. Banyak jajanan (dari mulai bakso sampai sate), fasilitas POM BENSIN cinta yang menyejukkan, dan suksusnya FKR.
Sepanjang Jalan Kenangan
Inilah momen terpenting selama lima hari PDT. Hari ke-5 atau bekennya sih hari terakhir. Kami punya tradisi tersendiri di setiap PDT hari terakhir. Kami, satu pangkalan akan sengaja jalan bersama-sama menikmati perjalanan dan tepat di depan penjaring alias belakang sendiri. Kami sudah tidak memikirkan etape, karena memang tidak ada, kami tidak memikirkan tugas dan sebagainya. Waah..enjoy banget deh.
Hari terakhir ini adalah harinya rel kereta. Hehe. Kami banyak melewati jalan rel kereta. Panasnya memang bukan main. Untungnya kami selalu sedia payung sebelum kebakaran. Heehe. Daan ternyata hari ke-5 kami punya agenda mampir ke rumah eyangnya mba westi (peserta sangga pelaksana). Kami mium-minum dan bercanda. Tampaknya penjaring mulai sebal dengan pemandangan ini. Hehe. Sampai-sampai kami berjalan di belakang penjaring..Wah..wah..rekor bukan??Heheh. Masuk MURI nih ;p.
Walaupun penuh keceriaan, tapi teryata menyisakan luka bagi sebagian kecil oknum (tepatnya saya sih, ahhaha). Pertamanya saya berjalan bareng Indah (sangga perintis), tetapi karena satu dan lain hal, kok akhirnya saya jalan sendiri ya? Hahah, puanas, tanpa payung pula. Si Indah itu malah sudah eksis dengan Wijaya, berpayung bersama. Selamat dan Sukses. Sementara saya harus menerima dengan qona’ah fenomena beberapa cinta lokasi di sepanjang jalan kenangan. Hahaha.
Okay! Setelah perjalanan pahit melihat penampakan, akhirnya bertemu juga dengan Museum Kereta Api Ambarawa. Waaahh..senangnya sudah sampai. Semua bergembira dan berkeringat. Rasanya puaas banget. Secara bersukur gitu udah sampai setelah nomaden selama 5 hari, juga menikmati pahitnya fenomena di depan mata. Hahaha. Setelah melewati tanjakan-tanjakan setan, melawan panas, menerjang badai, alhamdulillah, semuanya kembali berbinar setelah melihat stasiun itu.
Dari stasiun, kami berjalan bersama lagi menuju Museum Ambarawa yang terkenal itu dan berpulang ke Jogja dengan bis yang dikawal polisi. Kereen lo kami. Semua lampu merah diterjang. Hahaha.
Kembali lagi ke Jogja, kembali lagi ke balai kota. Selama pengumuman, kami kebanyakan bersorak sorai, secara banyak menangnya. Hahah, sombongnya. Dari FKR, fotografi, TTG, dll. Perintis pun memboyong juara 3 sangga pengembara. Hal ini sangat surprise juga sih, secara kami selalu menyikapi pengembaraan ini dengan sangat santai. Hahah.
Kami berkumpul dan seperti biasa, melakukan ritual. Mengelilingi piala-piala yang bejibun (cailah), kami Menyanyikan lagi Syukur, meneriakan Bhakti Vidya, dan Mars Padmanaba! Sunar sang Pradana sampai tidak tahan untuk menitikktan air mata saking senangnya. Ayye, PDT 32 tamat!
Begitu banyak kenangan yang masih membekas dari PDT 32. Mulai dari cerita lucu, pahit, mengahrukan, dan perjuangan. Secuil kisah tadi mungkin tidak cukup membawa kita kembali menikmati indahnya PDT bersama Ambalan Kartini-Yos Sudarso. Namun, semoga cukup untuk mengobati kangen kita pada tingkah aneh dan jiwa petualang yang mungkin memudar untuk sementara waktu .
Thx to: Semua actor dan aktris PDT 32 (Sunar, Yoyok, Putro, Jabar, Rohmad, Alfi, Riyo, Eky, Taruna, Wijaya, Cesa, Dibob, TJ, Dila, Indah, Nica, Nisa, Rossi, Ave, Ratih, Ninung, Tika, Westi, Jeane, Rani, Wono) Ambalan Kartini-Yos Suarso, Mbak Teje yang menemaniku menangis sepanjang jalan di hari ke-2, Sunar dan Mas Yoyok untuk membawakan tasku di hari ke-4, Wijaya penyelamatku selama PDT, Alfi yang selalu semangat! Indah tempat sampahku selama PDT, supplier, dan Riyo yang telah memberi warna di PDT 32, ahhaha!
Terimakasih semua. Bagi yang belum pernah mencicipi apa itu PDT, kaliyan rugi beribu-ribu kisah seru di dalamnya, heheheh.
Dila.
Nama beken pas SMA chubby.
Padz 61.
Pertemuan Para Pendekar
17-18 oktober 2007 @ Wisma Gadjah Mada, Kaliurang
Sore hari, ketika matahari mulai tersenyum-senyum hendak meninggalkan siang di Kaliurang, para ‘pendekar’ terlihat saling bercengkrama hangat….
Ya, para ‘pendekar’ bagi sebutan anggota ambalan yang mengikuti acara syawalan tahunan ini. Aroma keksatriaan sudah muncul ketika saya masuk kea real parker wisma. Dekorasi tameng dari kertas hias menggantung di beberapa titik bangunan yang bernuansa coklat itu. Ya.. syawalan kali ini, panitia (amb 61) mengambil judul “Nostalgia Padepokan”, yang berarti, seolah peserta syawalan akan memasuki dunia jadul untuk mengenang ambalan jaman dulu.
Tema ini tambah menguat ketika saya mendatangi front office untuk membayar tariff 10 ribu bagi mahasiswa (siswa : 5 ribu, kerja : 25 ribu), dan panitia memberi saya co card coklat (disainan Cita ya? Khas banget..) bekas jimah CUT 2007 kemarin, beserta sleyer batik sebagai souvenir. Unik!
Salsa, salah satu panitia, mengantar saya dan Ipeh (amb 60—sama seperti saya) ke kamar. Wuih… namanya bangunan lama, oks banget deh.. kayu-kayu.. jendela, kamar, tempat tidur, bahkan kamar mandinya..mm.. jadul banget..! seru! Sampai disini,panitia terbilang yahui dalam mengadakan syawalan 2007 ini.
Acara aslinya baru dimulai pada pukul 18:30. Petang itu kami dikumpulkan di aula wisma untuk saling berkenalan, dan skaligus salam-salaman (secara… ini kan syawalan!). dalam acara itu, Dildol n Anne kecil yang menjadi MC-nya kliatan gokil abis… gimana enggak? Kami disuruh salam “pa kabar padepokan?” (jawabnya “ sae!” sambil mengepalkan tangan ke depan seperti meninju), yel-yel “padepokan ambalan..” yang diikuti gerakan khas Dildol (tangan menyilang, kaki menyilang, sambil menunduk, lalu bilang “mak, greeng..” diikuti goyangan pinggul dan tangan). Belum puas tuh panitia, kami dituntut mengikuti senam ‘banana’ yang apa-apa banana.. –slice2 banana—eat2 banana—digest2 banana—dst. Sambil bergiyang sesuai kata yang diucap. Nah, satu kata yang jadi slogan kemudian, “exit2 banana..”. tu diucakan kalo ada pihak yang ga dikehendaki masuk ke pentas. Wua.. seru banget de…
Acara yang dihadiri anak angkatan paling muda hingga yang tua-tua ini (hehe.. mas Joko, Mz Rustam, mb Tata, mb Ningrum, hingga mb Widya+anak+suami nya ada..) semakin hot ketika acara makan ala pesta kebun dimulai. Wuah.. saya langsung memungut nasi uduk plus sayap ayam bakar di halaman depan wisma. Malam di kaliurang sepertinya malah membuat ayam bakar yang seharusnya disantap hangat malah jadi seperti di-freezer. Brr.. tetep aja sistem pencernaan menghasilkan kehangatan tersendiri di tengah kerumunan anak ambalan yang terlihat anteng kalo lagi makan.
Malam kemudian dilanjutkan dengan pementasan tiap angkatan. Berhubung angkatan saya hanya menyisakan 6 orang (Taruna, Ipeh, Mbekur, Dakong, Alfi, dan saya—lainnya : Jabar n Gusti pulang duluan), kami memutuskan untuk dubbing lagu BBB saja. Latihan yang diperkirakan hanya 5 menit pun molor menjadi 15 menit. Kami menggunakan aula wisma sebagai area penyusunan koreografi tarian. Dengan kemampuan seadanya akhirnya kami tampil tanpa ‘kemaluan’ (mohon jangan ditafsirkan secara harfiah..) ke tengah lingkaran di halaman wisma. Untung deh untung.. kloter (angkatan) laen juga sama gokilnya dengan kami. Seperti amb 59 yang berorkes glothekan, amb 62 yang memberi pertunjukan ‘bukan sulapan’, sampe amb 65 yang berakrobat seperti cheerleader. Sapa tuh yang beneran jatuh setelah mendapat tepukan meriah dari peserta?? Saking senengnya apa beneran human error tuh?
Kemeriahan malam itu menyisakan orang-orang yang masih ingin ngobrol (buanyak je..) atau pun main kartu (tersangka: mas itox, ikhsan, n anak2 cewek 65 di sebuah kamar yang berdekatan dgn kamar saya hingga riuhnya terdengar keras sekali padahal lainnya udah tidur lelap), ada juga dua manusia yang sepertinya lagi kangen-kangenan.. ( hayo dil.. akhirnya J ) sementara yang lain malah merasa sangat kangen akan seseorang (hm.. ipeh?!). malam yang indah…
Huff.. pagi yang lumayan segar.. dengan mendung yang sedikit menggantung di angkasa, kami sedikit terlambat sholat subuh karena dinginnya udara, dan nyamannya kasur putih serta selimut tebal biru yang menemani tidur kami di kamar. Aduw,, air di atas ga nyala. Akhirnya ngungsi ke sumber air laen deh, orang2 yang berkepentingan dengan kamar mandi, mulai dari wudhu, sikat gigi, pipis, hingga pup.
Pagi itu panitia mengajak peserta berjalan-jalan keliling kaliurang seperti biasa.. sementara yang lain menyiapkan untuk acara sarapan pagi. Saya yang waktu itu berada di aula sempat melihat gelaran daun pisang yang ditata melingkar. Umm.. sepertinya mau ada sarapan lesehan kembulan ni..
Tepat pukul 7:20, Dila sebagai MC mulai berkoar2 menurunkan peserta ke halaman depan wisma untuk bergoyang ‘banana’ lagi.. wua.. peserta sudah malas sekali. Sepertinya mereka (kami?) sudah tidak sabar menunggu saat makan pagi. Dengan dibagi ke dalam beberapa kelompok, kami bergiliran masuk ke arena sarapan. Sementara yang lain ‘bermain’ air, n …. (terusannya Tanya indah)
-ratih-
kembali ke atas
|

padrover.com © 2007 - 2009
|
Tercantum di daftarweb.org |
Log in | Register

|