padrover.com
everything about us
things we do
we're going out sometimes
pictures of us
skills related to scouting
one way to share
sign our guestbook!
|
|
Sudah menjadi tradisi bahwa Ambalan kita sangat hobi melakukan petualangan. Kali ini kita akan menjelajah ke salah satu gua yang terletak di Gunung Kidul, Gua Jomblang. Sebenarnya agak sulit mengingat nama gua ini. Biasanya malah ingatnya jadi gua jambrong, hehe, salah satu teman SMA saya.
Okay, perjalanan diawali dengan motoring, salah satu tradisi ambalan juga. Berpetualang dengan rombongan bermotor. Waktu itu ada berapa pasang ya? Banyak sih seingat saya. Tapi ada juga yang naik mobilnya Eky, termasuk saya, heheh.. J Waktu itu asik juga, ada golongan tua yang ikuut lo, heheh. Yak, dialah MAs Agus, tetangga saya sendiri! Pengennya deket-deket dia terus secara dia bawa handycam, hehe.
Jadi, Gua Jomblang ini letaknya di bawah jurang gitu..weess mantab banget! Eh, tapi beneran, jadi kalau kita mau menjelajahi goa, harus turun jurang dulu menggunakan cara abseiling. Ini diya bagian asiknya, kita bakal turun repling pakai tali. Sejauh pengalamanku saat ini, ini repling tertinggi yang pernah kujalani. Lebih tinggi dari jembatan babarsari lox, hehe.s (perkiraan ketinggian 40 meter).
Setelah turun tali, kita sampai di dasar jurang, tinggal masuk ke dalam guanya. DI dalam gua sih gelap banget, harus pake senter dan jalannya hati-hati. Di sana sini laiknya goa-goa yang lain, terdapat stalaktit dan stalakmit. Jumlahnya? Ratusan..Lebih, hehehe. Setelah beberapa waktu, ini diya yang spektakuler! Kita sampai ke inti perjalanan. Di sini indah banget! Jadi di sini ada semacam sungai gitu di bawah dan ternyata atapnya terbuka, jadi kita semacam disinari oleh hangatnya sinar mentari pagi itu;), waduuh pokoknya bagus banget deh. Trus di situ tuh juga kita pasti bakalan basah, karena kena air yang berasal dari atas, aku juga lupa darimana kok ada air menyembur-nyembur ya?Hehe. (air berasal dari resapan pepohonan yang tumbuh di lapisan tanah bagian atas gua—Red.) Pokoknya kalau buat foto-foto puwaaas buanget deh!
Asiknya lagi, kita sholat dzuhur di atas batu lo, haha, berasa musafir jaman primitif aja, hehe. Setelah puwass foto-foto dan koar-koar seperti biasa, kami keluar lagi. Ini nih, kita sampai di bagian yang paling berat. Kita akan naik lagi ke atas dengan cara prusiking.. Waduuh itu tuh beraaaaaaaaaat banget! Buatku sih, nggak tau yang lainnya. Aku butuh waktu hamper satu jam, berasa tarsan aja, pegel semua tangan dan kaki. Bikin kurus deh! Hehehe.
Setelah semuanya naik dengan selamat, kami pulang deh, sebelumnya tapi mampir dulu ke rumah Rossimin deh kayaknya kalau nggak salah ingat. Soalnya tiap kita mngembara ke Gunung Kidul, pasti lewat rumah diya, hehehe..
Pengalaman yang indah bisa jelajahi goa jomblang yang permai J cu on de next trip!
Dila
Nama beken SMA: chubby
PAdz 61.
one night
Malem minggu kliwon, lepas tengah malam, terlihat lima sosok bayangan ada di dalam sanggar. Ternyata itu bukan bayangan, tapi orang yang masih idup. Ada MUMU yang sedang di depan komputer, dan 4 orang lain sedang duduk-duduk dan klékaran (diketahui berinisial WGO, KAWA, RUS dan ITX). Ternyata malam itu ada rapat dewan Ambalan YS mendadak, membahas kelangsungan cerita asmara di sanggar tercinta. Entah dari mana datangnya wangsit, ITX mengusulkan bagaimana kalo kita adain caving sehabis kita ber-GPS.
Perselisihan dan adu argumentasi terjadi… akhirnya rapat ini memutuskan bahwa: “Dua minggu setelah keputusan ini dibuat, akan diadakan Caving di Semuluh dengan target peserta tidak banyak dari kelas satu. Survey akan diadakan hari jumat dengan target 4 atau 6 surveyor. Sehubungan dari itu, akan dibuat sangga kerja secepatnya yang terdiri dari oknum kelas satu dan BPH sebagai pengawas.”
Harapan besar tertanam di kegiatan ini….. yaitu: jangan buang sampah sembarangan……….:p
The Survey
by Joko
Jum’at, 27 Pheb 2003, 13.00 Wib
Setelah recharged energi dengan @ 1 porsi gado-hado teteg yang hanya bisa sebagai pengganjal perut, packing, koordinasi, leave footprint di bukunj, dan tak lupa berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing……mulai. Selesai.
Wowot, Hendra, Itox, dan Mucsy jadi juga berangkat survey ke Semanu, dilepas dengan tidak rela oleh anak-anak sanggar yg lain. Mereka berempat untuk selanjutnya disebut Tim Ati Ayam berangkat pukul 13.30. target awal rumah Rossy. Menurut rumor yang beredar di sanggar, Kak Bud jadian dengan Kak Sari…eh, nganu ding, Rossy berencana menyusul kami setelah menyelesaikan urusan pribadinya dengan salah satu oknum anggota DKC.
Alhamdulillah perjalanan Tim Ati Ayam berjalan lancar. Lima puluh kilo lebih dapat ditempuh dalam tempo jang sesingkat-singkatnja, 1 ½ jam, ngga boleh kurang. Sama teman bolehlah turun dikit. Satu-satunya masalah hanyalah kejadian yang menbuat kita bertanya-tanya antara ngga ‘ngeh’ dan melas meliatnya adalah saat Hendra merasa ada yang kurang beres dengan ban motornya. So…jadilah kita mampir suatu bengkel yang tidak dapat kami sebutkan namanya 300 meter sebelum piyungan. Tukang pompa dengan tergopoh-gopoh segera menghampiri motor hendra lengkap dengan selang pompanya. Wowot, Itox, dan Mucsy cuman mlongo ngliat Hendra dengtan santai mengempeskan ban depannya…psst…psst…psst…sampai dirasanya cukup kempes, baru kemudian menyilahkan tukang pompa memompanya dengan tergopoh-gopoh. Ngga cukup cuman ban depan, Hendra juga mengempeskan dulu ban belakangnya, tepat didepan tukang pompa yang menunggunya dengan tergopoh-gopoh. Kawan coba dengar apa jawabnya. Ketika ia kutanya mengapa. Bapak ibu……heh doi cuman njawab enteng,” Ben angine ganti…”kata doi cuek meninggalkan kita yg masih kebingungan. Opo hubungane????
Belakangan diketahui ternyata Hendra menggunakan logika politik u/ ban motornya. Jadi selain anggota DPR, angin ban pun juga butuh reshuffle. Untung doi ngga ngotot beranggapan begitu soal bensin motornya.
Well…Tim Ati Ayam sampe rumah Rossy jam 15.15 dengan tak kurang suatu apa. Cuman Mucsy yang merasa pipinya masih ‘ndredeg’ walaupun sudah ganti duduk di jok ruang tamu rumah Rossy. Kita-kita sempet syok waktu masup halaman rumah. Liat bapak-bapak yang jelas kalo bapaknya Rosy baru berjuang mbetulin antena tipinya. Opone sing aneh?? Heh…kalian pernah liat antena tipi sepanjang (ingat bukan setinggi) 3,5 meter??iki mesti ukuran jumbo! Mungkinkah panjang antena tipi berbanding lurus dengan jarak rumah ke sanggar?? Bayangkan antena tipinya Topx. ( Pix…lampung wis mlebu listrik durung??)
Rada lama juga nunggu Rossy. Kalo diitung-itung mampir DKC ngga sampe ½ jam, berarti Rossy bakalan nyampe sekitar jam 4. Ngga lama nunggunya. Masi kuat nahan HIV. Entenglah.
Jam 4 lebih seperempat, Rossy belon nongol, tempe goreng dari ‘bibi’nya Rossy dah abis, tipi dah nyala (tur isih bruwet), HIV ampir tak tertahan (chususon Mucsy). Akhirpun Mucsy nekat mo ijin ke belakang. Tapi sialnya, tuan rumah ngga ada yang keliatan ( ibu baru pulang dari kantor, mungkin baru mandi, dan bapak masi utak-atik antena di atas). Cuman ada cewek 5 tahun yang cuek nonton tv. Pas ditanya Mucsy, dengan ogah-ogahan doski nunjuk sebuah kamar mandi. Tapi sayang sia-sia, coz Mucsy jelas ngga mau makae KM dalam kamar kosong yang ngga ketauan kamar siapa.
Beruntung lima belas menit kemudian muncul Rossy senior baru selesai dengan urusan antenanya yang 3,5 meter. Mucsy yang bladdernya dah muncup-muncup sejak tadi cepet-cepet ijin ke belakng. Alasannya sih mo numpang sholat. Lega deh rasanya, coz kita semua sebenulnya juga dah muncup-muncup. Baru enjoy antri tuk melepas HIV, Rossy nongol. Bukan dengan Yovie, tapi ternyata dengan Wans. ( ikuti kisah petualangan perjalanan Rossy, dalam buku 2). Rossy dan Wans untuk selanjutnya disebut Tim beras merah ternyata ngga bisa langsung berangkat. Urusan pribadi rossy ternyata berbuntut doi harus ketempat Pembina satuan YS yang tidak dapat kami sebiutkan namanya.
Kembali kita packing. Wans dah mulai copot-copot celanan di ruang tamu. Rossy sibuk cari senter dan celana caving yang bukan seragam SMU. N’ …yup Kita ( wowot, Itox, Hendra, Mucsy, Rossy dan Wans) menggabungkan kedua tim kita jadi Tim Ati Merah, berpamitan dengan papi-Maminya Rossy yang melepas dengan penuh kekhawatiran karenan baru tau ada gua yang namanya Semuluh 5 km dari rumah mereka. Rintangan pertama muncul, Rossy ga duwe helm ciduk. Cuek ah. Helm standar pun jadi. Jam 5 kurang seperempat, Tim Ati Merah berangkat. Belon 1 km, Tim harus berenti kerna motor yang membawa Itox dan Mucsy tidak keliatan batang knalpotnya. Padahal sudah kesorean. Gawat kalo masih harus nyari Itox ke Pencarsari. Atao jangan-jangan, motornya Itox bener-bener GL Pro, alias Genjot Langsung….Protholll.
Untung 5 menit kemudian belalang tempur entu muncul, lengkap dengan ksatria tahi lalat hitam di atasnya. Dan teka-teki hilangnya motorpun terjawab sudah. Jebull mucsy sing nyetir. Dia nga tau di stang kiri motornya Itox ada kopling. Wah….jyann…wis kesusu jeh malah kursus nyetir ndhisik !!
Jam 5 pas Tim Ati Merah sampai BC semuluh. Lengkap, ga’ ada motor yang desersi lagi. Lord of the caves baru tenguk-tenguk di balai-balai di beranda joglonya. Dengan ramah dia menyapa dengan sapaan ‘Indonesia Raya’ yang hampir selalu ditanyakan pada setiap pengunjung. Dari Jogja?? Mau masup mana?? Berapa orang?? Dan ada cewek cakepnya ngga?? Yah…Lord of the caves emang ramah. Tim menyapa tak kurang ramahnya. Gimana khabarnya?? Masi inget kita ngga?? Gimana khabar goanya?? Dan ada cewek cakepnya ngga?? Tim ati Merah emang ramah juga. Baru asyik melepas kerinduan, muncul Lordess of the caves. Langsung masup dalam obrolan. Bercerita tentang kalo belon lama ada turis yang datang, 14 hari buat mbuat lintasan panjat, dua orang co-ce dari Jepang. Dia juga menanyakan kita dari pecinta alam mana?? Kuliah di mana? Dsb. Yah…Lordess of the caves emang ramah juga.
Berita buruk!! Tim dilarang masup Semuluh. Menurut kedua Mbah Lord of the caves tersebut Semuluh pasti banjir karena semalem ujan dan baru berenti jam 2 siang tadi. Gawat nih. Tapi kata mereka, Goa Seropan ngga banjir kok. Tim menarik napas lega. Ngga sia-sia datang jauh-jauh dari jogja. Masih kata mereka sekarang Seropan dipasangi pintu terali dan kuncinya terbawa ke Jogja. Gawat kuadrat, terus gubrak!!
Demi meliat muka anggota Tim yang tiba-tiba penuh kekecewaan, akhirnya kedua mbah Lord of the caves memberi ijin Tim untuk ke Goa. Tapi hanya sampai mulut gua, sekedar meliat-liat keadaan. Ingat!! Hanya meliat-liat, begitu kedua lord menggarisbawahi pezennya.
Yes…Tim segera menyiapkan diri dan alat-alatnya. Overall suit, safety helmet, all terrain shoes, dan portable light. Itu teorinya.
Jam lima lima belas, Tim bergerak ke rendezvouz point, setengah kilo dari BC. Ada sedikit harapan buat masyup goa kalo dirasa memungkinkan. Rada mengabaikan pesan dari mbah Lord of the caves gak pa pa lah. What they don’t know, won’t hurt them khan. Ya…raut-raut rada optimis nan penuh harap emang masih menghiasi wajah Tim saat mulai melewati 400 meter jalanan beraspal dan 200 meter pematang batu bersawah. Lagian wowot dah bilang dalam hati ke anggota tim yang lain kalo Goa semuluh lorong kiri ngga mungkin banjir lah yaw.
Jam lima lima belas, Tim bergerak ke rendezvouz point, setengah kilo dari BC. Ada sedikit harapan buat masyup goa kalo dirasa memungkinkan. Rada mengabaikan pesan dari mbah Lord of the caves gak pa pa lah. What they don’t know, won’t hurt them khan. Ya…raut-raut rada optimis nan penuh harap emang masih menghiasi wajah Tim saat mulai melewati 400 meter jalanan beraspal dan 200 meter pematang batu bersawah. Lagian wowot dah bilang dalam hati ke anggota tim yang lain kalo Goa semuluh lorong kiri ngga mungkin banjir lah yaw.
Tim melewati jalannan setapak yang mulai menurun. Sebetulnya cuman setengah tapak ding coz kita jalan musti segaris. Pintu Goa menunggu dengan pasrah 100 meter didepan kami. Didepan pintu sebatang pohon guedhem yang keliatannya ngga kalah tua ama goanya. Keliatan serem, mana gelap dan lagian dah surup nih. Gimana kalo ada pocong, atau jelangkung, atao suster ngesot baru caving. Ngga kebayang deh. Yang paling serem jelas kalo ketemu Bu Dinar didalam trus ngasi tau kalo besok ada ulangan mendadak. Weck…jyan jayus tenan. Mean no offense mam.
Tim Ati merah turun sampai mulut Goa. Sol sepatu, sandal, dan sepatu sandal mulai mesebal gara-gara lumpur. Jalan mangkin liicin. Tangan mulai meraba-raba sekitar cari pegangan. Suer gue ngga tau apa ada yang salah raba waktu itu, yang ajelas tampang wowot langsung ciut liat aliran air dilirong semuluh kanan yang duerres. Padahal, air disitu biasanya cuman menggenang. Untung anggota tim lain ngga tau ( sekarang tau ding). Lorong kiri lebih kering, tapi air yang macur ke lorong kanan jelas datang datang dari level lebih rendah lorong kiri.
Sampai disini, Tim Ati Merah berbagi tugas. Empat orang coba meliat lorong kiri lebih dalam dan 2 orang sisanya mbuka bekal rambutan. Sambil berjaga-kaga kalau tiba-tiba langit runtuh menimpa temen-temen dalam goa. Belon 10 meter dari pintu goa, langkah ke-4 orang pemberani tersebut kudu berenti. Disitu lorong kiri mulai berair dan jarak pandag tinggal 3 langkah. Keempat senter diidupkan, tapi tetap tidak menolong. Hendra keliatan meraba-raba pintu Goa mencari saklar lampu yang tak pernah ditemukannya. Untuk menutupi rasa malunya, dia dinobatkan sebagai anggota tim yang paling dalam masup goa. Yaitu satu langkah lebih dalam dari anggota tim yang lain.
Akhirpun tim memutuskan untuk masup kedalam goanya lainkali saja. Ada hal lain yang lebih penting seperti menjaga kepercayaan mbah-mbah Lord of the caves, keselamatan semua anggota tim yang pada belon kawin, dan bekal rambutan yang kian menipis. Untuk menutupi kekecewaan dan agar berkesan sebagai survey yang heroik dan lagi maaktu maghrib belon tiba plus kita tidak takut akan gelap, Wowot mengajak tim ke pantat Goa yang terletak 500 meter dari mulutnya ( mulut Wowot apa mulut Goa??)
Tidak ada yang berkesan dalam perjalanan ke pantat goa selain harus menyeberangi jalan gedhe, lewat telaga yang ¾ kering yang pengin banget dipake Jimah dan pembahasan tentang cacing yang menyerang otak sehingga ditemukan kosakata baru,” Oooooo…ho..oh ding”, kalo kita baru ngga ngerti.
Pantat Goa lebih guedhem dari mulutnya ( jangan dibaca dengan logat jakarta), diameternya sampai 30 meter. Dan lagi-lagi ada pohon tua yang ngga kalah guedhem dari pantatnya (Hoiiiiiii sonyole sopo ki…?), terbalut kain putih lebar 1 meter( mungkin pohonnya ketombean kali ya). Maghrib sudah menjelang, tapi kita tetap tidak takut akan gelap.
Beruntung Tim memutuskan untuk masup goa lain kali saja coz lantai goa yang biasanya kering berbatu-batu jadi kayak kali kecil di belakang sekolah. Semua anggota tim duduk-duduk di pantat Goa ( ingat, dilarang dibaca dengan logat Jakarta). Ruangannya cukup besar, muat buat 13.900 papan catur 64 kotak, 32 biji, seharga 14.000 rupiah, pertanyaannya siapa Grand master catur indonesia??
Hendra tampaknya masih penasaran kenapa goa begitu gelap dan ngotot mencari-cari saklar lampu yang kembali tak ditemukannya. Sekali lagi dia dinobatkan sebagai anggota tim yang paling dalam masup goa. Kali ini cukup membanggakan, lima langkah didepan anggota tim yang lain.
Puas meliat-liat pantat Goa ( peringatan terakhir….dilarang dibaca dengan logat jakarta, apalagi dengan pikiran mesum), Tim Ati Merah balik lagi ke BC, rumah mbah Lord of the caves. Disono sudah nunggu teh anget yang manis dan mbah-mbah yang anget juga tapi tidak manis. Ramah tamah lagi smabil ngeteh, liat-liat buku tamu cavers. Menemukan jejak anak-anak YS-K waktu masup Seropan-Semuluh tahun 2000. Sayang tidak semua anak-anak waktu itu meninggalkan jejak. Cuman ada sebuah nama Muhammad Arief, yang untuk menghilangkan senioritas kita panggil saja Ayie’.
Setelah mengisi buku tamu dan pamitan, Tim Ati merah kembali ke rumah Rossy, dan langsung cabut pulang ke Jogja malam itu juga. Mampir buat makan malam mie goreng dan godog sambil membahas hasil survey dan rencana-rencana kedepan.dari hasil diskusi diambil kesimpulan kalo kegiatan ini sebaiknya dipegang anak klas 1 dengan diback up BPH YS, sosialisasi dimulai saat GPS, iuran minimal Rp. 4000.00 serta mie godognya enak. Selesai makan, perjalanan ke jalan yang benar diteruskan. Walaupun gelap, panjang dan berliku tapi tekad kami sudah bulat karena terlalu banyak yang merindukan kedatangan kami di sanggar. Lagian sudah malam dan motor Wowot pasti dah kekancingan neng sanggar.
Kita sampai di sanggar jam ½ 10 malam. Gerbang terkunci, pintu sanggar tertutup dan gelap. Sekolah tampak lengang. Tak ada seorangpun anak berseragam SMU yang keliatan ( kecuali Rosyy yang masih pake celana kheki). Dah ah. Cara selesai dengan didapatkannya kunci dari Bu Itje n’ Tim Ati merah membubarkan diri ke rokum masing-masing. And They live happily ever after. Amin.
head officer’s report
by alfi
Melalui sebuah perbincangan kecil dengan orang-orang yang telah meneliti medan, terbentuklah panitia kecil yang bertugas menyiapkan alat dan segala sesuatu untuk caving. Tugas pertama membuat surat-surat, kebetulan ada sersan Roes yang mau membantu, namun sayang, masih ada kekurangan pada surat-surat. Terpaksa jendral Arai bersama kapten Wanz turun tangan. Diputuskan menyerang markas Temy untu meminjam alat-alat berat. Sayang sekali printernya ngadat, terpaksa nyari rental di antara gelap malam dan dinginnya hujan.
Keesokan hari tugas berikut menunggu. Mencari bantuan persenjataan ke kesatuan lain. Sayang sekali lagi, tidak ada kesatuan yang mau membantu, mungkin mengira sangker belum pengalaman perang sehingga khawatir alat-alatnya hilang percuma.
Dengan hal-hal seadanya sangker tetap menyusun rencana kegiatan. Untuk pembekalan prajurit, ditunjuk kopral Joker yang sudah pengalaman ngibuli orang. Alhasil, ada juga yang ikut.
Meski segalanya terbatas, Jomblang dapat dikalahkan, dapat disyukuri misi kali ini berhasil.
the pioneer
by Rossi
Para cavers ngumpul di sanggar, diantaranya pengen berangkat hari sabtu, sekalian mo nanyain keadaan gua ke juru kuncinya. Jam menunjukkan ± 14.00 ketika tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya… satu jam kemudian, hujan nggak berhenti juga, para cavers tetap sabar menunggu. Akhirnya setelah ± pukul 17.30 hujan nggak berhenti-berhenti juga, para cavers nekat cabut dari sanggar, menerobos hujan menuju Gunung seribu, they are: Alfi, Chessa, Deni, Muchtar, Wawan, Rossi.
Sebelumnya mampir dulu ke bengkel buat beli karbit, but nggak ada, kemudian mampir di masjid @ jl. wonosari buat sholat maghrib. Setelah itu meneruskan perjalanan dengan kondisi cuaca gerimis tambah brrr… dingin amat! Di tengah-tengah perjalanan nan gelap gulita, motore Rossi terkena gejala komplikasi radang platina sehingga meyebabkan gejala batuk kering sepanjang perjalanan. Alhamdulillah, sampai dengan selamat @ kliniknya Rossi. Habis itu, beli nasgor buat dinner. Akhirnya semua calon cavers kekenyangan…..
Tengah malam, Rossi, Wawan, Muchtar melakukan percobaan yang benar-benar inovatif, billiant dan kreatif, meski agak djayus. Mereka mengkombinasikan petromax bekas dengan botol dan selang infus, menghasilkan karya cipta “petro Boom” pertama kali di dunia. Swear! Percobaan itu memakan waktu beberapa jam hingga tengah malam. Sementara itu Alfi, Chessa dan Deni pada maen gitar plus nyanyi-nyanyi, tur akhirnya satu-persatu terlelap di dinginnya malam. Rencana menanyakankeadaan gua pun ditunda ‘coz kayaknya guanya banjir. Dan hari sudah larut malam time to sleep!! Zzzzzz
the day we went away
by Alma
That day, ahad pagi saat sebagian wilayah jogja diselimuti awan mendung dan dimandikan dengan lembut oleh guyuran hujan gerimis, some of us duduk-duduk di sanggar menunggu seorang Hendra yang tak kunjung dastang. Karena sudah tak sabar, m’ Yoyok dan Ratih serta TJ dan Jabar berangkat menuju lokasi (mampir ke rumah m’ Rossi dulu). Masih gelisah menunggu sang Hendro yang seharusnya menggoncengkan daku, tiba-tiba ada seorang malaikat penyelamat yang berinisial TOPX datang dengan alat transportasinya (mobil kijang biru yang bisa berlari dengan kencang). Lalu, diputuskan bahwa yang ditunggu sudah tak perlu lagi ditunggu karena waktu toleransi sudah habis. Nicka, yang ternyata mabox darat, mendapat jatah untuk nebeng m’ Itox menuju Semanu.
Aku dan saudari Joko mulai memasukkan barang-barang ke dalam kijang biru lincah yang terparkir di dekat pagar. Namun, tanpa diduga yang ditunggu datang dari arah selatan. Saat diberi pilihan naik mobil atau sepeda motor, dipilihnya kijang biru yang mungkin sudah kenyang karena perutnya sudah terisi beberapa tas itu.
Walhasil, manusia-manusia efisien yang memanfaatkan mobil hasil hibah sementara dari m’Top-x hanyalah beliau sendiri sbg sopir, saudari Joko, m’ Hendra dan saya sendiri. Dalam perjalanan kami berbincang-bincang, makan rambutan gratisan dan mendengarkan lagu-lagu Lampung yang susah dipahami. (m’ Hendra masih berusaha beradaptasi dengan lagu-lagu itu).
Kenapa lagu-lagu lampung? Karena radio dalam kijang itu mengalami gangguan yaitu juka ingin mendengarkan FM ada tombol yang harus selalu ditekan. Saudari Joko yang duduk di samping Pak Sopir (yang sedang bekerja, mengendalikan kijangnya supaya baik jalannya), tidak mau memenuhi tugas itu . Jadi, terpaksa deh?! Karena tak tahan dengan lagu-lagu itu akhirnya saudari Joko mulai mencari-cari solusi, dengan sedikit kertas, plester dan korek api ternyata usahanya tak membuahkan hasil. M’Topx yang sudah bosan mendengarkan lagu-lagu dari tanah Lampung, seger turun tangan. Dengan secuil korek api saja semua masalah bisa diselesaikan. Akhirnya m’Hendra yang merasa suaranya tersaingi dapat menghela nafas lega.
Tiba-tiba HP-nya m’ Top-x berbunyi. Nicka mengabarkan bahwa bannya m’Itox bocor di Pathuk Hill. M’ Top-x degan gaya racing-nya segera menuju Pathuk. Tapi di pertigaan pasar Pyong Yang kami melihat sepasang makhluk dengan wajah kebingungan. Tebak siapa?! Ratih dan m’ Yoyok. Setelah dipanggil, m’Yoyok said “Banne bocor!!!”. “Banne Itox, ta?” kata malaikat penyelamat kami(m’ Top-x). “Banne Jabar!!”. Apa?! Untunglah tidak jadi naik motor (batinku), bisa-bisa banne m’Hendra ikut bocor. Lalu kami menuju tempatnya Jabar. Kijang biru yang kami tumpangipun mendapat muatan baru yakni TJ, sedangkan m’Yoyok dan Ratih menunggui Jabar menambalkan bannya.
Di Jalan TJ bercerita….. Waktu itu saat motornya jabar nulai mendaki Pathuk Hill, tiba-tiba bannya Jabar terasa seperti selip. BAN-NYA BOCOR!! Motornya langsung membelok-mbelok (Jawa=nggobig-nggobig) tak karuan. Untung saat itu jalanan sepi, kalau tidak bisa-bisa kita harus nyumbang.
Kami lalu terus mendaki Pathuk Hill, searching for Nicka and m’Itox. Setelah sampai puncak, yang dicari malah nggak ada. M’Top-x’ cell phone berbunyi lagi, ternyata itu Nicka yang mengabarkan bahwa banne m’Itox sudah dapat digunakan. Kami melanjutkan perjalanan ke rumah m’Rossi. Di sana yang kami temui pertama adalah ketua sangker yaitu Alfi. Orang-orang yang menunggu di sana antara lain: m’Wawan, m’Muchtar, m’Rossi, m’Itox dan Nicka.
Menurut kesepakatan bersama akhirnya semua berangkat, kecuali 2 orang (m’Itox+m’Wawan) yang harus ngulek bumbu & nunggu 3 orang yang di belakang (m’Yoyok, Jabar dan Ratih) yang belum juga datang. Yang ikut mobil (m’ Topx, Saudari Joko, TJ Nicka, m’Muchtar and me) mampir dulu ke rumah Mbak Lilis. Sampai di sana m’Lilis-nya ternyata tak ada di rumah, ya sudah, kami kembali ke tujuan semula yaitu Jomblang. Ternyata motor-motor yang tadi ada di belakang kami sudah di depan, dengan personil lengkap pula! Dalam perjalanan kami sempat berfoto ria (yang naik mobil doang!) Kijang biru itu juga berhenti sebentar di Telaga Jetis untuk take nothing but picture. He..he..he. Tak lama kemudian sampailah kami ke Cave of wonders.”Jomblang”.
lonely way
by itox
Pagi-pagi jam 6 lebih dikit aku udah nyampe sanggar. Terdapat tanda-tanda sanggar habis buat tempet nginep anak musholla. Para cavers mulai berdatangan. Alat-alat di cek, ternyata TJ mbawa senter tak bernyawa, Nika mbawa senter tak berbatu, alhasil batre di bawah kolong diembat juga… Masih menunggu semua datang, ternyata terbesit kabar bahwa m’Top-x bakal mbawa mobil. Wah enak nih…
Yoyok dan Jabar terlanjur pengin mbawa motor.. alhasil yoyok+ratih, Jabar+TJ bersikukuh tetep mbawa motor meski ada mobil. Disinyalir bahwa Nika mempunyai penyakit ogah naik mobil. Karna yang mampu mboncengin Nika tinggal aku, jadi deh aku naik motor… Yoyok dan Jabar sudah meluncur duluan, mobil-pun sudah datang dengan sopirnya, aku lalu menyusul beberapa menit di belakang Yoyok & Jabar. Sampe di depan gerbang ternyata Hendra datang dengan motornya. This time aku nawari dia untuk naik motor or naik mobil… Ternyata dia mendhing naik mobil…. Wah, jadi deh aku & Nika sendirian naik motor…
GL-ku kupacu.. cukup kencang… biar bisa nyusul dua motor di depanku. Still lonely, naik ke bukit Pathuk. Sehabis perempatan pathuk tiba-tiba motorku nyaris tak terkendali. Ternyata ban belakang kempès-pès…. wah.. payah nih.. pupus sudah harapan tuk bisa nyusul dua motor di depanku……nyari tambal ban, ketemu dan segera dibuka tuh banku.
Aku pengin ngabari yang naik mobil bahwa banku bocor. Kucari HP-ku… lhoh koq gak ada??!!! Setelah kuingat-ingat ternyata tadi ku-charge di sanggar and lupa kubawa.. Waaaahhhhh… Jadi deh kusuruh Nika buat ngabari mobil yang masih di belakang… Ternyata banku udah menderita gejala akut unusableitis dan harus diamputasi untuk diganti ban baru, jadinya malah cepet deh. Belum sampe mobil datang, kami udah cabut nerusin perjalanan ke Semanu. Nika kusuruh lagi ngabarin kalo banku udah oke.
It’s a lonely, lonely, lonely, way. Gak papa lah… akhirnya sampe juga ke rumah Rossi. Ternyata, rombongan pagi belum ada yang nyampe di sana. Whloh koq bisa ya??!! Padahal Jabar and Yoyok di depanku. Coba hubungi yoyok, ternyata HP-nya Nika searching network terus… Wah…
Alfi and Rossi lalu nyari karbit. Aku pengen ikut, tapi koq kayaknya gak perlu. Jadi deh aku ke semuluh sendirian naik motorku. Sampe di depan Seropan kulihat areal climbing… Hmmm.. oke juga… Lalu aku ke Semuluh. Motor kuparkir pinggir jalan kutitipin ama mbok-mbok yang sedang kerja di ladang, sementara aku turun nglihat mulut gua semuluh… Brrrr, ngeri juga sendirian. Mulut gua terpampang di depanku, suara air-pun terdengar dengan derasnya…. kupikir pasti banjir…. wah, jadi ke jomblang nih! … akupun segera balik ke rumah Rossi, tak lupa say thanks to mbok-mbok tadi.
Di sana ternyata sudah terparkir mobil kijangnya m’Top-x. Kabar tersiar bahwa Jabar mengalami gejala yang hampir serupa dengan motorku ketika mo naik Pathuk… woo.. hla ini yang mbuat aku sampe paling dulu……hla wong tadi udah nyalip!!..
Setelah diputuskan mo ke Jomblang, haruslah ada yang masang alat duluan sementara ada yang nunggu Yoyok, Ratih and Jabar…. Padahal yang tau tempatnya cuman m’Top-x only… Kutawarkan diri jadi penunggu mereka bersama Wawan, sedangkan yang lain brangkat duluan, padahal blasss…..aku belum pernah ke Jomblang. Mobilpun berangkat., disusul beberapa motor. Tapi akhirnya motor-motor itu kembali ke rumah Rossi gara-gara mobil m’Top-x udah gak keliatan lagi. Setelah 5 menit berlalu, yang ditunggu datang juga. Kami, penunggang motor (5 motor dan 10 orang) segera meluncur ke arah barat mengikuti instingku. Sampai di belokan ke dua, tiba-tiba tim mobil terlihat di belakang kami….ternyata mereka mampir dulu. Jadilah kami bareng-bareng ke Jomblang.
M’Topix yang menjadi penunjuk arah tak lagi yakin akan jalan yang ditempuhnya. Untuk itu, para motor-riders dimanfaatkan guna mempraktekkan IMTP (Ilmu Medan Tanya Penduduk)… Setelah menempuh perjalanan nan nggronjal akhirnya sampe juga di lokasi. Mulut luweng yang menganga memberi kesan angker….. hiiii…..
Ketika semua sudah meninggalkan tempat parkir dan menuju tempat penurunan, aku dan Wawan yang masih di tempat parkir didatangi seorang inlander. Diceritain kalo gua ini berbahaya…. Baru aja ada yang mati..(sekitar 100 hari)…gara-gara terpeleset saat caving. Wah.. kalo dicritain kembali ke temen-temen yang mo turun, bisa padha gemeter semua nich!! Akhirnya kusimpan cerita itu untuk lain kali…
the wonderland
by muchtar
Sekitar pukul 8.30 rombongan caver 2 tiba di basecamp (Rumahnya Rossi). Setelah menyiapkan segala sesuatunya dan berunding beberapa saat, akhirnya memutuskan untuk mengubah arah tujuan dari yang semula gua semuluh menjadi ke gua jomblang. Dengan pertimbangan beberapa hal antara lain di semuluh sedang banjir akibat hujan.
Kemudian para caver melanjutkan perjalanan menuju jomblang. 10 orang berboncengan dengan 5 motor dan 1 mobil berisi 6 orang dengan jumlah keseluruhan 16 cavers. Perjalanan menuju gua cukup merepotkan karena jalan yang belum diaspal, berbatu-batu, dan becek serta liat. Saat perjalanan rombongan mobil sempat berhenti dan berpose di sebuah telaga yang bernama telaga jetis. Tampak dari kejauhan telaga tersebut berwarna putih, tetapi ketika didekati seluruh permukaan telaga ditutupi tumbuhan hijau yang memantulkan sinar matahari sehingga tempak putih dari kejauhan.
Pukul 10.00 rombongan tiba di luweng Jomblang yang diameternya ±50 meter. Menurut kabar tempat ini dulu merupakan tempat eksekusi sekaligus pembuangan mayat eks PKI (luweng sijine dhing (L.Grubug) – red).
4 orang caver Muchtar, Rossi, Alfi dan dipimpin oleh m’Topx bersiap-siap memasang alat. Berjalan sekitar 20 meter kemudian menuruni tebing yang cukup terjal dan licin dengan alas kaki dan bawaan di punggung. Satu-persatu mereka turun dimulai dari m’Topx, Muchtar, kemudian Rossi bersiap-siap memasang tali yang akan digunakan untuk abseiling turun ke dasar gua.
Satu tindakan bodoh terjadi. Salah satu caver (amatir) melemparkan sepatunya ke arah kami dari atas. Spontan saja salah satu dari kami memperingatkannya karena bagi para pendaki maupun caver haruslah memperhatikan keselamatan orang lain yang ada di bawanya. Longsoran batu bisa saja terjadi hanya dengan sedikit gerakan sembrono. Dan juga satu hal lagi, bagi para caver yang amatir tidak boleh melongok ke bawah ataupun tepi jurang tanpa menggunakan pengaman.
Setelah alat selesai dipasang kemudian m’Topx menunjuk m’Joko untuk membersihkan lintasan. Untuk itu, m’Joko otomatis turun lebih dulu dan memastikan semua peralatan siap serta aman dipakai. Begitu juga dengan keadaan di dasar luweng.
Muchtar sebagai caver ke-2 yang turun memberi masukan kepada jump master bahwa terjadi gesekan antara tali dengan dinding gua yang ternyata juga disadari m’Joko. Kemudian m’Joko memerintahkan m’Topx agar membuat padding. M’Topx lalu memasang matras pada bagian dinding tebing supaya mengurangi gesekan. Selain itu m’Topx juga mengikat ujung sebatang bambu (yang biasa digunakan naik-turun para inlander) pada dinding tebing agar aman kalo digunakan sebagai tangga.
Karena pengalaman buruk caving terakhir di Jomblang yaitu kemaleman, maka dalam memasuki gua tim caver dibagi menjadi 2. Tim 1 turun lebih dulu. ketika tim 1 menuju Grubug, tim 2 turun ke dasar luweng. Setelah tim 1 keluar, tim 2 masuk ke gua Grubug dan kemudian tim 1 naik ke atas.
Setelah 7 orang turun, mereka bersiap menuju Grubug, kecuali m’Itox yang harus menjadi belayer. Tim 1 yang terdiri dari m’ Joko(selaku ketua rombongan), TeJe, Alfi, Deni, Muchtar dan Rossi segera menyiapkan semua alat yang perlu dibawa dan meluncurlah mereka.
Mulut gua menuju Grubug tampak begitu lebar, para caver memasuki gua. Setelah beberapa menit, tibalah caver di pintu sumur berikutnya. Dari bawah tampak sinar matahari merambat lurus tepat pukul 12.00 dan mengenai batu yang berasal dari tetesan air. Pemandangan begitu indah karena sinar tampak lurus. Para Caver berpose di atas batu (m’Joko, Alfi, Rossi, Denny & TJ). Setelah Mumu mengambil gambar, ternyata tutup lensa belum dibuka (yaa elah.?!!.).
Di dalam gua tersebut terdengar suara aliran sungai bawah tanah yang begitu deras dan juga tetesan air resapan dari atas seperti suara air terjun. Selain itu, TJ juga menemukan bianglala kecil dan sempat difoto (tapi koq gak jadi?!!).
Setelah puas menikmati pemandangan, tim 1 ke luar dan kemudian dilanjutkan dengan tim 2. Di saat tim 2 masuk gua, tim1 bersiap naik ke atas. M’Joko sebagai jump master yang pertama kali naik menggunakan prusik. Kemudian di atas, merancang simpul (pruisik) yang bisa digunakan sebagai belay atas. Pada mulanya caver naik menggunakan bambu (yang biasa digunakan para inlander) dengan pengaman tali yang diikat pada seatharness. Setelah sampai di ujung bambu, caver berpindah jalur dan mulai memanjat tebing.
the treasure of the cave
by ratih
Hh… akhire… setelah perjuangan yang begitu keras kami nyampe juga di sasaran. Hm… menghirup udara segar bentar, trus doa bareng2. Untuk keselamatan kita semua… amien.
Wow! Sekitar beberapa saat para penunggu (sebutan toek yang gak bikin anchor) menikmati indahnya mulut gua yang guedhe banget. Sekaligus merenung (cari wangsit kali!). Sementara itu, Alfi, m`Top-x, Mucsy, cs lagi asik masang anchor.
Pertamanya ngeri juga sih ngeliat kedalaman gua yang katanya sekitar 40 meter itu. Apalagi bebatuan yang super licin gini. Tapi… bismillah. Dikit2 bisa turun sampe bawah. Ngantrine yo lumayan lama juga loh.
Dan… uf… akhirnya aku bisa memijakkan kakiku di dasar gua. Hm… subhanallah… pemandangan di bawah tuh bagus banget… stalaktit… hijau… adem… damai… (tapi yo enggak ding, m`Top-x masih tereak2 gitu). Penyusuran dibagi jadi 2 kloter. Kebetulan, pas aku nyampe di bawah, kloter pertama udah slesei, malah siap2 mau naek lagi. Wah, ngeliat Teje yang basah kuyub gitu jadi smakin penasaran.
Hm… akhire… aku ngeliat mulut gua yang sesungguhnya. Wuzz… kabutnya tebel banget di dalem. Pertamane, aku pikir itu air. E… ternyata… hik, jadi pengin malu. Ups… kudu ati2 banget. Jalannya bener2 licin. Waw! Megah baget di dalem. (sst… akusempet mbuat `prasasti` lho) Kami terus masuk dan masuk ke dalem, walopun batu2 itu menjegalku beberapa kali. Dan akhirnya… terereng… wuah… hm… bagus banget. Di pangkal gua itu ada air terjun kecil2an, malah lebih mirip `hujan`. Wuih… ada lobang yang cukup besar di langi2nya (berhiaskan tanaman menjalar bo!). Keren banget. Semburat2 cahayanya keliatan jelas banget. Sumpah, bagus banget! Bahkan ketika matahari seperti mengintip di pinggir lobang itu, kaya` kipas raksasa… hm… Kami sempet poto2 di atas stalakmit (jangan salah, stalaknit yang ini nih kaya` batu kali yang guedhe banget itu loh). Kami juga `hujan2an`… malah m`Hendra ma Alma gebyur2an air `buthek` pake helm `cidhuk`. Weh… asli, semua basah kuyub, but gak tau ya m`Itox, dia pake payung sih. Wagu… Beberapa saat menikmati gemericik air… sambil ngeliat batu2. Wuih… teksturnya bagus banget. Alhasil, ngantongin beberapa. Weh…
Mmph… tiba2 m`Top-x udah teriak2 lagi, suruh balik. Yo uwis, dengan berat hati, kami meninggalkan tempat itu, hiks… wah… basah2 gini, tambah licin aja. Wuh, mulut gua keliatan bagus banget dari dalem. Ah, keluar aja.
Hm… di luar tuh langsung pada sunbathing. Wuss… auranya keliatan jelas. Gak ding, itu mah uap air dari baju basah. Tapi keren bo!
Mmph… belon slesei berjemur, udah disuruh naek. Dapet giliran pertama lagi. Pake pruisiking nih critanya. Kebayang dong lama und capeknya. Tapi pas ngejalanin beneran, ng… gak gitu capek kok. Cuman ribet aja, kudu narik sana, narik sini. Gara2 itu tanganku luka2, hiks… Susahnya tuh pas dah nyampe di batu2. Licin, jadi bingung mo climbing aja ato tetep pruisiking. Mph… tau gak? Aku dah dioverlap ama banyak temen2 yg freeclimbing. Hiks… akhire dengan bantuan m`Y2k aku brasil juga nyampe di atas. Wah, disambut tepuk tangan Alfi. Thx dude! Arigato juga buat yang udah nyuport aku dari atas dan bawah sana. Thx baget.
time to go home
by TJ
Kami divisi hura-hura yang terdiri dari golongan muda: TJ, Nika, Muchtar Syahroni dan pendatang baru cheza, serta golongan tua : saudari Joko dan m’Topix as the drivernya. Tim kita kehilangan satu anggota yakni Al’manyul. Al’manyul tergabung dengan tim klomor (alias kelompok motor). Divisi hura-hura pulang lebih awal dari tim klomor dikarenakan mobilnya m’Topix lampunya gak nyala. So, biar gak kemaleman di jalan, kita percepat pulangnya.
Di mobil, yang terlihat sangat kotor dan kemproh adalah TJ dan nicanica, tapi gak papa yang penting kita tetep cantiex!! Kami langsung menuju kota Wonosari untuk mencari masjid yang nyaman, aman, tentram, damai, dan bahagia serta sejahtera untuk mandi. Kami menemukan sebuah mesjid yang gedhe buanget dengan air yang melimpah ruah. Puas deh kami mandi sambil menghambur-hamburkan air kolah. Sekalian saja numpang sholat, namanya juga masjid, tempatnya orang sholat!!
Kamipun melanjutkan perjalanan. Tadinya TJ dan Nica kira kita bakalan langsung pulang, tapi ada sebongkah rencana di otaknya saudari Joko dan m’Topix yang gak kami ketahui. Sebagai penumpang yang baik, maniez, cantiex dan menawan, rendah hati, serta tidak sombong, kami ngikut aja rencananya saudari joko ünd m’Topix. Ternyata usut diusut kita mau ke Dlingo buat mencari rumahnya pak Ponidi. Mau nyelesein urusannya m’Topix. Perjalanan ke rumah sasaran cukup jauh tapi suasananya sangat menyenangkan. Pemandangan indah menawan di kiri-kanan jalan. Dengan iringan lantunan lagu Ahmad Dhani, plus pemandangan matahari terbenam alias sunset. Wouih, apik tenan cah!! Benar-benar lukisan Tuhan yang jarang kita lihat kalo kita ada di Jogja.
Jalanan yang sepi serta naik turun membuat m’Topix menjadi-jadi. Laksana pembalap F-1. m’Topix ngebut seolah-olah tidak membaw beban nyawa anak manusia di belakangnya. Karena masih ingin hidup, otomatis kami menjeri-jerit ketakutan. Tapi Jeritan kami tak membuahkan hasil apa-apa, karena m’Topix tetap aja ngebut. Tapi jujur aja kita menikmati kok!! Asyik buanget soalnya. Setelah urusannya m’Topix selesai kamipun langsung pulang. Kalo gak salah sekitar jam 17.30. mbuh ah.. rangerti akoe!!!
Sampe di Jogja/ di Sanggar sekitar jam 6.30 tapi tim klomor belum datang…. sepi…. setelah itu aku pulang…………….
last men standing
by itox
Waktu udah lewat jam 2 siang, beberapa orang masih di bawah. Ratih masih berusaha menaiki tebing. Akupun memutuskan untuk Sholat Dhuhur di bawah, segera kuminta ponco dari atas tebing dan mengajak temen-temen tuk sholat. Aku ganti celana, lalu diketahui bahwa Wawan terkena ajakanku sholat. Wudhu dari tetesan air yang telah membentuk stalaktit di atas……asyik juga. Usai aku dan Wawan sholat, yang lain segera kuanjurkan untuk sholat. Alma bilang ”Raono kaos kaki je!!!”. Aku menyahut,”nggo kaos kakiku po piye?”. Setelah sesaat berlalu akhirnya Alma mau juga make kaos kakiku (padahal teles-teles piyé gitu) untuk sholat. Hendra dan Alma lalu sholat berjamaah. Dalam benakku, akulah yang bakalan jadi orang terakhir yang naik ke atas, lalu kubilang pada Wawan bahwa dia juga orang terakhir yang naik, bareng aku.
Wawan dan aku bertanya-tanya akan keberadaan areal lurus di depan tempat pendaratan. Hmm ada apa ya di sana? Seperti sebuah dataran di bawah (batinku).. “Mudhun mrana yuk”, ajakku kepada Wawan. Diapun mengiyakan… Segera saja kupake sepatu lalu berkata pada orang yang masih tertinggal di situ (Yoyok, Hendra, Alma) jika aku nggak kembali dalam 10 menit berarti aku dalam bahaya, tolong jemput aku di bawah (live or dead). Aku dan wawan turun ke bawah menguak rerimbunan.. Wah jalannya ternyata licin. Di depan terlihat cekungan yang menjorok ke dalam. Kucoba terus turun… tiba-tiba mak tlusuuur gubrak, aku terpeleset dan refleksku meraih pohon kecil di sebelah kananku menggunakan lengan. Alhasil tanganku bertato bintik-bintik merah gara-gara tergesek (jawa=kebarut) pohon. Tapi alhamdulillah, pohon itu menyelamatkanku dari bahaya….. Hmm aku masih berjalan lagi turun, kulihat Wawan sudah ketakutan dan kelihatannya udah pengen naik lagi. Akupun berhenti, di depan bawah terlihat sebuah mulut goa yang tergenangi oleh air. Aku tak berani melanjutkan langkah karna sudah tak ada pohon lagi untuk berpegangan, mudah untuk turun tapi akan sangat susah untuk kembali naik karna memang licin. Segera saja kami kembali ke atas dengan masih bertanya-tanya akan apa yang sesungguhnya ada di bawah.
Sampai di atas, aku yang merasa haus lalu mengambil botol aqua dan mencoba menampung tetesan air dari stalaktit. Hmm susah juga…akhirnya dapat juga kutaruh botol itu berdiri tuk menampung air setelah diberi beberapa batu di pinggirnya. Setelah itu kami mengemasi barang-barang yang masih tertinggal di situ agar nanti ditarik ke atas sebelum orang terakhir naik. Tak lupa juga aku ngobatin lukaku….Waktu berlalu, akupun teringat akan botol untuk menampung air tadi… segera kuambil dan mendapatkan air sekitar ¼ botol kecil aqua. Kubagi bertiga bersama Hendra dan Wawan yang masih ada di bawah. Wuahhhhh suegernya…. tapi koq cuman dikit… tak kurang akal aku memotong botol infus untuk corong menampung air…tapi gak jadi digunakan gara-gara bau dan diketahui oleh Wawan bahwa botol itu diambil dari tempat sampah…..
Hendra sudah mulai naik meniti tali, sementara barang-barang dinaikkan dari tali satunya. Aku masih merasa haus… kuambil sebuah helm cidhuk lalu kugunakan untuk nampung air tetesan stalaktit. Wah.. kali ini dapet banyak… siip lah…. kuminum dari helm itu.. sueger juga.. – mirip kaya film perang-…lalu kuberikan sedikit ke Wawan. Aku suruh wawan nampung air lagi pake helm itu sementara aku melihat Hendra merampungkan tugasnya meniti tali. Wawan kembali membawa se-helm air seger… aku segera minum sampai puas, Wawan juga begitu.
Tiba saatnya kami berdua ke atas. Kusuruh Yoyok yang berada di atas untuk menukarkan anchor pengaman climbing dan anchor untuk pruisik karna posisinya yang kurang menguntungkan. Tiba-tiba… terdengar suara: “adhuh tiba”….“wuuuuuuunggggg”….. “thingggggggggggg”. Aku terpana, tubuh ini terdiam, aku terpaku..(eh nggak dhing… nggak bawa paku + pukul besi koq!) padahal ingin ku menangkap figure of eight yang terjatuh itu. Dua meter di depanku benda itu jatuh mengenai bebatuan dan melenting 3 meter ke atas dan jatuh di rerimbunan. Yoyok langsung bilang, ”Sorry-sorry, salahku… Rasah jupuk wae.. Suk takganti”. Tetap saja Wawan mencari benda itu di rerimbunan dan menemukannya… Jika tak pengin menggunakannya lagi paling nggak bisa buat pajangan.
Setelah selesai dengan urusan anchor dan figure of eight yang jatuh, ternyata aku harus berurusan dengan tali yang nggubet di bambu. Alhasil, aku naik dulu menggunakan pruisik tuk melepaskan gubetan tali di bambu. Setelah itu segera Wawan menyusulku naik memakai SRT set. Alhamdulillah Wawan dan aku sampai di atas disambut oleh Yoyok dan Alfi. Tali segera dilepas, alat-alat dibawa naik ke tempat parkir. Sampai di tempat parkir ternyata tersisa 4 buah motor dan semua berjumlah 8 orang, yang lain sudah naik mobil mendahului kami. Barang segera dikepak, kusadari bahwa sandalku tinggal sebelah kiri karna sebelah kanan jebat pas aku ngambil air di bawah. Tak apa lah… pake sandal selèn (yang satu karet, yang satu kulit asli). Setelah siap pulang ke rumah Rossi aku mengajak temen-temen berdiri baris di pondasi di samping luweng Jomblang. Menghadap luweng kami bershaf lalu memberikan penghormatan terakhir kepada luweng dan membungkuk 3x. Tentunya tak lupa berterimakasih kepada Allah yang telah memberi pengalaman ini kepada kami.
Perjalanan pulang dilakukan dengan formasi: Wawan+Rossi, Alfi+Hendra, Yoyok+Ratih, Aku+Alma. Sekitar jam 4 kami tiba di tempatnya Rossi. Istirahat, sholat dan mandi (bagi yang mandi), itu yang kami lakukan. Disuguh sepiring pisang kepok putih godog. Dibuka kulitnya, pisangnya nggak mau berdiri. Mbuka satu lagi, berdiri sebentar lalu mak pléyot, uh… pisangnya lemessss. Alma dan Ratih tak lupa menelpon rumah guna mengabarkan keberadaannya. Ternyata mandinya lama-lama semua….. setelah ku lihat ternyata bak mandinya guedhe banget… bisa buat renang…(jangan-jangan padha kungkum di situ ya?!)…..
Dan orang-orang masih santai…… ada yang masih mandi, ada yang nonton langit, dll, dsb,etc…………… dan sebenernya aku sudah tak sabar tuk pulang karna punya tanggungan 2 orang cewek.
Kebetulan saja ortunya Rossi hendak ke Jogja pake mobilnya. Barang-barang milik bersama kami titipkan ke ortu-nya Rossi biar di-drop ke rumah Rossi di Gedong Kuning… Lumayan-lah gak jadi nenteng seplastik besar sepatu basah nggilani plus njijiki dari Semanu sampe Jogja. Hari makin larut, masih saja kami tidak cag-ceg. Kami putuskan untuk mencari masjid untuk maghrib dan juga makan di jalan.
Ketambahan motor Rossi formasi sedikit berubah: Yoyok dan aku tetap. Alfi dan Wawan Sendirian. Rossi mboncengin Hendra. Rossi kusuruh menjadi komja. Tepat ketika adzan maghrib kami pun berangkat pulang. Wah.. yoyok koq tambah lambat?. Hmm.. Aku sempet rodo nganyel piyé gitu… tugas kita khan mengantar 2 makhluk yang berjenis cèwèk yang harus segera sampai rumah dengan seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja. Kini aku berkendara berada di posisi 4, di belakangku hanya tinggal Yoyok.
Sampai di kota Wonosari, dari arah kantor polisi menuju jembatan, kulihat beberapa sosok motor di depan berbelok ke kanan (yang kuyakini motor rombongan kami), lho tapi koq ada yang bablas????… sampai di pertigaan itu (cedhak pasar kulon jembatan) aku berhenti, biar Yoyok tahu kalo aku mo belok. Detik demi detik akhirnya Yoyok sampai juga, aku dan Yoyok lalu belok kanan. Instingku kugunakan… karna benar-benar saat itu aku sudah kehilangan lacak motor temen-temen di depanku. Dengan cepat kulalui jalur yang biasanya digunakan kalo mau ke Jogja dari arah timur.. Sampai di alun-alun terlihat juga sosok mereka… Hmm.. alhamdulillah gak jadi kepisah. Akhirnya kami masuk ke masjid Agung Wonosari. Lho… tapi koq kurang 1 personil yang tak lain adalah Wawan.
Kuputuskan bahwa Wawan sudah MIA (Missing in Action). Akupun segera berpikir.. lebih baik semua bareng-bareng ngambil jalan yang salah daripada kepisah meski yang kepisah itu mengambil jalan yang benar. Ya gitu tuh akibatnya… pulang sendiri deh!!!
Kami pun segera sholat di mesjid itu. Selesai sholat kami (bertujuh) berniat menghabiskan filmnya Alma yang dari tadi belum habis… Dijepret sekali, lho koq masih bisa diputar kokangannya, padahal paling tidak sudah 5 kali berada di posisi 36. Diputuskan kalo fotonya bakal numpuk, segera pula dilakukan penggulungan film oleh Yoyok. Belum sampai sekali putaran malah mak thel… film-nya putus… Wah…. akhirnya diserahin ke aku kamera itu, biar besok diambil trus dicuci film-nya….
Sekitar jam 7 malem kami keluar mencari makan, dapatlah sebuah warung tenda di sebelah timur alun-alun Wonosari. Pesan 4 pecel lele & 3 nasgor. Wah, ternyata dikasih 4 lele + sebakul penuh nasi dan 3 gundukan nasi goreng. Wah…. banyak nian…
Selesai makan kami-pun pulang menuju Jogja… Iring-iringan motor berjalan meniti jalan gelap dan suram. Lagi-lagi Yoyok lambat… tapi kali ini aku selalu di belakangnya.. ndhak ilang…. Akhirnya 2 motor di depan (Alfi, Rossi & Hendra) dan 2 motor di belakang (Yoyok & Ratih, Aku & Alma). Turun dari bukit pathuk, sampai juga di areal pandang. Kami semua berhenti sejenak tuk menikmati pemandangan Piyungan dan kota Jogja di kejauhan di malam hari.. such a beautiful scenery…..
Perjalanan dilanjutkan… selepas piyungan, aku dah nggak tahan lagi di belakang Yoyok, jalannya terlalu lambat buatku. Akhirnya kukendarai motorku seperti biasa (nggak lambat). Di Ringroad aku belok kanan biar bisa langsung nganterin Alma pulang. Berhenti dulu ah di fly-over Janti . Kami berhenti sejenak di tikungan fly-over merasakan getaran bus yang lewat – seperti gempa. Sampai di rumah Alma, aku langsung diinterogasi oleh ibuknya gara-gara pulangnya kemaleman (jam 9 kurang)…..dengan jujur kukatakan yang sesungguhnya terjadi…. Hmmm…. Sesudah itu akupun meluncur pulang, menikmati kesendirian dan rasa lelah dan kantuk yang tersisa.
cleaning the mess
by alma
Semua itu berawal saat TJ and me maen ke sanggar pas istirahat. Alfi yang ada di sana menyuruh kami untuk membaca tulisan yang terpampang di papan pengumuman. Tulisan itu memberi tahu kami bahwa pulsek hari itu bakal ada acara balas budi (nyuci alat). Kontan saja yang terpikir adalah ogah ikut, buat apa sih. Tapi ada rasa bersalah juga. Kenapa? Karena kalo alat-alat itu belum dicuci berarti pekerjaan belum tuntas. Tugas belum usai. Yang bikin pikir-pikir karena TJ ada les, jadi kemungkinan gak bisa ikut. Rembug-rembug, Imus mau ikut dan disusunlah rencana. Namun tiba-tiba imus teringat sesuatu. She have to nyekar ke makam almarhumah ibunya. Ya sudahlah, toh aku juga ada KLR (Larutnya KIRPAD). Paling-paling ntar cuma mampir sebelum pulang.
Siangnya setelah KLR, aku maen ke sanggar lagi. Ternyata pada belum berangkat. Walah walah walah, jadinya aku ikut berangkat bareng. Yang berangkat waktu itu: Alfi, Deny, M’Wawan, M’Itox, M’Muchtar, M’Hendra & me of course. Kami lewat jalan yang beda-beda. Aku yang berangkat lumayan akhir malah sampai Babarsari duluan. Sampai sana kupikir pada di mana tahunya tak lama mereka nongol juga. Sungainya sudah bertambah deras karena hujan, airnya-pun coklat. Diputuskan bahwa tak jadi nyuci alat, tapi mbakar jagung thok.
Jembatan tepat di atas selokan mejadi tempat kami parkir. Di situ kami bertemu seorang nenek yang sedang merenung. Setelah disapa, beliau melarang kami untuk mencuci di sungai. Setalah dijelaskan oleh M’Hendra bahwa kami hanya akan membakar jagung saja, Nenek itu menyuruh kami berpindah lokasi. Beliau bercerita tentang cucunya yang meninggal 3 tahun lalu. Cucunya saat itu baru saja lulus SMP & sudah diterima di SMU tapi meninggal karena terjatuh dari jembatan babarsari. Untuk menjaga perasaan nenek itu, kami mencari-cari tempat yang tepat. Tapi apa boleh buat tak ada tempat lain yang menarik.
Lalu api mulai dinyalakan (mulai, tapi gak nyala-nyala). Saudari Joko tiba-tiba saja datang membawa tempe hasil gorengan sendiri dan kopi anget. Biar nggak sido-sido mbakar jagung, setidaknya ada pengganjal perut-lah. Sambil memakan hidangan dari saudari Joko, M’Wawan yang pantang menyerah menyalakan api dan M’Muchtar yang mengulek bawang untuk bumbu jagung bakar, tiba-tiba kami melihat sebuah benda belang-belang terhanyut di sungai. Dipandangi beberapa saat, sadarlah bahwa itu adalah kucing yang mati & tubuhnya sudah mlembung. Kasihan ya!!!
After a few mmoment, TJ dateng, di belakangnya ada m’Yoyox & m’Rossi. M’Rossi yang baru saja datang, nampak bersemangat dan dengan santainya langsung mengoles-oles bumbu pada jagung. Gubrakk!! Apinya aja belum nyala (& belum tentu nyala)!! M’Wawan yang merasa gadgetnya habis (bensin) mencoba mengambil dari motor. Satu detik, dua detik, ….. Satu menit, dua….. Eh, malah pulang dengan tangan kosong. Tampaknya pradana kita ini tak tahu saluran bensinnya di mana?! Alfi akhirnya turun tangan dan tertampunglah beberapa tetes bensin dalam botol yang sudah disediakan.
Sambil melihat usaha gigih m’Wawan menyalakan api, most of us (m’Yoyox, m’Hendra, TJ, m’Itox, m’Muchtar & me) maen jempol jengat. Lumayan seru lha wong m’Muchtar jempole gak kurang-kurang always 2. He..he..he.. melihat gelagat ada yang bakalan kalah, diputuskan bahwa yang kalah dicoreng-cemoreng wajahnya dengan arang. Yang sudah diperkirakan terjadi juga. M’Muhtar kalah. Hi..hi..hi. Arang disiapkan & serbuuuu!!! Hasil pembantaian adalah wajah m’Muchtar yang coreng-cemoreng. Second game, m’Rossi ikutan. Permainan mulai membosankan karena berlangsung terlalu lama. Finally m’Itox vs me. Unluckyly, sing kalah aku. Terang aja semua tangan langsung menyerbu wajahku. Wis ngono dikeki kumis maneh karo m’Yoyox. Hiks L. Entah karena sirik atau apa setelah aku kalah permainn dihentikan. Uh menyebalkan!!!
Our face (m’Muchtar & me) had been cleaned. Menunggu jagung matang sambil ngobrol-ngobrol. Lihat Deny yang kesulitan menusukkan batang kayu ke jagung karena garpu yang sudah dibawa tak digunakan, nyama-nyamain hidungnya Deny sama m’Dani, and so on and so on. Akhirnya ada jagung yang mateng. Punya saudari Joko dimakan TJ & me, maklumlah kita kan spesies Homo Sapiens Gossiper paliensis. Setelah perut kenyang (17.55) kami (m’Hendra, TJ & me) pulang. Pokoknya home sweet home-lah……
Sekilas info: akhirnya, tas kesayangan Joko Perwoto yang sudah menyertainya ke mana saja selama bertahun-tahun berhasil dilarung di Sungai Kuning Babarsari. Disinyalir berisi bara panas sisa pembakaran jagung di atas selokan. Selamat jalan tas!!
Hari berikutnya berhasil juga kita nyuci alat….. Alat-alat dicuci di belakang lab Biologi… lalu diangin-anginkan di sanggar.. kecuali untuk tali utama kita nyucinya di Babarsari… Sampe maghrib baru pulang……………….
Joko-Alfi-Rossi-Alma-Itox-Muchtar-Ratih-TJ
Petualangan kami tak akan pernah berhenti
Selama nyawa masih di tubuh ini
Sebuah catatan perjalanan para petualang yang selalu haus dengan tantangan, mencari pengalaman tanpa perencanaan, tapi siap berkumpul untuk bersama-sama mengadakan petualangan yang bisa menjalin persahabatan dan keakraban diantara kami….komunitas padrover yang disatukan oleh alumni Ambalan.
Berkumpul bersama teman-teman lama merupakan suatu kebahagian. Tetapi akan terasa luar biasa apabila kita dapat berkumpul dengan teman-teman dari berbagai angkatan. Mulai dari yang masih SMA sampai alumni yang sudah lulus. Hal ini tentu saja sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan menimba pengalaman dari para senior.
Seolah-olah seperti kebiasaan yang tidak lazim namun menguntungkan, perjalanan kali ini dimulai dari sebuah “sms” yang intinya mengajak para alumni ambalan untuk berkumpul dan mengadakan pendakian. Rasa kekeluargaan yang begitu rekat sekaligus momen yang tepat untuk melatih fisik, mental, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui keindahan alam.
Diawalai pesan singkat dari Surabaya ke Solo, kemudian merembet hingga ke Jogja. Dan akhirnya seminggu kemudian kami dapat berkumpul : Itox, Wawan dan Mumu. Rencananya akan mengadakan technical meeting buat anak SMA yang mau ikut, tapi sepertinya adik-adik lagi semangat belajar. So, kami tetap memantapkan tekad untuk mengadakan pendakian ini, sambil menunggu Hendra yang masih ragu-ragu pada jumat siang_satu hari sebelum pendakian. Hingga pada sorenya, tim pendakian sundoro kali ini ketambahan peserta satu lagi yaitu Taruna “Una”.
Sabtu, 17 Februari 2007
Cuaca kota Jogja hujan deras. Rombongan (Wawan, Taruna, Hendra, dan Mumu) berkumpul di sanggar ambalan untuk checking barang sekitar pukul 12.00. berhubung hujan tidak kunjung reda, akhirnya kami berangkat pukul 14.30 menuju rumah Pak Marsudi(hehehe..bapakke sapa ya??)_rumah salah satu tim. Di sana kami menunggu Itox yang akan datang dengan belalang tempurnya. Repackaging dilakukan lagi untuk memastikan perbekalan siap, mulai dari tenda dome, SB, kompor (berhubung tidak ada kompor gas, akhrinya pake kompor sepirtus), alat masak, dan tentu saja air.
Setelah bercengkrama dan mengisi perut dengan mie instan, akhirnya rombongan berangkat menuju Sundoro pada pukul 17.00. Perjalanan menuju Sundoro pun dimulai. Menjelang kota Magelang hujan mengguyur. Karna hari sudah gelap, rombongan singgah di sebuah masjid untuk sholat. Setelah itu ketiga motor melaju kembali dibawah guyuran hujan menuju arah Temanggung. Selepas kota Parakan yaitu di jalanan menanjak menuju Kledung, kabut tebal dan rintik hujan menyelimuti. Jalanan pun harus dilalui dengan hati-hati karena jarak pandang yang hanya beberapa meter. Suasana mistis nan mencekam ini menyertai perjalanan kami hingga sampai di Kledung sekitar pukul 20.00 wib.
Setelah itu kami menuju ke base camp, tapi rombongan malah tersesat karena penunjuk arah yang tidak kelihatan. Setelah bertanya kepada warga, tim dapat menemukan lokasi base camp. Suasana base camp saat itu cukup ramai. Ruangannya penuh dengan kentang-kentang yang sepetinya habis dipanaen dan tentunya para pendaki yang akan naik malam itu juga.
Kami rombongan berlima istirahat sebentar setelah kurang lebih 3 jam menempuh perjalanan bermotor sambil minum teh panas yang bisa dipesan di basecamp. Di base camp kita dapat istirahat, pesan makanan & minuman, menitipkan kendaraan, dan tentunya melaporkan keberangkatan pendakian kita agar dapat dimonitor oleh tim SAR. Saat kita melapor, setiap pendaki akan dikenai biaya Rp. 5000.
Istirahat dirasa cukup. Kami pun bersiap-siap melakukan pendakian. Tepatnya pukul 21.15wib, tim mulai berangkat. Pada awalnya tim kebingunangan memilih jalur karena dari base camp tidak diberikan peta pendakian. Tapi setelah menemukan jalur utama, pendakian pun kembali dilajutkan.
Cuaca pendakian saat itu langit mendung. Dikanan-kiri rute terhampar perkebunan sayuran petani. Semakin ke atas, kami dapat melihat fenomena yang menakjubkan. Kilatan merah petir tampak membelah langit selatan. Selain itu kami juga dapat melihat puncak gunung Sumbing yang separuh badannya ditutupi awan. Hingga kami sadar bahwa kami diapit diantara dua gunung Sumbing dan Sundoro.
1¾ jam kemudian kami tiba di pos 1. Perjalanan menuju pos 1 ini cukup melelahkan. Karena kami belum pemanasan. Dan hal semacam ini normal, sebelum menemukan ritme berjalan yang tepat. Tidak berlama-lama berhenti tim kembali berangkat. Tapi sayangnya rombongan terpisah. Itox, Taruna dan Mumu di depan sedangkan Wawan dan Hendra masih asyik dengan rombongan dari UNY.
Tapi akhirnya kami dapat berkumpul kembali di pos 2 setelah berjalan sekitar 30 menit dari pos 1, tepatnya pada pukul 23.00 wib. Di pos ini kami sempatkan untuk berfoto ria. Langit tidak mendung lagi. Dengan perasaan yang agak merinding (coz suasananya emang serem banget), kalo-kalo rombongan yang ganjil ini berubah menjadi genap.(^_^). Dicengkram cuaca dingin, kami pun melanjutkan pendakian.
Semakin lama berjalan kondisi tim mulai kelelahan. Perdebatan akhir perjalanan malam itu pun dimulai. Antara meneruskan sampai puncak malam itu juga atau nge-camp di pos 3. Karena ada anggota tim yang sudah terserang kantuk berat, akhrinya diputuskan rombongan akan nge-camp di pos 3.
Tepat pukul 02.00wib, tim sampai di pos 3. areanya cukup luas. Di sana sudah ada tiga rombongan pendaki yang mendirikan tenda. Sambil menahan udara dingin, kami cepat-cepat memasang dome. Setelah dome berdiri, wawan dan Taruna langsung istirahat dan tidur di dalam tenda. Sedangakn Itox, Hendra, dan Mumu masih sibuk menghangatkan diri dengan wedang sekoteng campur marimas dan mie rebus yang dimasak dengan kompor spritus. Ibarat kata pepatah “kenikmatan akan terasa luar biasa di saat-saat yang tidak biasa”. Mie rebus yang biasanya rasanya biasa-biasa saja, menjadi nikmat sekali. Meskipun fasilitas hidup saat itu sangat minimalis, tapi sensasi yang kami rasakan sangat luar biasa. Jadikan kami selalu bersyukur padaMu ya 4JJI. Jam 3 dini hari, semua tim tertidur.
Ahad, 18 Februari 2007
Awan di langit timur tampak kemerahan. Tapi udara dingin belum juga sirna karena sinar matahari belum terbit dan menembus kebekuan tanah gunung Sundoro. Sebelum mentari bersinar, Taruna, Wawan, Itox, dan Hendra telah berdiri menatap ke arah timur dan siap menyambut sang fajar “sun rise”. Sedangkan Mumu masih mendekam di dalam tenda.
Hingga waktu itupun tiba. Dengan sinar lembutnya, matahari terbit tampak indah. Tidak ada tempat yang begitu tepat untuk mendapatkan sisi keindahan matahari selain puncak gunung. Bagaikan pemuda jomblo yang tak kunjung menemukan dambaan hati, percintaan antara gunung dan matahari seolah menjadi penawar bahwa cinta itu memang indah.
Kesempatan inipun tidak kami lewatkan begitu saja. Pemandangan yang menakjubkan ini kami abadikan dengan foto-foto. Sambil terus menatap ke arah “sang fajar”, kami menanti sinar hangatnya mencairkan hawa dingin yang membekukan tubuh kami.
Perjalanan belum selesai. Meskipun kami sudah mendapatkan keindahan sun rise, tetapi kami belum mencapai puncak. Setelah cukup menghanagtkan diri dengan minuman sereal dan packing, perjalanan kami lanjutkan kembali, tepatnya pukul 07.00wib rombongan berjalan menuju puncak.
Di awal perjalanan ini, Wawan, Hendra, dan Mumu tampak kewalahan. Kaki yang hari sebelumnya telah menemukan ritmenya, pagi itu kacau kembali. Melewati jalur yang semakin menanjak, kami pun sering berhenti untuk menkondisikan otot. Sedangkan Itox dan Taruna berjalan jauh di depan. Sepanjang perjalanan menuju puncak sangat melelahkan. Rute yang berbatu-batu kadang melewati jalan tanah licin dan membuat kami harus berhati-hati agar tidak terpeleset (tapi ya tetep kepleset juga=p).
 masak mie di lereng Sundoro
Setelah melewati hutan Lamtoro 1 dan sampai di daerah berbatu, posisi tim berubah. Mumu jauh di depan. Diikuti Itox , Taruna, Wawan yang sedang foto-foto. Sedangkan di belakang Hendra jauh ketinggalan. Di atas dataran kecil yang agak menjorok kami berempat berhenti sambil menunggu Hendra yang tidak kunjung tampak batang hidungnya. Karena terlalu lama, akhirnya kami puruskan untuk masak, soalnya paginya kami belum cukup makan hanya sereal dan atau minum. Pikir kami sebelumnya perjalanan menuju puncak tidak jauh dan akan masak di sana. Tetapi ternyata perkiraan kami meleset.
Menu sarapan siang itu adalah sarden campur mie instan. Celakanya kompor dan spritus dibawa Hendra yang tak kunjung tiba. Akhirnya kami membuat perapian dengan ranting-ranting pohon dan dua buah batu sebagai kompor. Dua buah mie instan dicampur dengan sareden ukuran sedang ditambah telur asin. Sambil menikmati makanan, tanpa kamisadari ternyata sinar matahari semakin terik. Rasa haus tak terhankan lagi.
Saat akan memulai perjalanan kembali, ternyata persediaan air kami telah habis. Hal ini sempat membuat mental kami down. Berhenti mendaki dan turun ke bawah atau terus naik ke puncak. Tapi dengan harapan bahwa di puncak nanti kami bisa mendapatkan air dari kaldera, akhirnya kamipun meneruskan perjalanan ke puncak.
Itox dan Taruna berjalan di depan. Wawan dan Mumu cukup berdekatan berjalan bersama. Sedangkan Hendra jauh tertinggal di belakang. Saking jauhnya, Mumu yang berjalan di belakangnya Wawan, sempat tertidur karena tidak kuat menahan kantuk, tapi Hendra tak kunjung tiba.
Ditengah perjalanan yang tanpa air, semangat Mumu tampaknya mengendur. Bibirnya mulai tampak mengering. Sepertinya perasaannya mulai kacau. Dia tidur cukup lama seolah-olah tidak ingin melanjutkan perjalanan. Hingga akhirnya Wawan memberitahu Mumu bahwa ada genangan air di atas sebuah batu. Meskipun didasarnya penuh dengan endapan tanah, tapi air ini sangat berguna. Setidaknya bisa memacu semangat untuk mncapai puncak. Sepetinya air ini berasal dari air hujan yang turun sehari sebelumnya. Dengan sisa tenaga yang ada Mumu mencoba minum air itu dengan mendekatkan mulut pada air. Tapi hal itu tidak mungkin karena airnya terlalu sedikit bila dibandingkan dengan endapan yang ada. Akhirnya dengan tutup botol, empat-lima teguk dapat membasahi kerongkongannya.
Keadaan Itox dan Taruna sedikit saja berbeda. Seakan tanpa emosi, mereka menyusuri jalan dengan langkah kecil, pelan tapi pasti mendaki jalan setapak yang terjal. Menjelang hutan Lamtoro 2 mereka menemukan genangan air di atas batu, tapi sengaja tidak diminum karena belum terlalu haus dan terlihat tidak higienis. Taruna bilang kalo air itu mungkin udah lama di situ, sehingga mungkin terkontaminasi. Setelah sengaja melewatkan air di atas batu itu (yang akhirnya diminum Mumu) dan setelah melalui hutan Lamtoro 2 sampailah di hutan Edelweiss. Sayangnya pada saat itu bunganya tidak banyak yang mekar. Di situ Itox menemukan sebuah ceruk berisi sedikit air di jalan setapak yang bertanah cadas. Mungkin seperti menemukan oase di gurun pasir. Karena perbekalan air sudah benar-benar habis dan kami benar-benar haus, maka kami berdua berusaha meminum air itu. Tutup botol digunakan untuk mengambil air dari ceruk kecil yang ukurannya tidak lebih besar dari tangan terebut untuk kami minum. Betapa segarnya air itu…..
Perjalanan dilanjutkan. Di sepanjang jalan tampak hijau oleh pohon-pohon perdu Edelweisss, dinaungi kabut yang datang dan pergi. Sinar matahari terasa menyengat walaupun hawa dingin dirasa.
Pukul 12.00 akhirnya Mumu mencapai puncak. Di depan adalah kawah/kaldera yang cukup luas dengan danau dibawahnya. Anehnya tempat itu sepi, hingga terdengar suara Itox dan Taruna yang sudah tiba dan turun ke dalam kaldera untuk mencari air dan foto-foto. Mumu pun menyusul dengan membawa botol kosong. Sedangkan barang bawaannya ditinggal di atas. Kamipun minum sepuasnya. Air yang kami minum bukanlah sumber mata air melainkan air hujan yang menggenang ketinggiannya tidak sampai satu jengkal. Sebenarnya ada danau yang melimpah dengan air, tapi letaknya di level kaldera yang lebih bawah lagi. Untuk mencapainya kami harus turun lebih dalam lagi, oleh karena itu genangan air di kaldera level atas ini mungkin sudah cukup.
Beberapa menit kemudian Wawan sampai di puncak dan bergabung bersama Mumu, Itox, dan Taruna di kaldera Sundoro. Sambil istirahat dan menunggu Hendra yang jauh tertinggal di belakang, Wawan menyaring air dengan kertas tissue untuk perbekalan.
 Mengambil air di kaldera Sundoro
Satu jam kemudian akhirnya Hendra tiba di puncak. Dengan wajah yang tampak kelelahan Hendra turun ke kaldera bergabung dengan kami semua. Kabut mulai turun kembali. Rintik-rintik hujan semakin deras. Kamipun berteduh di bawah bukit, bergantian sholat jamak qosor dhuhur-asar.
Setelah gerimis reda, kami semua kembali naik ke bibir kaldera, menyiapkan perbekalan untuk turun. Kabut semakin tebal. Pukul 14.15 kami menempuh perjalanan turun dari puncak.
Sebenarnya perjalanan turun ini lebih mudah daripada saat kami naik. Meskipun seperti itu, kami tetap berhati-hati, karena jalan yang dilewati cukup licin dan bisa membuat kami jatuh. Berkali-kali Mumu terpeleset. Untuk perjalanan turun sampai pos tiga kami menargetkan 2-3 jam. Lagi-lagi Hendra teritnggal jauh di belakang. Saat kami berempat telah tiba di pos 3 jam 17.00, hendra belum juga tiba.
Setelah tiba, ternyata Hendra mengaku kakinya sakit, jadi tidak bisa jalan cepat. Kamipun istirahat sebentar. Kami targetkan sebelum jam 9 malam kami harus sampai kembali di base camp, karena persediaan makanan dan senter kami sudah menipis.
Baru beberapa meter berjalan, permasalahan muncul. Hendra tiba-tiba merasa pusing dan minta berhenti sebentar. Sayangnya kami lupa membawa obat-obatan seperti Antalgin atau parasetamol untuk obat pusing dan obat panas. Kami hanya membawa obat luar saja. Beberapa menit kemudian Hendra mual-mual dan muntah. Sepertinya dia tidak kuat melanjutkan perjalanan.
Hari semakin gelap dan udara semakin dingin, sedangakan Hendra berbaring sakit. Wawan berusaha membuat air panas untuk kompres. Namun terjadi insiden kecil yaitu ketika Wawan akan menambah isi kompor spirtus, ternyata ada bara api di kompor yang belum padam. Ketika spirtus dituang seketika itu api menyulut spiritus dan membuat botol spirtus tersebut meledug. Api sempat membakar bagian bawah Hendra yang sedang berbaring, namun segera diatasi. Wawan pun menderita luka bakar ringan. Spirtuspun kini tinggal sedikit.
Udara berhembus kencang dan Hendra semakin kedinginan. Setelah dikompres dan keadaan tidak juga membaik, Wawan “ngeroki” Hendra yang sepertinya masuk angin. Berkali-kali dia muntah dan menggigil kedinginan.
Karna hari beranjak gelap Una dan Itox membuat api unggun dari ranting-ranting pohon di sekitar situ sebagai peneghangat, sedangkan Mumu sibuk membikin makanan untuk mengisi perut Hendra. Kamipun memutuskan untuk menghubungi tim SAR yang ada di base camp untuk mengirimkan bantuan. Mengingat perbekalan kami yang habis dan tidak mungkin bertahan terlalu lama di sana. Beruntung ada sinyal HP di tempat itu, meski sangat lemah. Tim SAR menyanggupi permintaan kami dan akan mengirim bantuan ke posisi kami.
Untuk memulihkan kondisi, Hendra harus memakan mi instan yg dibuat Mumu karna perutnya kosong (terakhir makan adalah pagi menjelang siang di daerah berbatu), tapi ternyata dia tak mau makan. Semua memaksa Hendra untuk makan, sesendok saja dia tak mau – entah mengapa. Kamipun sedikit stress karena ulah Hendra itu yang dapat menyulitkan semua anggota.
Akhirnya Hendra merasa baikan, kami mencoba tuk melanjutkan perjalanan meski lambat. Pertukaran tas-pun dilakukan supaya terjadi keseimbangan kekuatan-beban. Perlahan tapi pasti kami menyusuri lereng ditemani cahaya senter yang warna-warni, redup-terang – maklumlah, batre hamper habis. Kali ini kami jalan bareng berurutan. Sekitar jam 21.00 kami tiba di pos 2 sejenak mampir melepas lelah. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan yang berliku.
Beberapa saat berjalan, sesekali sorot senter nampak di kejauhan. Rupanya itu adalah tim SAR. Ternyata tim SAR membawa sebuah tandu dan satu jrigen air. Sedikit berbasa-basi kamipun segera berangkat. Hendra dipapah oleh salah satu personil SAR. Kali ini perjalanan kami sangat cepat, setengah berlari mungkin. Sesekali kami-pun beristirahat melepas lelah.
Setelah mencapai jalan berbatu Hendra diboncengkan motor, sedangkan yang lain masih harus berjalan 1-2 km lagi. Setelah lama berjalan, saking senangnya ketemu air, Mumu langsung gosok gigi di selokan pinggir jalan, padahal basecamp cuma 200 m di depan. Tak lama kamipun sampai di basecamp, jam menunjukkan angka 11. Rasa bersyukur kami tak terkira karena tlah diberi keselamatan.
Segera saja kami pesan makan dan minum untuk mengisi kembali perut yang sudah merana. Karena Una telah berjanji pada seseorang untuk ketemu pagi buta, dia memutuskan untuk pulang sendirian. Yang lain memilih menginap mengingat kondisi tubuh yang sudah ekstra capek.
Paginya kamipun pulang ke Jogja, meluncur menuruni lereng gunung dalam udara dingin. Kami-pun melewati kota Temanggung. Namun tak disangka kami dihentikan oleh pak Polisi. Ditanyai aneh-aneh dari mana, mau ke mana, pokoke ribet. Setelah nanya muter-muter ke sana ke mari akhirnya pak Polisi ke masalah yang sebenarnya yaitu para bembonceng yang gak pake helm standar. Ternyata di Temanggung gak boleh pake helm batok (waktu itu di Jogja masih boleh pake helm batok). Akhirnya kami dibiarkan meneruskan perjalanan setelah yakin kami memang anak Jogja yang gak dong aturan di sana.
Sebelum ke rumah masing-masing kami mampir ke rumah Hendra. Kami-pun pulang dengan buanyak sekali memori dan juga banyak rambutan……..
Muchtar & Itox
Klo cerita pas ke dieng dulu, ya gitu d…. jalan2 ae. Si… dulu si critanya pengen nerusin perjalanan sebelumnya yang telah berhasil menaklukkan lembah Pacitan…n kebetulan ae..da Inda yang juga ngajak buat maen ke Wonosobo, jadilah road to Dieng…
Road to Dieng dilaksanain abis lebaran th 2004, klo g H + 4, ya H + 5 lupa si, tgl pastinya..ya sekitar itu d… Riders yang ikut da 6 orang, yaitu da sang tetua mas Itox, Rohmad, Wanpox, Simin, Mumu and the last one da Joned eh Alfi… hehehehe.. J sebenarnya sih awalnya g Cuma b-6 yang diajakin, msh da beberapa orang lagi,tp pada g bias si, so, yang bener2 jalan cm b-6 ae…
Perjalanan dimulai pagi hari, dengan 2 titik pertemuan, yang pertama di sanggar n yang kedua di t4 Dildol. Ceritanya mulai di t4Dildol ae, cz gak ikut yang di sanggar si… J Kita kumpul di t4 Dildol klo g salah si j8an pagi gt. Pas nyampe di sana, mm…si doi dipanggil2 g kluar2 piff….mpe agak lama gitu, tp akhirnya kluar jg J di rumah Dildol agak lama juga cz, kita sarapan dl, TQ y Dil atas breakfast nya….. bi situ kita brangkat jg buat ke Dieng, eh iya pas itu an motor sisa satu n mo dititipin di rmh Dildol g bisa, so, kita mo kita ke berencana mo mampir dulu di Magelang, di rumah Bujed buat nitipin motor.
Dari magelang perjalanan berlanjut menuju dataran tinggi dieng,hari itu cukup cerah cenderung panas malah. Sekitar jam12an kita mampir dulu di alun2 kota temanggung mampir di masjid gedhe buat sholat dhuhur n refreshing bentar melepas lelah n narsis-narsis dikit disekitar masjid n alun-alun. Setelah dirasa cukup lanjut lagi deh….
Kurang lebih asar kita nyampe di rumah inda n pake acara kesasar bentar, untung ae g jauh kesasarnya. Di rumah inda kita ngobrol2 bentar di sana, makan siang juga.. hmm nyammie de…. Mbaknya Inda kawai lho…tp dah mo nikah katane,wekz!maksudde apa iki.. jamuan di runah Inda hmmm…nyenegin d… J papi ma maminya baek si…
Hari dah menjelang sore, perjalanan pun akan segera dilanjutkan n papinya Inda nawarin mo nganterin mpe di Dieng naek mobil,cz jarak rumahn Inda mpe Dieng ya lumayan agak jauh gitu d… Tapi klo dianterin gak bisa nginep di sana, kita kan rencananya mo camping di sana. So, perjalanan ke dieng tetep naek motor.
Road to Dieng pun segera dilajutkan, perjalanan menaikki jalanan yang terjal berliku kembali dilaksanakan J Emang si ya, jalan ntuk mpe ke dataran tinggi dieng tu naek cukup curam gitu n berkelok2 (hiperbolis gak si? J ) Dalam perjalanan banyak hal menarik terjadi, kayak pas di portal pembayaran, ditawari ma mbak2 gitu d…ma mpe mo berciuman ma bus 2x dan juga kita sempat menikmati pemandangan yang keren banget n narsis-barsisan di sana..
Mpe di Dieng macet bo’! rame banget di sana, jalanan macet gitu susah buat jalan, mau gak bisa mundur juga gak bisa. Piff…dengan susah payah akhirnya kita berhasil lepas dari kemacetan. Habis itu kita menuju ke salah satu obyek wisata, klo gak salah ke tlaga warna, nanya tiket di sana, weekz! @ Rp 2000,- per obyek wisata harganya segitu padahal da banyak. Pikir punya pikir masuk obyek wisatanya bis subuh ae, kan lum bayar. Hahahahaha…….. lanjut lagi de perjalanannya muter2 ae liat2 ma nyari tempat yang gak mbayar. J pas muter da 2 tempat yang bikin geli, yang pertama di bekas pembangkit listrik tenaga uap kawah (klo gak salah lho) disalah satu pipa da tuisan “ Berbahaya jangan menyentuh pembungkus jalur pipa uap / air panas” padahal kan dah gak berfungsi lagi. Sebernanya sayang banget tu instalasi ga keurus… trus yang kedua da tulisan “Sepeda Motor Dilarang Masuk” padahal banyak sepeda motor masuk J
Hari menjelang maghrib langit mendung, gerimis pun sudah turun, kita pun segera mencari masjid buat sholat maghrib. Piff… air di sana, dingin banget!!!!!! Brrrrrrrrr…… bis sholat ujan ternyata ga reda2 malah semakin deras ae..mpe malem juga, acara camping pun dibatalin… bingung mo nginep dimana, Joned pun ngomong ma takmir masjid buat nginep di salah satu emperan masjid yang cukup terlindung dari ujan. Sang takmir pun ngasih ijin buat nginep di emperan masjid…Piff…bagus…bagus…
Hujan kian deras ae, beberapa saat kemudian datang serombongan orang datang buat berteduh, klo dibiarin ngumpul bareng, kita yo pikir2 juga, masalahe tempatnya juga sempit gitu. So, kita bilang ke mereka buat berteduh di emperan sebelah… merekapun ke sebelah, beberapa saat kemudian mereka datang lagi n bilang tempatnya gak muat, waduh… so, kita bilang ke mereka supaya ngomong ke tamir masjid, coz, kita juga bilang ke takmir masjid.. mereka pun pergi d….
Pagi menjelang hujannya dah reda, bis subuh kita melanjutkan perjalanan menuju tlaga warna. Di pintu masuk tlaga kita menghagatkan badan dulu n sarapan di sana, laper n dingin banget si. Abis sarapan kita masuk ke tlaga, piff…bau belerangnya minta ampun..hff… nyampe di tlaga, viewnya lagi bagus, matahari baru mau menampakkan diri, keren pokonya. So, narsis-narsis dulu, tiba-tiba m’itx bilang klo batereinya abis. Hmm..dicarilah sukarelawan buat beli baterei, coz jaraknya lumayan jauh. Joned pun bersedia buat beli baterei di pintu masuk obyek wisata. Kemudian setelah Joned pergi, m’itx blg klo nemuin baterei di kantongnya. Wah, Joned dah keburu berangkat, ya udah d, kita narsis-narsisan dulu tanpa Joned, Sorry Boz! Joned pun kembali membawa baterei, namun kita dah foto2 hehehehhe…
Bis dari tlaga kita muter-muter lagi n trus menuju kawah Candradimuka, biar seperti Gatotkaca, yang telah berendam di kawah Candradimuka trus jadi kuat, wakakakaka….nyampe di sana asap nya bo’! gak tahan. N saat itu yang turun ke dalam kawah da m’itx, wanponx, simin n mumu…Setelah puas di sana kita pulang de…
Sebelum pulang ke rumah kita mampir lagi di rumah Inda buat mandi n makan siang, hehehehhehehehehe……. Bis itu, muter-muter beli oleh-oleh n pulang d…..
-Rohmad-
Chapter 1
A Great Invitation
Alkisah, suatu hari M’Joko (baca: Mbah Joko…) menulis iklan di Bukunj, ngajak anak-anak sanggar naik ke Lawu, tanggal 2-3 Juli 2001, barengan sama anak-anak Mapadok (pecinta alamnya Kedokteran UGM). Karena waktu yang ditawarkan adalah ketika liburan, dan iklan itu dibumbui dengan berbagai rayuan mawut M’Joko, banyak anak sanggar yang tergoda. Apalagi fasilitas yang disediakan (kata M’Joko) sangat memadai, ada makan, transport, co-card, slayer, dan pijat refleksi, yang semua itu cukup ditebus dengan 30.000 perak thok thil.
Dari hasil pesan layanan masyarakat itu, terjaring beberapa orang sanggarists, dari kelas 1 sampai kelas… (M’Joko kelas berapa, ya..?). Padahal, sebelumnya Ambalan mau ngadain camping, yang waktunya tepat sebelum acara ke Lawu, yaitu 30 Juni-1 Juli. Wah, kalau ikut dua-duanya, tulang-tulang bisa mrotholi, nih… Tapi, nggak pha-pha, pokoknya bisa menikmati liburan…
Mendekati hari H, minimal ada 6 makhluk yang sudah meyakinkan diri untuk ikut. They are (urut tua) M’Joko (selaku Kepala Keluarga), Top-x (yang jadi tukang potret keliling, sekaligus ikut sebagai perpisahan sebelum KKN), Risti (sebagai penerjemah kalau ketemu orang Jepang nggunung), Tan-3 (sebagai “istri setia” yang pengin nemenin mbah kakung kita…), Ithox (yang harus menjamin bahwa para juragannya bisa makan enak ‘n tidur nyenyak), serta Rusty (sebagai anak berbakti yang bertugas menemani kedua orang tuanya yang sudah udzur…).
Selain 6 makhluk tadi, masih ada beberapa makhluk bayangan yang pengin ngikut. Seperti Dwee’ yang pengin jadi menantu bijak dengan nemenin kedua mertuanya, Mandha yang pengin menghirup udara segar, Hendy yang sekedar niat, atau Andri “jenggot” yang katanya Ithok pengin menikmati rumput Lawu (??), dan beberapa makhluk lain yang memang terlupakan…
Persiapan pun dilakukan. M’Joko mulai jogging keliling rumah tiap pagi ‘n sore. Tan-3 mengerahkan segenap tenaga untuk mencari pinjaman sepatu, tas, lsp. Ithox sibuk nginep di “sanggar” KM (bukan kamar mandi!!), Rusty yang bersemangat nyari dosennya (??), and other preparations untuk menghadapi gunung yang (kata M’Joko) lumayan tinggi namun sangat dingin.
Atas kemurahan ketua Team Flamboyant, plus berbagai godaan syetan, para “climbers” ini dapat subsidi @ US$ 1.74 (dengan kurs US$ 1=Rp 11.450,00). Asyiik…! Keenam makhuk tadi pun berunding agar bisa nyaman di sana. Biaya bantingan agar nggak marahi bonyok dirembug. Pembagian tugas pun dilakukan. Apa yang harus dibeli, siapa yang belanja, siapa yang bawa kompor, yang bawa spiritus, senter, panci, rantang, rice cooker, kulkas, bla…bla…bla… Pas undangan TM, semua peserta pun bersemangat ikut. Lho, ternyata yang datang TM cuman kami berenam!! Nggak pha-pha, pokoknya informasi yang dibutuhkan sudah di genggaman. Berangkat tanggal 2 Juli, jam 12.00, kumpul dulu di KU pukul 10.00 (nunggu 2 jam?!), pulang besok sorenya (insya Allah).
Chapter 2
What A Long Journey…
Senin 2 Juli 2001. ‘Cause malamnya ditelpon Top-x untuk belanja, Rusty segera bersiap berangkat pagi. Setelah ke rumah Top-x ngambil uang, dia segera meluncur ke kampus, nyari dosen…lagi. Karena sampai jam setengah 10 sang dosen belum rawuh, akhirnya dia menuju ke Mirota Kampus untuk shopping. Ternyata, shopping memang nggak mudah, milih makanan yang disukai semua anggota team, milih barang dari berbagai merk, milih yang harganya miring, apalagi milih yang padha shopping (??). Singkat cerita, dia baru kelar shopping ¾ jam kemudian, ‘n langsung cabut ke sanggar.
Di sanggar, udah ada Risti, Ithox, ‘n Tan-3 dengan tas jumbo masing-masing. Eh, bukan ding… Risti dengan tas milik Ikbal, Ithox dengan tasnya Asa, ‘n Tan-3 mbawa tas punya Dwee’. Dasar ra modal… Dengan alasan tasnya dititipkan di rumah Top-x, Rusty dengan licik membagikan barang belanjaannya yang bejibun kepada 3 orang itu, sambil jadi debt colector, narikin pajak yang udah disepakati. Tak berapa lama, M’Joko datang, dengan tas pinjaman juga… Gubrak!! Karena merasa udah telat untuk kumpul di KU, mereka segera berangkat. M’Joko, Tan-3, Ithox, ‘n Risti mampir ke tempat Top-x mau nitipin motor, sedang Rusty ngampirke dulu Shark yang mau ke kampus, ketemu sama dosennya.
Rusty sampai di KU pertama. But, ternyata di sana sudah ada Dwee’ (gagal dipamitkan untuk ikut, nggak boleh sama …) yang pengin melepas tasnya, ‘n Ratna Ithink yang pengin melepas sepatunya, yang semua itu dipinjam Tan-3. Tak berapa lama M’Joko bersama Tan-3 datang (ihiii…), t’rus M’Joko ngomong sama Rusty, “Tam, nyilih klambimu, taknggo nemoni dosenku…”. Gubrak!! Dosen di UGM memang jadi selebritis, kali ya…
Walau jam di tangan sudah hampir menunjuk angka 11, tapi koq orang-orang yang berpakaian “nggunung” baru sedikit, padahal katanya mau naik satu bus. Tiba-tiba, Ithox ‘n Risti muncul di KU, tapi koq masih dengan motornya masing-masing..? Ternyata si Top-x baru tidak ada di tempat.
Panjang umur, Top-x yang baru digosipin muncul, ternyata dia baru ada kencan, sama dosennya juga kali. Karena kehabisan tenaga setelah kencan (??), Top-x sempat beli nasi bungkus yang tinggal satu-satunya di tangan pedagang ideran. Tapi makannya terganggu oleh Phi’i yang tiba-tiba muncul sambil ngambil telurnya. Rupanya, si Phi’i harus ngampus, untuk ketemu dosennya juga, mungkin. Dengan bantuan Dwee’, 4 motor yang dibawa para “climbers” dipindahkan ke rumah Top-x. Berat banget, man…
Karena sudah waktu dhuhur, sedang bus yang ditunggu belum datang, kami shalat dulu di masjidnya KU, yang lebih cocok disebut mushala karena mungilnya. Selesai shalat, rupanya Tan-3 belum puas dengan pinjamannya, so dia minjam jaketnya Phi’i. Jhan, Tan-3 ini memang kurang modal banget…
Jam 1 siang, kita ngumpul bareng peserta dari Mapadok, yang jumlahnya ada 18 orang. Dengan dipimpin M’Basuki, sang ketua Mapadok (yang pas kampanye ketua BEM terkenal dengan slogannya “Basuki, inovasi tiada henti!”), kita berdo’a bersama, memohon keselamatan dari Yang Kuasa. Sesudah itu, kita photo-photo bersama (kaya’nya, Team Flamboyant yang kelihatan di photo cuman Rusty ‘n Ithox…).
“…busnya koq belum datang, ya..?” tanya Top-x. “Kita nyegat bus kota ke terminal, Mas…” jawab, Eko alias Pényo, bendahara panitia. “HAH..!!” Gubrak..!! Tapi kita masih khusnudhon, mungkin busnya nunggu di terminal… Setelah tawar menawar dengan beberapa sopir, akhirnya kami ber-24 naik bus jalur 2 ke terminal. Jhan, suk-sukan… Di bus ini, ternyata nggak ada seorang pun yang gentleman, buktinya, nggak ada yang mau memberikan tempat duduknya pada ibu-ibu yang berdiri. Dasar..! Dan sempat diberitakan oleh Top-x, kalau dia melihat seorang oknum sanggar bernama Dhamar, melaju ke arah utara di Jl. Mataram, bersama Suzuki Satrianya. Siang-siang, pas liburan lagi, mau kemana, ya…?
Sampai di terminal, ternyata busnya memang udah nunggu, banyak lagi… Ada bus AKAP, bus kota, bus PATAS, bus sumur, dan bus-bus lainnya, kita tinggal milih. Pilihan jatuh pada bus jurusan Jogja-Solo bermerk Srimulyo (kalo’ nggak salah inget…). Kali ini lebih suk-sukan. Padahal rencananya (kata M’Joko) kita mau nyarter bus AC, yang ada TV-nya. Yah, semua tinggal khayalan…
Ketidaknyamanan mulai dirasakan. M’Joko merasakan sonyolnya mulai phanas karena duduk lama tanpa bisa bergerak. Mungkin juga rheumatiknya bakal kambuh. Sementara Ithox ‘n Rusty berusaha menikmati perjalanan dengan bobo’ manis. Namun sampai di Klaten, mereka terpaksa nggak tidur, soalnya di sebelah mereka berdiri beberapa cewek ABG. Gengsi dong kalau ketiduran. Tapi, koq ya tega-teganya mereka mendiamkan dan membiarkan cewek-cewek itu berdiri..? Mbok diajak kenalan, ngobrol, atau gimana, gitu…
Singkat cerita, mereka sampai di terminal Solo jam 4 kurang ¼ sore. Lalu, cari bus lagi ke Tawangmangu. Bus ketiga hari itu adalah bus putih seukuran bus kota di Jogja. Setengah jam berlalu, dan sang ketua rombongan baru sadar kalau mereka salah bus. Gubrak..!! Memang bener busnya jurusan Tawangmangu, tapi jalurnya lewat jalan desa, alias muter dulu, bukan lewat jalur utama yang jauh lebih cepat. ‘Cause diperkirakan sampai di sana ba’da maghrib, padahal belum shalat ‘asar, dengan dipelopori M’Joko ‘n Top-x, mereka terpaksa bertayamum dan shalat di atas bus (tapi bukan di atapnya, lho…). Bus ini lebih sesak daripada bus sebelumnya. Bisa jadi dendeng kalau kelamaan di dalam…
Saat menikmati pemandangan desa yang hijau dan asri, akhirnya muncul juga seorang gentleman. Ketika seorang nenek naik bus, salah satu mas dari KU (lali jenenge) mempersilakan beliau duduk. Salut buat masnya… Perlu dicontoh, tuch… Belum sampai di Tawangmangu, hawa dingin mulai merasuk lewat sela-sela jendela kaca bus. Bahkan telinga Rusty mulai agak-agak budeg, juga hidung Tan-3 yang sebelumya sudah mèlèr, jadi agak banjir… Dan sesuai dugaan, kami sampai di Tawangmangu ketika si saat sedang adzan maghrib. Alhamdulillah, di dekat terminal Tawangmangu ada masjid, so bisa maghriban di sana. Pas mau wudhu, brrr… airnya dingin sekalhéé. Selesai shalat, kita istirahat dulu, sambil melemaskan otot-otot pantat yang keju-keju karena kelamaan duduk (tapi sebenarnya nunggu Pényo ngambil makan malam yang baru dibungkus).
Jam 7 malam. Makan malam sudah datang, tapi baru akan dibagikan di Cemara Sewu, alias harus naik lagi. Dan kali ini adalah yang paling mengejutkan, 24 orang harus bisa masuk ke angkutan seukuran colt Jogja-Pakem. Gepeng tenan… Yah, segala cara dilakukan. Mulai dari duduk empet-empetan, pangkon-pangkonan, ndhlosor di lantai, nggandhul di belakang, sampai jurus mengecilkan sonyol pun dikeluarkan. Untungnya nggak ada yang buang gas di dalam… Setengah jam kemudian, mereka sampai di Cemara Sewu. Masya Allah, dinginnya minta ampun… Akhirnya, setelah menunggu, mereka dapat menikmati jatah nasi bungkus dengan teh anget (yang mulai nggak anget lagi), lalu shalat isya’. Brrrrrr… airnya dingin bhuanget (buktinya lebih banyak huruf “r” di kata brr). Bahkan keramik masjid di Cemara Sewu ikut-ikutan dingin, sampai-sampai mereka harus shalat pakai kaus kaki… Tapi, alhamdulillah, yang tadi itu adalah angkutan terakhir sebelum semua peserta mulai berjalan mendaki (padahal sempat mikir kalau pengin naik angkutan sampai puncak, he…he…he…).
Chapter 3
To The “Higher Ground”!!
30 minutes before the voyage. Persiapan mulai dilakukan untuk melawan hawa dingin. Top-x mendobeli lagi celana panjang yang dipakai. Bahkan M’Joko sudah makai 3 lapis celana panjang sejak dari Jogja. Rusty siap dengan 5 lapis pakaian. Ithox stand by dengan sarungnya. Sedang Tan-3 sudah minjam (lagi…) “kupluk gaul” milik M’Joko, padahal dia sudah pakai jilbab. Risti nggak mau kalah, juga minjam kupluknya M’Joko, soalnya dia bawa 3 buah. Mungkin setelah turun gunung M’Joko mau jadi juragan kupluk… Tapi, bareng mereka melihat beberapa anak Mapadok senior, ternyata ada yang cuman makai kaos lengan pendek ‘n celana panjang thok. Sandalan jepit, lagi. Hebat tenan…
Sementara yang lain sibuk berubah, karena nggak ada yang bawa kompor spiritus, Top-x ‘n Rusty mempraktekan cara yang dilakukan Top-x ‘n Shark di Bromo, yaitu gresek kaleng Coca Cola, Sprite, ‘n sejenisnya. Sayang, mereka cuman dapat satu, itupun sudah kosong… Padahal penginnya sih yang masih ada isinya, walau separo…
Atas nasihat M’Joko yang sering liat orang naik gunung, kami berenam menempelkan koyo’ di hidung. Tapi koyo’nya dipotong dulu, biar tetep bisa bernapas. Dengan cara ini (kata M’Joko) bisa membuat hidung lebih hangat, so nggak meler terus. Sanggarists lain yang masih culun pun manut aja(belakangan baru diketahui, kalo’ kelamaan nempel koyo’ di hidung, kulit bisa kering ‘n mengelupas, so jadi “hidung belang”…)
Sebelum mulai berangkat, M’Basuki meminta para Flamboyants memperkenalkan diri. Karena ada sang kepala suku, maka mereka berenam langsung diperkenalkan oleh M’Joko dengan gaya peserta Family 100. “Hallo, saya Joko, disini saya membawa keluarga saya, Tan-3, Top-x, Rusty, Ithox, ‘n Risti…” Ternyata diantara mereka ada orang Jepang beneran, cewek nggunung (mangsudnya, suka naik gunung), namanya Noriko. Tapi karena sudah “jinak” (‘cause sudah mahir bercas-cis-cus pakai bahasa Indonesia), so nggak butuh Risti sebagai “pawang”.
Setelah pengarahan singkat oleh M’Ipoel, mereka pun mulai berjalan. M’Ipoel dan seorang senior lagi menjadi penunjuk jalan di depan, lalu para peserta, termasuk The Flamboyant, di belakangnya, sementara M’Basuki dan beberapa orang tua jadi penjaring di belakang.
Etape pertama ini, jalannya masih lumayan nyaman, sangat nyaman malah. Jalan setapak yang sudah diberi batu, dan kemiringannya nggak sampai 300. Semua climbers berjalan santai, dengan diselingi ngobrol dan bercanda. Tapi, baru jalan 15’, mulai terasa capeknya. Satu demi satu peserta mulai tertinggal, dan terbagi menjadi 2 kelompok. Di depan, ada M’Joko, Rusty, Ithok, Risti, dan 3-4 anak KU, sedang lainnya tertinggal 50-100 meter di belakang. Karena melihat rombongan yang di depan pun mulai ngos-ngosan, M’Ipoel mengambil inisiatif untuk istirahat, sambil nungguin yang di belakang. “Tenang, sudah separuh jalan ke pos 1,” katanya memberi semangat. Saking capeknya, seorang peserta asal Malaysia bersumpah dengan napas terputus-putus, “saya berjanji, tak akan merokok lagi…” Setelah menunggu dan melawan dingin, rombongan belakang mulai kelihatan. Kami pun berjalan lagi. Tapi yang baru datang malah langsung ndeprok. Waduh, mending tadi jalan terus aja… Karena mengejar target, maksimal 8 jam sampai puncak, merek berjalan lagi, dan sekarang 6 orang Flamboyants berjalan bersama. Walau katanya udah separo jalan, tapi koq separo yang kedua ini rasanya jauu..uh banget. Nggak pha-pha ding, soalnya kalo’ jalan terus, dinginnya agak nggak terasa.
Akhirnya, setelah ± satu jam, rombongan depan sampai di pos 1. Kira-kira 10’ kemudian, satu-persatu peserta yang di belakang mulai menyusul. Mereka ber-24 istirahat di pos sambil mulai membuka bekal piknik kami, ‘n minum secukupnya. Setelah dirasa cukup, perjalanan pun dilanjutkan. Jalan yang mereka tapaki mulai benar-benar menjadi jalan setapak (lebarnya cuman setengah meteran), bervariasi antara menanjak naik dan menurun, antara jalan tanah dan jalan batu, bahkan jalan buntu…
Lagi-lagi, perbedaan kelas mulai terlihat setelah 5’ jalan. Satu persatu peserta berceceran di belakang. Untung nggak ada yang ngambil… Sementara pelan namun pasti, keenam Sanggarists tetap berusaha jalan beriringan. ± 30’ kemudian, M’Joko, Risti ‘n Ithok dengan tenaga turbonya masing-masing udah ngacir di depan bersama M’Ipoel. Sementara Top-x ‘n Rusty mendampingi Tan-3 di belakang. Mereka bertiga berusaha menyusul, soalnya sembako ada di tas Ithox. Kalo’ nggak cepet, mereka bisa kelaparan di jalan… Alhamdulillah, perjuangan mereka nggak sia-sia, soalnya yang di depan mau nunggu. Sampai di pos 2, kira-kira sudah jam 12 malam (ngeriii…malam Selasa Kliwon…). Karena memang bener-bener cape’, mereka istirahat cukup lama. Saking dinginnya, Ithox berinisiatif untuk membuat api unggun. Karena nggak bawa parafin seperti yang lain, dia pun gresek ranting ‘n daun-daun kering. Ndilalah, korek gasnya mati. Setelah pinjam, api unggunnya pun hanya nyala 10 menit. Ya udah, terpaksa nggabung apinya orang lain…
Karena sudah saat makan tengah malam, bekal biskuit mulai dikeluarkan dari tas Ithox. Tan-3 pun mulai mencampur air mineralnya dengan Extra Josh. Pokoknya, makannya biasa, minumannya luar biasa (nggak promosi, lho…). Rusty yang telinganya juga kedinginan, udah masang ear-phone sejak tadi, walau walkmannya sering mati… ¾ jam kemudian, semua rombongan sudah nongol di pos 2, perjalanan pun dilanjutkan. Dan seperti yang sudah-sudah, walau awalnya jalan bareng, tapi setelah beberapa menit, satu per satu peserta mulai berjatuhan, dan memilih untuk beristirahat. Padahal, kalau diam, dinginnya malam terasa lebih menusuk di kulit. Baju ‘n celana yang berlapis-lapis pun nggak sanggup menahan hawa nafsu, eh, hawa dingin. Apalagi jari-jari tangan, udah hampir mati rasa, susah mbuka risluiting tas. Untung ada ada tips yang (kata M’Joko, eh, kata Top-x…) cukup ampuh, yaitu masukin tangan ke saku, juga saat jalan. ‘N it’s work…
Peserta yang berjatuhan terjadi juga pada Sanggarists yang ngikut. M’Joko ‘n Ithox dengan semangat mengikuti sang penunjuk jalan (padahal jalannya ya cuman ada satu…). Dan hebatnya, si Risti pun nggak mau kalah, berjalan di depan mengikuti standard jalannya anak-anak PA. Strong abisch, deh… Salut buat dia… But, in another place, Top-x sudah beberapa lama menarik “buliknya” dengan slayer pink. Rupanya kalo’ nggak ditarik, si Tan-3 penginnya berhenti terus. Sementara Rusty berjaga di belakang mereka berdua, nyenterin jalan yang gelap (soalnya, walau hampir purnama, tapi jalannya tertutup oleh bayangan awan ‘n pepohonan), sambil njagain Tan-3 kalo’ tiba-tiba kepleset.
Setelah berjalan naii..ik terus selama 1 jam lebih, mereka sampai juga di pos 3. Sayangnya, di sini mereka nggak bisa istirahat lama-lama. Katanya sich nanggung, soalnya pos 4 dekat dari pos 3. Tapi sebab utamanya mungkin karena nggak bisa nahan dinginnya malam ‘n nahan mata yang mulai berat kalau berhenti lama-lama. Cabut dari pos 4, formasi The Flamboyant pun berubah. Ithox ‘n Risti masih strong dengan ngacir di depan. Top-x pun menyusul mereka di depan. Kali ini tugas berat diemban Rusty, soalnya dia harus njaga “kedua orang tuanya” sendirian. Sesekali dia harus mendorong Tan-3 (eh, tasnya ding, eh, tasnya Dwee’ ding…) yang kali ini ganti ditarik oleh M’Joko. Nggak sia-sia M’Joko latihan nuntun motor dari depan eks Regent sampai bengkel Tresno di selatan SMP 1. Sialnya, senter Tan-3 dibawa Top-x, so mereka bertiga berjalan dengan satu senter saja. Untungnya ketemu dengan rombongan anak KU yang juga bawa senter. But, senter mereka malah satu buat berenam. Gubrak..!! Nggak pha-pha, ada teman jalan bareng.
Perjalanan rute keempat ini rupanya yang paling berat dibandingkan ketiga rute sebelumnya. Selain jalannya cukup sempit, terjal ‘n curam, kadang kita tertipu oleh penglihatan kita sendiri. Berkali-kali kita kaya’nya udah melihat puncaknya 25 meter di depan, eee..h, ternyata cuman puncak pepohonan. Nggondhuk, kan… Kaya’nya di rute keempat ini, baru jalan 5 menit, istirahatnya bisa 10 menit, apalagi kalo’ pas dapat jalan yang sangat curam, baru naik 10 meter, udah ndheprok sambil ngos-ngosan. Padahal sebelumnya pengin jalan seperti pas PDT, jalan 1 jam istirahat 10-15 menit, bahkan waktu mau berangkat, M’Ipoel ‘n M’Basuki penginnya istirahat kalo’ udah nyampai di pos, sambil ngecek peserta. Beraaat…
Di tengah perjalanan, timbul akal licik M’Joko. Setelah tahu kalo’ ternyata coklatnya dibawa Tan-3, dia membujuk Rusty ‘n Tan-3 untuk menikmati coklat itu dulu. ‘Cause M’Joko memang udah berpengalaman dalam hal rayu-merayu (‘n pada dasarnya Rusty ‘n Tan-3 emang udah pingin sama coklat itu sejak di Jogja), maka ternodalah sebatang coklat “Baron” oleh mereka bertiga. Kacian yang di depan…he…he…he… Tapi, coklatnya udah keras gara-gara kedinginan. Padahal udah disimpan di dalam tas. Pokoknya, makan coklat tapi harus diklethak kaya’ makan peyek, dech…
Alhamdulillah, setelah lebih dari 99 tantangan dan 33 cobaan terlewati, 3 Sanggarists yang di belakang bisa juga menyusul yang lain, nyampai di pos 4. Rute yang katanya dekat itu, ternyata harus ditempuh dalam 2 jam lebih. Rupanya Top-x, Ithox, ‘n Risti lebih sial dari pada nggak kebagian coklat. Mereka udah hampir setengah jam kedinginan, soalnya mau mbuat api unggun, tapi spiritusnya dibawa Rusty. Walhasil, mereka cuman mengandalkan api “tetangga”, sambil menikmati biskuit kelapa yang dibawa Ithok (walau nggak seenak coklat…).
Rupanya, rombongan yang paling depan memang sedang nunggu yang di belakangnya. Tapi, setelah rombongan M’Joko dkk ngomong kalo’ yang dibelakangnya masih jauh, anak-anak yang udah nyampai di pos 4 sepakat untuk berangkat ke pos 5, pos terakhir sebelum puncak, ‘n meninggalkan beberapa orang untuk nunggu. Setelah berembug, berangkatlah 4 orang Mapadok dan keenam Sanggarist ke pos 5, yang katanya dekat. Walaupun akhirnya kami tahu kalo’ rute kelima ini memang dekat, tapi jalan yang dilalui lebih curam. Kami pun harus ekstra hati-hati, soalnya jalannya sempit ‘n kadang melewati jurang yang dalam di kanan or kiri kami. Nggak sampai 45 menit, kami bersepuluh sampai juga di pos 5.
Jam di tangan Rusty sudah menunjukkan pukul 04.03, sementara jam di tangan Tan-3 rupanya sudah jatuh entah di mana. Sanggarist penginnya nunggu subuh sambil nunggu yang lain, lagian Top-x udah nemuin tempat yang bagus, sementara yang lain ngajak langsung ke puncak. “Paling cuman setengah jam,” katanya. Karena diperkirakan sampai puncak pas subuh, mereka pun setuju saja. Tapi rupanya nggak ada yang tahu jalan ke puncak. Gubrak..!! Untung ada climbers lain yang baru turun. Setelah nanya, kami dikasih tahu ‘n beberapa tempe, “itu, lho, kesana, turun sedikit, lalu naik…” Mereka pun ngikuti petunjuk para climbers tadi.
Ternyata baru jalan 20 meter, mereka semua bingung lagi. Daripada tersesat ‘n terjadi hal-hal yang diinginkan, mendingan kembali aja ke pos 5. Di pos 5, mereka langsung menuju tempat yang udah ditemukan oleh Top-x tadi. Keenam Sanggarists segera melakukan persiapan. Mereka segera menggelar ponco masing-masing. Rupanya, selain berembun, ponco mereka jadi kaku ‘n lengket, so agak susah dibuka. “Dingin-dingin gini, enaknya ngapain, ya…” Ithox rupanya tanggap. Dia lalu berusaha lagi melaksanakan keinginannya sejak dari pos 2, membuat api unggun. M’Joko ‘n Risti pun ikut membantu. Tapi memang shulit kalau cuman pakai spiritus ‘n kayu. Untung teman-teman dari KU berbaik hati, mereka memberi sebatang parafin, sebelum turun ke pos 4 untuk njemput yang lain. “Makasih ya, Mas…” Ternyata, kalo’ mau naik gunung, mendingan bawa parafin yang banyak ketimbang bawa pakaian banyak.
Sementara itu, Top-x ‘n Rusty sibuk membuat minuman istimewa. Bahannya, ada susu bendera bubuk, jahe bubuk, kopi bubuk, coklat bubuk, plus beberapa bubuk ramuan rahasia. Nggak lama, minuman pun udah jadi. Acara selanjutnya, mbagi minuman. Rupanya Rusty curang. Dia nggak pengin makai gelas yang dibawa Risti, soalnya gelasnya kecil-kecil. Dia pun ngeluarin gelas campingnya, yang ternyata mempunyai kapasitas 5 kali dari pada gelas milik yang lain. Mereka pun menikmati minumannya masing-masing, sambil menunggu waktu subuh, saat benang merah bertemu dengan benang putih di ufuk timur. Ternyata tempat mereka memang sangat strategis, tepat di punggungan timur Gunung Lawu, so mereka bisa melihat indahnya malam yang akan berganti dengan pagi.
“How great the wonders of the heavens
And the timeless beauty of the night
How great, then how great The Creator?
And its stars like priceless jewels
Far beyond the reach of kings
Bow down for the sheperd, guiding him home
But how many eyes are closed to the wonder of this night?
Like pearls hidden deep, beneath a dark stream of desires
But like dreams vanish with the call to prayer
And the dawn extinguishes night, here too are signs
God is the light God is the light…*)
Waktu subuh pun tiba, menjemput keenam Flamboyants yang menggigil kedinginan. Mereka pun bersiap menunaikan ibadah shalat. Karena air yang dibawa diperkirakan hanya cukup untuk masak mie ‘n minum pas turun, mereka lagi-lagi bertayamum. M’Joko lalu mengeluarkan sajadah, untuk alas kaki para “climbers” yang takut nglepas sepatu karena dinginnya. Sajadah yang disimpan di dalam tas pun ikut-ikutan dingin. Sia-sia, deh, mbawa sajadah… Mereka pun shalat dengan memakai kaus kaki. Mungkin, baru pertama kalinya mereka berenam shalat dengan bergetar seluruh tubuhnya, bukan karena terlalu khusyuk, tapi karena kedinginan. Rusty yang menjadi imam pun membaca Al Fatihah ‘n surat pendek dengan suara yang terseok-seok gemetar… Usai shalat, mereka menunggu sunrise. Masya Allah, kaya’nya sunrise kelihatan lebih indah dari atas gunung. Semburat kuning kemerahan merekah di horizon langit timur. Sementara gumpalan-gumpalan awan berarak di bawahnya. Wah, rasanya benar-benar berada di “Negeri di Atas Awan”. Subhannallah…
Sayang, keindahan ini nggak bisa diabadikan dalam photo, ‘cause film yang dibawa Top-x asanya terlalu kecil. Harusnya bawa Dinaya, Iyun, Yoyok, atau Ganis… Rusty langsung usul agar dibuat sketsa panorama saja. Gubrak..!! Untuk mengisi waktu, mereka memasak mie, ‘cause perut mereka udah keroncongan minta diisi, sekalian untuk menghangatkan badan. Rusty ‘n Ithox bahkan udah hampir membuat “kaki bakar” gara-gara memanaskan kaki mereka di api unggun. M’Joko lagi-lagi mengeluarkan akal liciknya, dengan makan sebungkus mie instan, dipèk dhéwé manèh… Wis tuwo koq ya ora sadar-sadar…
Sembilan bungkus mie instan plus sarden pun matang sudah. Untung Rusty bawa 2 rantang, so bisa dimasak di dua rantang sekaligus, ‘n nggak usah mbagi lagi kalo’ mau makan. Dan pembagian kali ini, dengan lebih memandang pada asas keadilan ‘n kebutuhan, maka unsur gènder dikesampingkan. Top-x, Ithox ‘n Tan-3 makan di satu rantang, sedang lainnya rebutan mie ‘n sarden yang mulai remuk di rantang yang satunya. Pokoknya, siapa cepat ‘n cermat, dapat lauk yang lebih banyak… Nggak terasa udah jam 07.00. Pemandangan di bawah mereka pun mulai tampak lebih jelas, ‘n tentu saja lebih indah. Hamparan permadani hijau terhampar luas, jauh di bawah kaki gunung. Sementara awan selembut kapas seakan memayungi bumi, yang terlihat bagai kasur yang empuk di bawah mereka. Sungguh indah karya Sang Pencipta dilihat dari salah satu “Negeri di Atas Awan” ini.
“…How great the beauty of the earth
And the creatures who dwell on her
How great, then how great The Creator?
As it’s mountains pierce the clouds,
High above the lives of men
Weeping rivers for thousands of years
But how many hearts are closed to the wonders of this sight?
Like birds in a cage, asleep with closed wings
But like work stops with the call to prayer
And the birds recite, here too are signs
God is the light God is the light…*)
Rupanya di sekitar pos 5 banyak tanaman bunga. Kaya’nya sich (kata m’Joko) itu yang disebut edelweiss. Tapi Ithox bersikukuh kalo’ itu cuman rumput liar. Mereka sama-sama ngèyèl ‘n mencari dukungan dari yang lain. Akhirnya, masing-masing sepakat untuk nganggap tanaman itu sesuai keyakinan masing-masing… Saat mereka sedang menikmati keindahan bumi Allah, tiba-tiba dari selatan muncul beberapa anak KU. Rupanya mereka udah sejak subuh istirahat di pos 4, bahkan udah sarapan. Tiwas ditungguin… Mereka mau menuju puncak, yang jalannya udah terlihat karena hari emang udah terang. Sanggarist yang masih terbuai dengan alam, ‘n merasa udah nyaman di situ, ngomong kalo’ nanti mau nyusul. Para Sanggarists baru sadar kalo’ mereka udah semalaman nggak tidur. Ithox segera mencari tempat untuk nggelar ponco ‘n tidur. M’Joko yang ponconya dijadikan alas tas, rupanya nggak mau kalah. Dia segera grèsèk di sekitar pos, ‘n menemukan selembar plastik yang cukup lebar. “Kéthoké resik, lho…” katanya sambil merebahkan diri di atas plastik hasil grèsèknya. Hiii…
Rusty yang baru berjemur pun rupanya nggak kuat nahan ngantuk. Dia pun menyusul M’Joko di peraduannya. Hanya Top-x cowok (??) yang masih bangun. Rupanya dia baru saling curhat sama Tan-3 ‘n Risti. Entah apa yang mereka omongin, hanya Tuhan, para malaikat penjaga, mereka bertiga, ‘n rumput-rumput yang kedinginan (koq banyak juga, ya…) yang tahu. Tapi, ketika yang lain bangun, mereka bertiga terlihat tersenyum puas. Ternyata mereka berenam benar-benar udah “mapan” di pos 5 ini. Walau anak-anak KU yang tadi naik udah padha turun, para Sanggarists ini masih males naik ke puncak, padahal jaraknya tinggal dua plinthengan, lho… Sekali dua kali Risti ‘n Ithox ngajak naik. Tapi karena yang lain cuman njawab “hhèè..èhh” niat mereka nggak kesampaian. Tak terasa udah hampir jam 9. Kata climbers KU tadi, mereka semua akan turun sekitar jam segitu, soalnya akan dijemput colt diesel yang semalam jam 3 sore, lagian udah ada anak Mapadok yang njemput kita ke atas. The Flamboyant pun mulai bebenah, ‘n segera kukut-kukut.
Dimana-mana, yang namanya Penggoda ternyata sama saja. Penampilan harus tetap OK. Rusty segera mengeluarkan sisir hitamnya, yang kemudian berpindah ke tangan M’Joko, lalu Ithox, ‘n Top-x. Sisiran dianggap belum cukup. “Biar nggak mandi, tetap harus wangi.” Rusty pun ngambil “She Sweet Splash Cologne” warna pink di tas kecantikan miliknya. M’Joko segera ikutan men-“splash”-kan She Sweet ke tubuhnya. Ithox nggak mau kalah. Sebenarnya dia mau minta sama Top-x yang juga bawa pewangi, tapi nggak jadi begitu tahu kalo’ yang dibawa Top-x adalah Rexona roll-on… So, kalau ketemu edelweiss, The Flamboyant pasti lebih wangi… Pokoknya wangi dari atas sampai bawah. Nggak itu aja, keenam Sanggarist pun menyempatkan diri untuk gosok gigi walau hanya dengan setengah gelas air. “Hahh, nafas segar meyakinkan…”
Barang-barang udah terpacking di dalam tas. Sampah-sampah udah jadi abu ‘cause dijadikan api unngun. Tapi sebelum turun, nggak puas kalo’ belum photo, lagian cahayanya udah cukup banyak. Dengan gaya co-boy ‘n co-girl Aneka, para Sanggarists berpose denagn latar belakang alam-Nya yang indah. Setelah puas jeprat-jeprèt, mereka segera memanggul tasnya masing-masing (kecuali yang minjem…), ‘n saat jam 09.07 Sanggarists udah mulai berjalan untuk menuruni Gunung Lawu, menuju pos 4.
*) Yusuf Islam & Raihan; “God Is The Light”
Chapter 4
The Voyage Home
Sebelum turun, tiba-tiba Tan-3 mengumumkan sayembara. “Barang siapa dapat menemukan jam tangan milik saya, kalo’ perempuan akan saya angkat jadi sodara, ‘n kalo’ laki-laki akan saya jadikan…sodara juga.” Gubrak..!! Kita semua kan udah sejak dari sononya bersaudara… Keenam Flamboyants pun berjalan dengan mata clilingan di sepanjang jalan kenangan. Di jalan, potret-memotret tetap jalan terus. M’Joko ‘n Risti berpose dengan bunga di tangan, untuk oleh-oleh Asa ‘n Mandha yang pengin kembang. Penginnya, sich, bawa kembangnya sampai sanggar, tapi kan “don’t take anything but picture.” Sayang sampai di pos 4 jam tangan Tan-3 belum juga ditemukan.
Anak-anak Mapadok yang berada di pos ternyata ada yang belum siap untuk berangkat. 6 orang Sanggarists pun permisi untuk jalan duluan. Saat menempuh rute ini, rupanya Rusty ‘n Ithox punya “satu kekhawatiran” yang takut nggak bisa ditahan sampai Cemara Sewu. Apa hayoo… Sampai di pos 3 satu jam kemudian, akhirnya mereka berdua segera menuju semak-semak ‘n menyalurkan hasratnya masing-masing. “Hilang satu kekhawatiran…” batin Ithox. Mereka pun istirahat di pos 3 sebentar, ‘n berangkat lagi begitu terdengar teriakan anak-anak KU yang mulai menyusul. Cepat juga mereka, ya…
Di jalan, Tan-3 yang malamnya banyak diam ‘n nggak bisa mbales kalo’ lagi digojlok, mulai kelihatan aslinya. Dia mulai balas dendam (tapi nggak sampai keluar tanduk, taring, ‘n ekor, koq…). Tapi sebaliknya, Risti yang sebelumnya tampak strong, mulai kehabisan tenaga ‘n sering tertinggal dari Tan-3. Untung para cowok selalu di belakang. Sanggarists sempat bingung ‘cause kaya’nya mereka melewati jalan yang belum pernah mereka lewati. Dan memang belum mereka lewati. ‘cause jalan yang mengerikan itu memang percabangan yang mereka hindari semalam, karena harus nrabas semak ‘n melompati pohon.
Berjalan turun memang lebih cepat dari naik (jayush banget, ya…). Singkat kata singkat cerita mereka pun udah melewati pos 2. Walau agak panas, tapi lebih menyenangkan karena pemandangan yang semalam cuman hitam ‘n hitam, udah seindah warna aslinya (iklan lagi…). Rupanya banyak juga climbers yang naik di kloter pagi-siang. Ada yang dari lokal Jateng-Jatim, tapi ada juga yang dari Jakarta. Ada yang cuman berdua, ada yang rombongan cukup banyak. Sanggarists yang ketemu dengan mereka pun tetap berbasa-basi (tapi nggak berbusa), or sekedar say hallo… Flamboyants sempat menemukan batu besar ‘n potret di sana. Di batu itu ada papan nama bertulis “Batu Jago”, selain nama-nama “Tina, I love you”, “Bambang love Dhoni”, ‘n tulisan-tulisan lain. Wah, tanda tidak cinta alam, tapi kasih sayang pada sesama manusia…
Tiba-tiba dari belakang Pényo ‘n seorang panitia udah nyusul. Cepet banget… Setengan jam kemudian, saat mereka berdelapan istirahat, Noriko, “M’Gentleman”, ‘n seorang lagi juga nyusul. Katanya, yang lain masih di pos 2, istirahat. Sebelum sampai pos 1, M’Joko iseng metik setangkai bunga berwarna ungu, untuk oleh-oleh katanya. Namun rupanya ada yang nggak ikhlas kalo’ dengan perbuatan “licik” M’Joko. Sekonyong-konyong ada seekor tawon ndhas yang berpatroli, ‘n bersiap melakukan formasi menyerang. Sebelum si tawon sempat memanggil bantuan ‘n melancarkan serangan, M’Joko pun ngalah ‘n membuang kembang yang ada di tangan. Kasihan, deh, luu…
Sampai di pos 1, di sana udah ada M’Basuki ‘n beberapa senior. Mereka berhenti di pos 1 karena ada beberapa anak KU yang sakit or nggak kuat, so harus ditemenin. ‘Cause udah jalan lumayan jauh ‘n hanya beberapa kali istirahat, Sanggarists plus lima anak Mapadok yang jalan bareng kongkow-kongkow dulu di sana sambil nunggu yang lain. Rupanya cewek-cewek Flamboyants nggak sabarpengin segera turun (mungkin mereka punya satu “kekhawatiran” juga…). M’Joko pun berbaik hati mendampingi mereka. M’Joko sempat pengin mengulangi ulahnya untuk mbawa sekuntum bunga, tapi niat itu dibatalkan ‘cause si lebah kembali lagi. Mungkin lebah ini memang jadi intelegen yang ditugaskan ratunya untuk menyelidiki M’Joko. Gubrak..!!
Sementara itu, Rusty ‘n Ithox udah mulai terkantuk-kantuk di pos. Mungkin tinggal Top-x yang sadar. Orang yang satu ini kaya’nya memang nggak punya puser, nggak tidur hampir 24 jam koq ya masih tahan… 10’ kemudian, Top-x nggugah Rusty ‘n Ithox, t’rus ngajak turun, soalnya udah jam 1 lebih ‘n mereka belum shalat dhuhur. Penginnya, sich, mereka mandi dulu di bawah, mumpung belum rame, t’rus shalat di masjid Cemara Sewu. Dengan mode 5S (Sangat Super Special Speed Sekali, ditemukan di malam terkhir PDT XXVII oleh Penggoda), ketiga cowok ini langsung ngebut turun, dan berhasil menyusul 3 Sanggarists yang udah ada di depan, lalu jalan bareng ke gerbang Cemara Sewu. Dan sayang seribu sayang, tidak ada yang berhasil memenangkan sayembara dari Tan-3, alias jamnya nggak ditemukan…
Sampai di bawah, tempat yang dituju pertama kali adalah kamar mandi. Walau airnya masih sangat dingin, Top-x ‘n Rusty berhasil membujuk yang lain untuk “mandi bersama” (tapi beda kamar!!), kecuali M’Joko yang takut rheumatiknya kambuh. Kepikunan M’Joko mulai nampak. Kaya’nya dia pemegang rekor keluar masuk kamar mandi paling banyak. Pertama, menyalurkan hasratnya yang terpendam. Setelah keluar, ternyata lupa belum ganti baju. Masuk lagi, lalu keluar lagi. Sampai di masjid bari ingat kalo’ belum wudhu. Ke kamar mandi lagi…
Top-x ‘n Rusty pun nggak kalah pikun. Setelah mereka selesai mandi, mereka baru ingat kalo’ pakaian gantinya ketinggalan di luar. Gubrak..!! Rusty terpaksa makai pakaian sebelumnya ‘n keluar ngambil ganti, t’rus masuk lagi. Tapi Top-x lebih “pinter”. Dia buka sedikit pintu kamar mandinya, ‘n begitu liat ada seorang cowok KU yang udah nyampai, dia ngomong, “Mas, Mas, tolong ambilin bungkusan di sana itu, ya Mas…” Coba bayangin kalo’ yang dimintai tolong seorang cewek. Bisa “17 tahun ke atas”, dech… Seusai mandi ‘n shalat, mereka pun ngumpul bareng beberapa anak Mapadok yang udah nyampai. Ithox kembali menyalurkan rasa ngantuknya dengan tidur. Kaya’nya dia memang jago dalam jurus “tidur di mana saja”, di sanggar, KM, bahkan saat naik motor, sampai pernah nabrak pick-up, lho… Karena haus, Top-x, Rusty, ‘n Risti cabut ke warung di dekat tempat mereka kongkow-kongkow. Baru aja selesai pesan minum, ee…ehh udah dipanggil untuk naik colt angkutan yang udah nunggu sejak tadi. Ya udah, minumnya diplastik aja.
Begitu semua udah naik ‘n siap berangkat, ternyata satu oknum Mapadok, cewek, ada yang belum naik. Setelah dicari, ternyata si Lala ini sedang mandi, baru masuk lagi… Bakalan lama, dech… Dan benar, setelah nunggu plus nggrutu lumayan lama, si Lala kembali dari Tubbiesland, eh, kamar mandi dengan muka kusut. Katanya (M’Joko, eh, M’Basuki), dia sakit sejak di pos 3 or 4. Baru jalan 5 menit, semua penumpang udah terlelap. Tahu-tahu udah sampai di Tawangmangu. Begitu turun ‘n mencium bau asap, Tan-3 ‘n Rusty langsung pusing ‘n mual mau muntah. Untung M’Joko masih bawa Antimo. Bahkan Rusty makai cara lama, nempel koyo’ di pusernya.
Di sini, Sanggarists photo-photo lagi dengan latar G. Lawu. Lalu semua peserta digiring ke warung langganan Mapadok untuk makan siang. Porsinya ternyata porsi besar, sampai cewek-cewek Flamboyants nggak bisa ngabisin. Dan entah apa yang dimasukkan si penjual ke makanan itu, tapi begitu makanan habis, rasa mual di perut Rusty hilang (emang dasarnya laper tur bladhok…) Tapi dia lalu kalo’ topi hitamnya udah nggak ada di kepala, mungkin jatuh di terminal. Back to terminal, Rusty berusaha nyari topinya. Tapi sampai naik ke bus Tawangmangu-Solo, topinya nggak ditemukan. Belajar dari pengalaman kemarin, panitia milih bus yang besar, yang langsung ke Solo, biar lebih cepat. Bangun tidur, udah nyampai terminal Solo, lalu nyari bus ke Jogja. Alhamdulillah, akhirnya impian kami tercapai, ‘cause panitia milih bus PATAS ber-AC. Sejuk ‘n dingin… Mungkin karena pengaruh AC tadi, plus kecapè’an, semua peserta terlelap ke alam mimpinya masing-masing. Nggak banyak yang bisa diceritakan di jalan (masa’ orang tidur suruh cerita…).
Sampai di Maguwo, sesuai kesepakatan, M’Joko turun untuk pulang duluan ‘n nanti menjemput yang lain di KU. Dan, akhirnya para Lawuists samapi di terminal Jogja jam 7 lebih. Tapi perjalanan pulang belum selesai. Setelah nunggu lumayan lama (sampai menghabiskan sebatang coklat ‘n 2 bungkus Tango), ada juga bus kota yang mau dicarter ke KU. Ternyata sopir bus ini pinter juga. Walaupun udah dicarter, dia masih nerima penumpang yang searah ke KU. Dan sampai di KU, sekitar jam 9,di sana udah ada M’Joko, plus Agoez ‘n M’Awit untuk menjemput yang lain. Dan akhirnya, Top-x, M’Joko, ‘n Rusty kembali ke ranjang ternodanya masing-masing… Ithox, yang takut nabrak pick-up lagi, bali ke KM-nya… Risti, yang dikhawatirkan nggak bisa nyampai ke Bantul, nginep ke rumah Tan-3, sekaligus nganterin pulang. Dan akhirnya, mereka dapat tidur berbahagia (nggak selama-lamanya, soalnya masih bisa bangun esok harinya, ngepluk…), tanpa pernah mendapat co-card, slayer, pijat refleksi, ‘n menginjakkan kaki di puncak Gunung Lawu. But, pengalaman yang mereka dapat udah berkesan dalam diri mereka. “A Journey isn’t marked by its distance, but it’s marked by its worth…”
*******
Rusty & friends
kembali ke atas
|

padrover.com © 2007 - 2009
|
Tercantum di daftarweb.org |
Log in | Register
indo mee
|