<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">

<channel>
	<title>PADmanaba ROVER &#187; GTL</title>
	<atom:link href="http://padrover.com/category/programs/gtl/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://padrover.com</link>
	<description>Dharma Jati Labet Nagari &#124;&#124; Tegak Mandiri Cahya Insani Bhakti Pertiwi</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Oct 2009 17:49:06 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>GTL Siung</title>
		<link>http://padrover.com/programs/gtl/gtl-siung/</link>
		<comments>http://padrover.com/programs/gtl/gtl-siung/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Aug 2008 06:08:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>itox</dc:creator>
				<category><![CDATA[GTL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://padrover.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[
“Merayapi Karang  Terjal Gunung Kidul”
Kapyuk..!!! Astaghfirullah.. Seakan air bah datang tiba-tiba tatkala saya sedang asik merayapi dinding karang terjal di pinggir pantai Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Sekujur badan basah kuyup..
Susur pantai  adalah kegiatan outdoor yang jarang sekali dilakukan Ambalan Yos Sudarso-Kartini. Namun kali ini, BPH 60 mengisi masa akhir kepengurusan mereka dengan mengadakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2></h2>
<p><strong>“Merayapi Karang  Terjal Gunung Kidul”</strong></p>
<p align="right"><em>Kapyuk..!!! Astaghfirullah.. Seakan air bah datang tiba-tiba tatkala saya sedang asik merayapi dinding karang terjal di pinggir pantai Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Sekujur badan basah kuyup..</em></p>
<p>Susur pantai  adalah kegiatan <em>outdoor</em> yang jarang sekali dilakukan Ambalan Yos Sudarso-Kartini. Namun kali ini, BPH 60 mengisi masa akhir kepengurusan mereka dengan mengadakan susur pantai dari Siung hingga Wedi Ombo.</p>
<p>Wuah..pasti menantang sekali !! dan memang benar terbukti. Rute sejauh … km  dilewati penuh dengan tantangan. Terjalnya karang, naik turun medan, hingga deburan ombak yang mulai pasang membuat perjalanan kali ini terasa sangat mengezutkan..</p>
<p>Diawali dengan berjalan kaki menaik-turuni bukit kapur yang panas, sore itu kami memulai perjalanan menuju suatu pantai yang dijanjikan panitia sangat indah.. beberapa pos kami singgahi dengan alasan pengerjaan soal perjalanan. Yang jelas, berteduh dari rasa panas tentu hal yang wajib dilakukan. Soalnya, daerah Gunung Kidul yang memang terkenal dengan cadas kapurnya itu benar-benar membuat jidat kami mengernyit, panaz..</p>
<p>Ya jelas peserta <em>nggak </em>bodoh. Berbagai perlengkapan ‘pendingin’ pun dipakai. Ada yang pake sleyer diikat di kepala jadi kaya ‘gadis penjual korek api’, ada yang pake topi pengembara ala Riyanni Djangkaru, sampe ada yang bawa paying guedhe bwanget.. ya lumayanlah.. bisa buat bareng-bareng.. kita kan harus setia kawin.. <em>ups!</em></p>
<p>Meski panas <em>nggak </em>ketulungan, pemandangan puluhan bukit kapur membentang dihadapan kami secara bertubi-tubi. Argh.. ini yang namanya dunia!! Gila.. indah betul patahan-patahan batuan kapur yang tak sengaja <em>nongol </em>di antara bebukitan. Sebenarnya, tidak sulit kok mendapatkan pemandangan seperti ini, karena jalanan pun sudah diaspal. Selain memudahkan para warga, saya curiga, hal ini sengaja lebih ditujukan untuk menunjang aspek pariwisata di derah pesisir pantai GunKid  itu sendiri.</p>
<p>Hawa segar plus bau anyir lautan sudah terasa begitu kental ketika tiba-tiba muncul di hadapan kami bentangan air laut biru yang membentuk cakrawala. Langsung kami berceburan di bibir pantai yang sedang surut itu. Memang, air laut pasang hanya pada saat tengah malam ataupun tengah hari. Mengapa? Ya karena tertarik gravitasi mahatari di kala siang, dan bulan di saat malam.</p>
<p>(pantai  siung kaya apa?)</p>
<p>Malam hari ketika langit sudah benar-benar tertutup hitam, bintang-bintang bertaburan di atasnya. Tak berbatas jumlah.. takhenti berkedip, tak henti menyihir kami untuk tetap menatapnya. Panitia pun dengan cerdik memanfaatkan momen. Muhtar, Ambalan 59, diminta menjadi pemateri “navigasi bintang” malam ini. Secarik kertas bergambarkan peta formasi bintang pun dibagikan kepada para peserta. Banyak yang kesulitan melihat gugus bintang mana yang cocok dengan gambar. Itox, Ambalan 55, dengan sigap membimbing dari belakang. Sepertinya, dia tau betul letak formasi bintang mana saja yang ada dalam peta itu. Termasuk kapan gugus bintang itu muncul. Karena, tidak semua gugus bintang ada sepanjang tahun. Ursa Mayor, ursa minor, casiopea, canopus, …</p>
<p>Lapar? Tentu saja. Untungnya, ada satu rumah (atau tepanya gubuk ya?) di dekat camp kami. Awalnya, kami sangsi. Pintunya tertutup. Ternyata, hawa dingin lah penyebabnya. Di dalamnya, api dari lampu teplok menghangatkan serta menerangi ruangan yang hanya berkisar 3&#215;2 meter itu. Mie rebus pus tes hangat adalah santapan terlezat di sana. Nyam.. <em>nggak </em> jadi masuk  angin deh kalau sudah kenyang begini.. J</p>
<p>Huahm.. malam semakin larut. Kami pun bergegas menuju tenda yang sudah didirikan di antara bebatuan besar hitam di atas karang di samping kanan pantai. Beneran… batunya beneran guedhe-guedhe bwanget… jadi berasa kaya di jaman batu gitu.. kanan, kiri, depan, belakang.. batuan hitam sangat besar melindungi kami dari dinginnya angin pantai malam ini.</p>
<p>Wah, sayang  sekali. Tenda <em>dome</em> yang ada tidak dapat memuat seluruh peserta. Akhirnya saya dan beberapa teman (Ipeh, manyol, TJ, Sunar, Westhi, dan.. ada yang kurang?)  memilih mendekati api unggun. Zz.. tidurlah kami di sana. Beratap langit.. beralas bumi.. (sebenernya sih lebih tepat beralas matras!)</p>
<p>Malam itu, sebenarnya saya tidak dapat langsung memejamkan mata. Saya terbaring dengan mata yang terus memandang ke angkasa. Melihat keelokan ciptaan Yang Kuasa.. terus berkerlip, indah J terdengar pula beberapa celoteh teman, yang kudeteksi sebagai suara mas Itox, Manyol, dan mas Yoyok. Yah, sedikit banyak kumengerti. Kuremahi, kukunyah.. lucu juga. Sesekali kutimpali perbincangan mereka ke Ipeh. Setengah hidup pula dia menjawabnya. Maklum.. perjalanan kami tadi sangatlah panjang..</p>
<p>Pagi kuawali  dengan menggososk gigi dengan air aqua. Di atas (karang) <em>nggak </em>ada air tuh. Ah, ini hanya awalan saja ketikak sekitar jam 8 pagi kami memulai penjelajahan sebenarnya. Bukitan karang tepat di bibir pantai adalah sasaran susuran kami. Dengan menggendong ransel perbekalan, kami perlahan merayapi batuan karang yang bertengger tegak di tepi lautan. Pemandangan elok nan indah terhampar jauh hingga batasan cakrawala. Uh.. sungguh menakjubkan!!!</p>
<p>Beberapa bentuk karang yang  tampak aneh tiba-tiba menjadi studio mini bagi para peserta yang memang narsis. Di tengah berjalan, tiba-tiba kami menemukan batu karang yang berbentuk seperti <em>lesung</em> (tempat menumbuk padi) yang terisi  air  laut. Langsung saja, <em>nyes… </em>kaki yang tadinya <em>pegel</em> menapaki terjalnya batuan karang, langsung dicelupkan ke dalam ‘lesung’ tadi yang dingin. Hm.. sembari duduk di pinggiran batunya, saya nikmati kayanya guratan alur pada dinding batu karang itu. Uh.. sungguh tiada tara..</p>
<p>Hari  pun semakin siang ketika tiba-tiba ombak besar menerpa kami. Wuah.. sudah hampir pukul 12. pantas saja, laut kan sedang pasang. Kalau saja saya tidak dipegangi oleh seorang teman, pastilah saya sudah jatuh di karang-karang di bawah sana. <em>Naudzubillah</em>.. pegangan yang saya rasa sudah cukup kuat ternyata tidak mampu menahan hempasan ombak yang lumayan kecil. Untunglah.. meski ransel basah kuyub, <em>henfon</em> dan <em>camdig </em>mas  juan <em>nggak </em>kenapa-napa. Setelah itu, mas Itox terlihat mengenakan jubah (mantol sih..) ala batman untuk melindungi dirinya. Huah.. padahal saya saja sudah teranjur basah kuyub begini.</p>
<p>Segala haling rintang kembali mewarnai perjalanan kami setelah itu. Harus merayap karena berpasirlah.. harus melompat karena tinggilah.. bahkan menelusup di antara bebatuan, kami jalani. Akhirnya, sampailah pada tanjakan terakhir yang berupa kerikil dan pasir terasa sangat berat dilalui. Baju yang berat karena basah, dan tenaga yang sudah habis terkuras di ‘medan laga’, membuat nafas kami semakin <em>ngos-ngosan..</em> tapi <em>amazing</em>nya, setelah tanjakan itu, langsung kami dapati hamparan pantai megah dan luas berpasir putih… pantai Wedi Ombo!!!! Dan sampailah kami pada saat yang berbahagia, sentausa, mengantarkan rakyat Indonesia.. wealah, malah preambule UUD 45! Intinya.. nikmat tak terkira ketika kami tiba di sana. Beberapa kawan sudah terlihat bercebura di sana. Beberapa memasak mie untuk dimakan bersama.. beberapa terlihat tiduran dengan kaca mata hitamnya (biar berasa turis gicu..). saya sih malah tertarik dengan ikan parang cucut yang digantung di pojok warung makan tak jauh dari bibir pantai. Wuh.. jadi inget cerita si Lumba-lumba punya adek saya…</p>
<p><strong>-ratih-</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://padrover.com/programs/gtl/gtl-siung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
