padrover.com
padrover.com
everything about us
things we do
we're going out sometimes
pictures of us
skills related to scouting
one way to share
sign our guestbook!
 

Expedisi Jomblang

one night

Malem minggu kliwon, lepas tengah malam, terlihat lima sosok bayangan ada di dalam sanggar. Ternyata itu bukan bayangan, tapi orang yang masih idup. Ada MUMU yang sedang di depan komputer, dan 4 orang lain sedang duduk-duduk dan klékaran (diketahui berinisial WGO, KAWA, RUS dan ITX). Ternyata malam itu ada rapat dewan Ambalan YS mendadak, membahas kelangsungan cerita asmara di sanggar tercinta. Entah dari mana datangnya wangsit, ITX mengusulkan bagaimana kalo kita adain caving sehabis kita ber-GPS.

Perselisihan dan adu argumentasi terjadi… akhirnya rapat ini memutuskan bahwa: “Dua minggu setelah keputusan ini dibuat, akan diadakan Caving di Semuluh dengan target peserta tidak banyak dari kelas satu. Survey akan diadakan hari jumat dengan target 4 atau 6 surveyor. Sehubungan dari itu, akan dibuat sangga kerja secepatnya yang terdiri dari oknum kelas satu dan BPH sebagai pengawas.”

Harapan besar tertanam di kegiatan ini….. yaitu: jangan buang sampah sembarangan……….:p

The Survey

by Joko

Jum’at, 27 Pheb 2003, 13.00 Wib
Setelah recharged energi dengan @ 1 porsi gado-hado teteg yang hanya bisa sebagai pengganjal perut, packing, koordinasi, leave footprint di bukunj, dan tak lupa berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing……mulai. Selesai.

Wowot, Hendra, Itox, dan Mucsy jadi juga berangkat survey ke Semanu, dilepas dengan tidak rela oleh anak-anak sanggar yg lain. Mereka berempat untuk selanjutnya disebut Tim Ati Ayam berangkat pukul 13.30. target awal rumah Rossy. Menurut rumor yang beredar di sanggar, Kak Bud jadian dengan Kak Sari…eh, nganu ding, Rossy berencana menyusul kami setelah menyelesaikan urusan pribadinya dengan salah satu oknum anggota DKC.

Alhamdulillah perjalanan Tim Ati Ayam berjalan lancar. Lima puluh kilo lebih dapat ditempuh dalam tempo jang sesingkat-singkatnja, 1 ½ jam, ngga boleh kurang. Sama teman bolehlah turun dikit. Satu-satunya masalah hanyalah kejadian yang menbuat kita bertanya-tanya antara ngga ‘ngeh’ dan melas meliatnya adalah saat Hendra merasa ada yang kurang beres dengan ban motornya. So…jadilah kita mampir suatu bengkel yang tidak dapat kami sebutkan namanya 300 meter sebelum piyungan. Tukang pompa dengan tergopoh-gopoh segera menghampiri motor hendra lengkap dengan selang pompanya. Wowot, Itox, dan Mucsy cuman mlongo ngliat Hendra dengtan santai mengempeskan ban depannya…psst…psst…psst…sampai dirasanya cukup kempes, baru kemudian menyilahkan tukang pompa memompanya dengan tergopoh-gopoh. Ngga cukup cuman ban depan, Hendra juga mengempeskan dulu ban belakangnya, tepat didepan tukang pompa yang menunggunya dengan tergopoh-gopoh. Kawan coba dengar apa jawabnya. Ketika ia kutanya mengapa. Bapak ibu……heh doi cuman njawab enteng,” Ben angine ganti…”kata doi cuek meninggalkan kita yg masih kebingungan. Opo hubungane????

Belakangan diketahui ternyata Hendra menggunakan logika politik u/ ban motornya. Jadi selain anggota DPR, angin ban pun juga butuh reshuffle. Untung doi ngga ngotot beranggapan begitu soal bensin motornya.

Well…Tim Ati Ayam sampe rumah Rossy jam 15.15 dengan tak kurang suatu apa. Cuman Mucsy yang merasa pipinya masih ‘ndredeg’ walaupun sudah ganti duduk di jok ruang tamu rumah Rossy. Kita-kita sempet syok waktu masup halaman rumah. Liat bapak-bapak yang jelas kalo bapaknya Rosy baru berjuang mbetulin antena tipinya. Opone sing aneh?? Heh…kalian pernah liat antena tipi sepanjang (ingat bukan setinggi) 3,5 meter??iki mesti ukuran jumbo! Mungkinkah panjang antena tipi berbanding lurus dengan jarak rumah ke sanggar?? Bayangkan antena tipinya Topx. ( Pix…lampung wis mlebu listrik durung??)

Rada lama juga nunggu Rossy. Kalo diitung-itung mampir DKC ngga sampe ½ jam, berarti Rossy bakalan nyampe sekitar jam 4. Ngga lama nunggunya. Masi kuat nahan HIV. Entenglah.

Jam 4 lebih seperempat, Rossy belon nongol, tempe goreng dari ‘bibi’nya Rossy dah abis, tipi dah nyala (tur isih bruwet), HIV ampir tak tertahan (chususon Mucsy). Akhirpun Mucsy nekat mo ijin ke belakang. Tapi sialnya, tuan rumah ngga ada yang keliatan ( ibu baru pulang dari kantor, mungkin baru mandi, dan bapak masi utak-atik antena di atas). Cuman ada cewek 5 tahun yang cuek nonton tv. Pas ditanya Mucsy, dengan ogah-ogahan doski nunjuk sebuah kamar mandi. Tapi sayang sia-sia, coz Mucsy jelas ngga mau makae KM dalam kamar kosong yang ngga ketauan kamar siapa.

Beruntung lima belas menit kemudian muncul Rossy senior baru selesai dengan urusan antenanya yang 3,5 meter. Mucsy yang bladdernya dah muncup-muncup sejak tadi cepet-cepet ijin ke belakng. Alasannya sih mo numpang sholat. Lega deh rasanya, coz kita semua sebenulnya juga dah muncup-muncup. Baru enjoy antri tuk melepas HIV, Rossy nongol. Bukan dengan Yovie, tapi ternyata dengan Wans. ( ikuti kisah petualangan perjalanan Rossy, dalam buku 2). Rossy dan Wans untuk selanjutnya disebut Tim beras merah ternyata ngga bisa langsung berangkat. Urusan pribadi rossy ternyata berbuntut doi harus ketempat Pembina satuan YS yang tidak dapat kami sebiutkan namanya.

Kembali kita packing. Wans dah mulai copot-copot celanan di ruang tamu. Rossy sibuk cari senter dan celana caving yang bukan seragam SMU. N’ …yup Kita ( wowot, Itox, Hendra, Mucsy, Rossy dan Wans) menggabungkan kedua tim kita jadi Tim Ati Merah, berpamitan dengan papi-Maminya Rossy yang melepas dengan penuh kekhawatiran karenan baru tau ada gua yang namanya Semuluh 5 km dari rumah mereka. Rintangan pertama muncul, Rossy ga duwe helm ciduk. Cuek ah. Helm standar pun jadi. Jam 5 kurang seperempat, Tim Ati Merah berangkat. Belon 1 km, Tim harus berenti kerna motor yang membawa Itox dan Mucsy tidak keliatan batang knalpotnya. Padahal sudah kesorean. Gawat kalo masih harus nyari Itox ke Pencarsari. Atao jangan-jangan, motornya Itox bener-bener GL Pro, alias Genjot Langsung….Protholll.

Untung 5 menit kemudian belalang tempur entu muncul, lengkap dengan ksatria tahi lalat hitam di atasnya. Dan teka-teki hilangnya motorpun terjawab sudah. Jebull mucsy sing nyetir. Dia nga tau di stang kiri motornya Itox ada kopling. Wah….jyann…wis kesusu jeh malah kursus nyetir ndhisik !!

Jam 5 pas Tim Ati Merah sampai BC semuluh. Lengkap, ga’ ada motor yang desersi lagi. Lord of the caves baru tenguk-tenguk di balai-balai di beranda joglonya. Dengan ramah dia menyapa dengan sapaan ‘Indonesia Raya’ yang hampir selalu ditanyakan pada setiap pengunjung. Dari Jogja?? Mau masup mana?? Berapa orang?? Dan ada cewek cakepnya ngga?? Yah…Lord of the caves emang ramah. Tim menyapa tak kurang ramahnya. Gimana khabarnya?? Masi inget kita ngga?? Gimana khabar goanya?? Dan ada cewek cakepnya ngga?? Tim ati Merah emang ramah juga. Baru asyik melepas kerinduan, muncul Lordess of the caves. Langsung masup dalam obrolan. Bercerita tentang kalo belon lama ada turis yang datang, 14 hari buat mbuat lintasan panjat, dua orang co-ce dari Jepang. Dia juga menanyakan kita dari pecinta alam mana?? Kuliah di mana? Dsb. Yah…Lordess of the caves emang ramah juga.

Berita buruk!! Tim dilarang masup Semuluh. Menurut kedua Mbah Lord of the caves tersebut Semuluh pasti banjir karena semalem ujan dan baru berenti jam 2 siang tadi. Gawat nih. Tapi kata mereka, Goa Seropan ngga banjir kok. Tim menarik napas lega. Ngga sia-sia datang jauh-jauh dari jogja. Masih kata mereka sekarang Seropan dipasangi pintu terali dan kuncinya terbawa ke Jogja. Gawat kuadrat, terus gubrak!!

Demi meliat muka anggota Tim yang tiba-tiba penuh kekecewaan, akhirnya kedua mbah Lord of the caves memberi ijin Tim untuk ke Goa. Tapi hanya sampai mulut gua, sekedar meliat-liat keadaan. Ingat!! Hanya meliat-liat, begitu kedua lord menggarisbawahi pezennya.

Yes…Tim segera menyiapkan diri dan alat-alatnya. Overall suit, safety helmet, all terrain shoes, dan portable light. Itu teorinya.

Jam lima lima belas, Tim bergerak ke rendezvouz point, setengah kilo dari BC. Ada sedikit harapan buat masyup goa kalo dirasa memungkinkan. Rada mengabaikan pesan dari mbah Lord of the caves gak pa pa lah. What they don’t know, won’t hurt them khan. Ya…raut-raut rada optimis nan penuh harap emang masih menghiasi wajah Tim saat mulai melewati 400 meter jalanan beraspal dan 200 meter pematang batu bersawah. Lagian wowot dah bilang dalam hati ke anggota tim yang lain kalo Goa semuluh lorong kiri ngga mungkin banjir lah yaw.

Jam lima lima belas, Tim bergerak ke rendezvouz point, setengah kilo dari BC. Ada sedikit harapan buat masyup goa kalo dirasa memungkinkan. Rada mengabaikan pesan dari mbah Lord of the caves gak pa pa lah. What they don’t know, won’t hurt them khan. Ya…raut-raut rada optimis nan penuh harap emang masih menghiasi wajah Tim saat mulai melewati 400 meter jalanan beraspal dan 200 meter pematang batu bersawah. Lagian wowot dah bilang dalam hati ke anggota tim yang lain kalo Goa semuluh lorong kiri ngga mungkin banjir lah yaw.

Tim melewati jalannan setapak yang mulai menurun. Sebetulnya cuman setengah tapak ding coz kita jalan musti segaris. Pintu Goa menunggu dengan pasrah 100 meter didepan kami. Didepan pintu sebatang pohon guedhem yang keliatannya ngga kalah tua ama goanya. Keliatan serem, mana gelap dan lagian dah surup nih. Gimana kalo ada pocong, atau jelangkung, atao suster ngesot baru caving. Ngga kebayang deh. Yang paling serem jelas kalo ketemu Bu Dinar didalam trus ngasi tau kalo besok ada ulangan mendadak. Weck…jyan jayus tenan. Mean no offense mam.

Tim Ati merah turun sampai mulut Goa. Sol sepatu, sandal, dan sepatu sandal mulai mesebal gara-gara lumpur. Jalan mangkin liicin. Tangan mulai meraba-raba sekitar cari pegangan. Suer gue ngga tau apa ada yang salah raba waktu itu, yang ajelas tampang wowot langsung ciut liat aliran air dilirong semuluh kanan yang duerres. Padahal, air disitu biasanya cuman menggenang. Untung anggota tim lain ngga tau ( sekarang tau ding). Lorong kiri lebih kering, tapi air yang macur ke lorong kanan jelas datang datang dari level lebih rendah lorong kiri.

Sampai disini, Tim Ati Merah berbagi tugas. Empat orang coba meliat lorong kiri lebih dalam dan 2 orang sisanya mbuka bekal rambutan. Sambil berjaga-kaga kalau tiba-tiba langit runtuh menimpa temen-temen dalam goa. Belon 10 meter dari pintu goa, langkah ke-4 orang pemberani tersebut kudu berenti. Disitu lorong kiri mulai berair dan jarak pandag tinggal 3 langkah. Keempat senter diidupkan, tapi tetap tidak menolong. Hendra keliatan meraba-raba pintu Goa mencari saklar lampu yang tak pernah ditemukannya. Untuk menutupi rasa malunya, dia dinobatkan sebagai anggota tim yang paling dalam masup goa. Yaitu satu langkah lebih dalam dari anggota tim yang lain.

Akhirpun tim memutuskan untuk masup kedalam goanya lainkali saja. Ada hal lain yang lebih penting seperti menjaga kepercayaan mbah-mbah Lord of the caves, keselamatan semua anggota tim yang pada belon kawin, dan bekal rambutan yang kian menipis. Untuk menutupi kekecewaan dan agar berkesan sebagai survey yang heroik dan lagi maaktu maghrib belon tiba plus kita tidak takut akan gelap, Wowot mengajak tim ke pantat Goa yang terletak 500 meter dari mulutnya ( mulut Wowot apa mulut Goa??)

Tidak ada yang berkesan dalam perjalanan ke pantat goa selain harus menyeberangi jalan gedhe, lewat telaga yang ¾ kering yang pengin banget dipake Jimah dan pembahasan tentang cacing yang menyerang otak sehingga ditemukan kosakata baru,” Oooooo…ho..oh ding”, kalo kita baru ngga ngerti.

Pantat Goa lebih guedhem dari mulutnya ( jangan dibaca dengan logat jakarta), diameternya sampai 30 meter. Dan lagi-lagi ada pohon tua yang ngga kalah guedhem dari pantatnya (Hoiiiiiii sonyole sopo ki…?), terbalut kain putih lebar 1 meter( mungkin pohonnya ketombean kali ya). Maghrib sudah menjelang, tapi kita tetap tidak takut akan gelap.

Beruntung Tim memutuskan untuk masup goa lain kali saja coz lantai goa yang biasanya kering berbatu-batu jadi kayak kali kecil di belakang sekolah. Semua anggota tim duduk-duduk di pantat Goa ( ingat, dilarang dibaca dengan logat Jakarta). Ruangannya cukup besar, muat buat 13.900 papan catur 64 kotak, 32 biji, seharga 14.000 rupiah, pertanyaannya siapa Grand master catur indonesia??

Hendra tampaknya masih penasaran kenapa goa begitu gelap dan ngotot mencari-cari saklar lampu yang kembali tak ditemukannya. Sekali lagi dia dinobatkan sebagai anggota tim yang paling dalam masup goa. Kali ini cukup membanggakan, lima langkah didepan anggota tim yang lain.

Puas meliat-liat pantat Goa ( peringatan terakhir….dilarang dibaca dengan logat jakarta, apalagi dengan pikiran mesum), Tim Ati Merah balik lagi ke BC, rumah mbah Lord of the caves. Disono sudah nunggu teh anget yang manis dan mbah-mbah yang anget juga tapi tidak manis. Ramah tamah lagi smabil ngeteh, liat-liat buku tamu cavers. Menemukan jejak anak-anak YS-K waktu masup Seropan-Semuluh tahun 2000. Sayang tidak semua anak-anak waktu itu meninggalkan jejak. Cuman ada sebuah nama Muhammad Arief, yang untuk menghilangkan senioritas kita panggil saja Ayie’.

Setelah mengisi buku tamu dan pamitan, Tim Ati merah kembali ke rumah Rossy, dan langsung cabut pulang ke Jogja malam itu juga. Mampir buat makan malam mie goreng dan godog sambil membahas hasil survey dan rencana-rencana kedepan.dari hasil diskusi diambil kesimpulan kalo kegiatan ini sebaiknya dipegang anak klas 1 dengan diback up BPH YS, sosialisasi dimulai saat GPS, iuran minimal Rp. 4000.00 serta mie godognya enak. Selesai makan, perjalanan ke jalan yang benar diteruskan. Walaupun gelap, panjang dan berliku tapi tekad kami sudah bulat karena terlalu banyak yang merindukan kedatangan kami di sanggar. Lagian sudah malam dan motor Wowot pasti dah kekancingan neng sanggar.

Kita sampai di sanggar jam ½ 10 malam. Gerbang terkunci, pintu sanggar tertutup dan gelap. Sekolah tampak lengang. Tak ada seorangpun anak berseragam SMU yang keliatan ( kecuali Rosyy yang masih pake celana kheki). Dah ah. Cara selesai dengan didapatkannya kunci dari Bu Itje n’ Tim Ati merah membubarkan diri ke rokum masing-masing. And They live happily ever after. Amin.

head officer’s report

by alfi

Melalui sebuah perbincangan kecil dengan orang-orang yang telah meneliti medan, terbentuklah panitia kecil yang bertugas menyiapkan alat dan segala sesuatu untuk caving. Tugas pertama membuat surat-surat, kebetulan ada sersan Roes yang mau membantu, namun sayang, masih ada kekurangan pada surat-surat. Terpaksa jendral Arai bersama kapten Wanz turun tangan. Diputuskan menyerang markas Temy untu meminjam alat-alat berat. Sayang sekali printernya ngadat, terpaksa nyari rental di antara gelap malam dan dinginnya hujan.

Keesokan hari tugas berikut menunggu. Mencari bantuan persenjataan ke kesatuan lain. Sayang sekali lagi, tidak ada kesatuan yang mau membantu, mungkin mengira sangker belum pengalaman perang sehingga khawatir alat-alatnya hilang percuma.

Dengan hal-hal seadanya sangker tetap menyusun rencana kegiatan. Untuk pembekalan prajurit, ditunjuk kopral Joker yang sudah pengalaman ngibuli orang. Alhasil, ada juga yang ikut.

Meski segalanya terbatas, Jomblang dapat dikalahkan, dapat disyukuri misi kali ini berhasil.

the pioneer

by Rossi

Para cavers ngumpul di sanggar, diantaranya pengen berangkat hari sabtu, sekalian mo nanyain keadaan gua ke juru kuncinya. Jam menunjukkan ± 14.00 ketika tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya… satu jam kemudian, hujan nggak berhenti juga, para cavers tetap sabar menunggu. Akhirnya setelah ± pukul 17.30 hujan nggak berhenti-berhenti juga, para cavers nekat cabut dari sanggar, menerobos hujan menuju Gunung seribu, they are: Alfi, Chessa, Deni, Muchtar, Wawan, Rossi.

Sebelumnya mampir dulu ke bengkel buat beli karbit, but nggak ada, kemudian mampir di masjid @ jl. wonosari buat sholat maghrib. Setelah itu meneruskan perjalanan dengan kondisi cuaca gerimis tambah brrr… dingin amat! Di tengah-tengah perjalanan nan gelap gulita, motore Rossi terkena gejala komplikasi radang platina sehingga meyebabkan gejala batuk kering sepanjang perjalanan. Alhamdulillah, sampai dengan selamat @ kliniknya Rossi. Habis itu, beli nasgor buat dinner. Akhirnya semua calon cavers kekenyangan…..

Tengah malam, Rossi, Wawan, Muchtar melakukan percobaan yang benar-benar inovatif, billiant dan kreatif, meski agak djayus. Mereka mengkombinasikan petromax bekas dengan botol dan selang infus, menghasilkan karya cipta “petro Boom” pertama kali di dunia. Swear! Percobaan itu memakan waktu beberapa jam hingga tengah malam. Sementara itu Alfi, Chessa dan Deni pada maen gitar plus nyanyi-nyanyi, tur akhirnya satu-persatu terlelap di dinginnya malam. Rencana menanyakankeadaan gua pun ditunda ‘coz kayaknya guanya banjir. Dan hari sudah larut malam time to sleep!! Zzzzzz

the day we went away

by Alma

That day, ahad pagi saat sebagian wilayah jogja diselimuti awan mendung dan dimandikan dengan lembut oleh guyuran hujan gerimis, some of us duduk-duduk di sanggar menunggu seorang Hendra yang tak kunjung dastang. Karena sudah tak sabar, m’ Yoyok dan Ratih serta TJ dan Jabar berangkat menuju lokasi (mampir ke rumah m’ Rossi dulu). Masih gelisah menunggu sang Hendro yang seharusnya menggoncengkan daku, tiba-tiba ada seorang malaikat penyelamat yang berinisial TOPX datang dengan alat transportasinya (mobil kijang biru yang bisa berlari dengan kencang). Lalu, diputuskan bahwa yang ditunggu sudah tak perlu lagi ditunggu karena waktu toleransi sudah habis. Nicka, yang ternyata mabox darat, mendapat jatah untuk nebeng m’ Itox menuju Semanu.

Aku dan saudari Joko mulai memasukkan barang-barang ke dalam kijang biru lincah yang terparkir di dekat pagar. Namun, tanpa diduga yang ditunggu datang dari arah selatan. Saat diberi pilihan naik mobil atau sepeda motor, dipilihnya kijang biru yang mungkin sudah kenyang karena perutnya sudah terisi beberapa tas itu.

Walhasil, manusia-manusia efisien yang memanfaatkan mobil hasil hibah sementara dari m’Top-x hanyalah beliau sendiri sbg sopir, saudari Joko, m’ Hendra dan saya sendiri. Dalam perjalanan kami berbincang-bincang, makan rambutan gratisan dan mendengarkan lagu-lagu Lampung yang susah dipahami. (m’ Hendra masih berusaha beradaptasi dengan lagu-lagu itu).

Kenapa lagu-lagu lampung? Karena radio dalam kijang itu mengalami gangguan yaitu juka ingin mendengarkan FM ada tombol yang harus selalu ditekan. Saudari Joko yang duduk di samping Pak Sopir (yang sedang bekerja, mengendalikan kijangnya supaya baik jalannya), tidak mau memenuhi tugas itu . Jadi, terpaksa deh?! Karena tak tahan dengan lagu-lagu itu akhirnya saudari Joko mulai mencari-cari solusi, dengan sedikit kertas, plester dan korek api ternyata usahanya tak membuahkan hasil. M’Topx yang sudah bosan mendengarkan lagu-lagu dari tanah Lampung, seger turun tangan. Dengan secuil korek api saja semua masalah bisa diselesaikan. Akhirnya m’Hendra yang merasa suaranya tersaingi dapat menghela nafas lega.

Tiba-tiba HP-nya m’ Top-x berbunyi. Nicka mengabarkan bahwa bannya m’Itox bocor di Pathuk Hill. M’ Top-x degan gaya racing-nya segera menuju Pathuk. Tapi di pertigaan pasar Pyong Yang kami melihat sepasang makhluk dengan wajah kebingungan. Tebak siapa?! Ratih dan m’ Yoyok. Setelah dipanggil, m’Yoyok said “Banne bocor!!!”. “Banne Itox, ta?” kata malaikat penyelamat kami(m’ Top-x). “Banne Jabar!!”. Apa?! Untunglah tidak jadi naik motor (batinku), bisa-bisa banne m’Hendra ikut bocor. Lalu kami menuju tempatnya Jabar. Kijang biru yang kami tumpangipun mendapat muatan baru yakni TJ, sedangkan m’Yoyok dan Ratih menunggui Jabar menambalkan bannya.

Di Jalan TJ bercerita….. Waktu itu saat motornya jabar nulai mendaki Pathuk Hill, tiba-tiba bannya Jabar terasa seperti selip. BAN-NYA BOCOR!! Motornya langsung membelok-mbelok (Jawa=nggobig-nggobig) tak karuan. Untung saat itu jalanan sepi, kalau tidak bisa-bisa kita harus nyumbang.

Kami lalu terus mendaki Pathuk Hill, searching for Nicka and m’Itox. Setelah sampai puncak, yang dicari malah nggak ada. M’Top-x’ cell phone berbunyi lagi, ternyata itu Nicka yang mengabarkan bahwa banne m’Itox sudah dapat digunakan. Kami melanjutkan perjalanan ke rumah m’Rossi. Di sana yang kami temui pertama adalah ketua sangker yaitu Alfi. Orang-orang yang menunggu di sana antara lain: m’Wawan, m’Muchtar, m’Rossi, m’Itox dan Nicka.

Menurut kesepakatan bersama akhirnya semua berangkat, kecuali 2 orang (m’Itox+m’Wawan) yang harus ngulek bumbu & nunggu 3 orang yang di belakang (m’Yoyok, Jabar dan Ratih) yang belum juga datang. Yang ikut mobil (m’ Topx, Saudari Joko, TJ Nicka, m’Muchtar and me) mampir dulu ke rumah Mbak Lilis. Sampai di sana m’Lilis-nya ternyata tak ada di rumah, ya sudah, kami kembali ke tujuan semula yaitu Jomblang. Ternyata motor-motor yang tadi ada di belakang kami sudah di depan, dengan personil lengkap pula! Dalam perjalanan kami sempat berfoto ria (yang naik mobil doang!) Kijang biru itu juga berhenti sebentar di Telaga Jetis untuk take nothing but picture. He..he..he. Tak lama kemudian sampailah kami ke Cave of wonders.”Jomblang”.

lonely way

by itox

Pagi-pagi jam 6 lebih dikit aku udah nyampe sanggar. Terdapat tanda-tanda sanggar habis buat tempet nginep anak musholla. Para cavers mulai berdatangan. Alat-alat di cek, ternyata TJ mbawa senter tak bernyawa, Nika mbawa senter tak berbatu, alhasil batre di bawah kolong diembat juga… Masih menunggu semua datang, ternyata terbesit kabar bahwa m’Top-x bakal mbawa mobil. Wah enak nih…

Yoyok dan Jabar terlanjur pengin mbawa motor.. alhasil yoyok+ratih, Jabar+TJ bersikukuh tetep mbawa motor meski ada mobil. Disinyalir bahwa Nika mempunyai penyakit ogah naik mobil. Karna yang mampu mboncengin Nika tinggal aku, jadi deh aku naik motor…  Yoyok dan Jabar sudah meluncur duluan, mobil-pun sudah datang dengan sopirnya, aku lalu menyusul beberapa menit di belakang Yoyok & Jabar. Sampe di depan gerbang ternyata Hendra datang dengan motornya. This time aku nawari dia untuk naik motor or naik mobil… Ternyata dia mendhing naik mobil…. Wah, jadi deh aku & Nika sendirian naik motor…

GL-ku kupacu.. cukup kencang… biar bisa nyusul dua motor di depanku. Still lonely, naik ke bukit Pathuk. Sehabis perempatan pathuk tiba-tiba motorku nyaris tak terkendali. Ternyata ban belakang kempès-pès…. wah.. payah nih.. pupus sudah harapan tuk bisa nyusul dua motor di depanku……nyari tambal ban, ketemu dan segera dibuka tuh banku.

Aku pengin ngabari yang naik mobil bahwa banku bocor. Kucari HP-ku… lhoh koq gak ada??!!! Setelah kuingat-ingat ternyata tadi ku-charge di sanggar and lupa kubawa.. Waaaahhhhh… Jadi deh kusuruh Nika buat ngabari mobil yang masih di belakang… Ternyata banku udah menderita gejala akut unusableitis dan harus diamputasi untuk diganti ban baru, jadinya malah cepet deh. Belum sampe mobil datang, kami udah cabut nerusin perjalanan ke Semanu. Nika kusuruh lagi ngabarin kalo banku udah oke.

It’s a lonely, lonely, lonely, way. Gak papa lah… akhirnya sampe juga ke rumah Rossi. Ternyata, rombongan pagi belum ada yang nyampe di sana. Whloh koq bisa ya??!! Padahal Jabar and Yoyok di depanku. Coba hubungi yoyok, ternyata HP-nya Nika searching network terus… Wah…

Alfi and Rossi lalu nyari karbit. Aku pengen ikut, tapi koq kayaknya gak perlu. Jadi deh aku ke semuluh sendirian naik motorku. Sampe di depan Seropan kulihat areal climbing… Hmmm.. oke juga… Lalu aku ke Semuluh. Motor kuparkir pinggir jalan kutitipin ama mbok-mbok yang sedang kerja di ladang, sementara aku turun nglihat mulut gua semuluh… Brrrr, ngeri juga sendirian. Mulut gua terpampang di depanku, suara air-pun terdengar dengan derasnya…. kupikir pasti banjir…. wah, jadi ke jomblang nih! … akupun segera balik ke rumah Rossi, tak lupa say thanks to mbok-mbok tadi.

Di sana ternyata sudah terparkir mobil kijangnya m’Top-x. Kabar tersiar bahwa  Jabar mengalami gejala yang hampir serupa dengan motorku ketika mo naik Pathuk… woo.. hla ini yang mbuat aku sampe paling dulu……hla wong tadi udah nyalip!!..

Setelah diputuskan mo ke Jomblang, haruslah ada yang masang alat duluan sementara ada yang nunggu Yoyok, Ratih and Jabar…. Padahal yang tau tempatnya cuman m’Top-x only… Kutawarkan diri jadi penunggu mereka bersama Wawan, sedangkan yang lain brangkat duluan, padahal blasss…..aku belum pernah ke Jomblang. Mobilpun berangkat., disusul beberapa motor. Tapi akhirnya motor-motor itu kembali ke rumah Rossi gara-gara mobil m’Top-x udah gak keliatan lagi. Setelah 5 menit berlalu, yang ditunggu datang juga. Kami, penunggang motor (5 motor dan 10 orang) segera meluncur ke arah barat mengikuti instingku. Sampai di belokan ke dua, tiba-tiba tim mobil terlihat di belakang kami….ternyata mereka mampir dulu. Jadilah kami bareng-bareng ke Jomblang.

M’Topix yang menjadi penunjuk arah tak lagi yakin akan jalan yang ditempuhnya. Untuk itu, para motor-riders dimanfaatkan guna mempraktekkan IMTP (Ilmu Medan Tanya Penduduk)… Setelah menempuh perjalanan nan nggronjal akhirnya sampe juga di lokasi. Mulut luweng yang menganga memberi kesan angker….. hiiii…..

Ketika semua sudah meninggalkan tempat parkir dan menuju tempat penurunan, aku dan Wawan yang masih di tempat parkir didatangi seorang inlander. Diceritain kalo gua ini berbahaya…. Baru aja ada yang mati..(sekitar 100 hari)…gara-gara terpeleset saat caving. Wah.. kalo dicritain kembali ke temen-temen yang mo turun, bisa padha gemeter semua nich!! Akhirnya kusimpan cerita itu untuk lain kali…

the wonderland

by muchtar

Sekitar pukul 8.30 rombongan caver 2 tiba di basecamp (Rumahnya Rossi). Setelah menyiapkan segala sesuatunya dan berunding beberapa saat, akhirnya memutuskan untuk mengubah arah tujuan dari yang semula gua semuluh menjadi ke gua jomblang. Dengan pertimbangan beberapa hal antara lain di semuluh sedang banjir akibat hujan.

Kemudian para caver melanjutkan perjalanan menuju jomblang. 10 orang berboncengan dengan 5 motor dan 1 mobil berisi 6 orang dengan jumlah keseluruhan 16 cavers. Perjalanan menuju gua cukup merepotkan karena jalan yang belum diaspal, berbatu-batu, dan becek serta liat. Saat perjalanan rombongan mobil sempat berhenti dan berpose di sebuah telaga yang bernama telaga jetis. Tampak dari kejauhan telaga tersebut berwarna putih, tetapi ketika didekati seluruh permukaan telaga ditutupi tumbuhan hijau yang memantulkan sinar matahari sehingga tempak putih dari kejauhan.

Pukul 10.00 rombongan tiba di luweng Jomblang yang diameternya ±50 meter. Menurut kabar tempat ini dulu merupakan tempat eksekusi sekaligus pembuangan mayat eks PKI (luweng sijine dhing (L.Grubug) – red).

4 orang caver Muchtar, Rossi, Alfi dan dipimpin oleh m’Topx bersiap-siap memasang alat. Berjalan sekitar 20 meter kemudian menuruni tebing yang cukup terjal dan licin dengan alas kaki dan bawaan di punggung. Satu-persatu mereka turun dimulai dari m’Topx, Muchtar, kemudian Rossi bersiap-siap memasang tali yang akan digunakan untuk abseiling turun ke dasar gua.

Satu tindakan bodoh terjadi. Salah satu caver (amatir) melemparkan sepatunya ke arah kami dari atas. Spontan saja salah satu dari kami memperingatkannya karena bagi para pendaki maupun caver haruslah memperhatikan keselamatan orang lain yang ada di bawanya. Longsoran batu bisa saja terjadi hanya dengan sedikit gerakan sembrono. Dan juga satu hal lagi, bagi para caver yang amatir tidak boleh melongok ke bawah ataupun tepi jurang tanpa menggunakan pengaman.

Setelah alat selesai dipasang kemudian m’Topx menunjuk m’Joko untuk membersihkan lintasan. Untuk itu,  m’Joko otomatis turun lebih dulu dan memastikan semua peralatan siap serta aman dipakai. Begitu juga dengan keadaan di dasar luweng.

Muchtar sebagai caver ke-2 yang turun memberi masukan kepada jump master bahwa terjadi gesekan antara tali dengan dinding gua yang ternyata juga disadari m’Joko. Kemudian m’Joko memerintahkan m’Topx agar membuat padding. M’Topx lalu memasang matras pada bagian dinding tebing supaya mengurangi gesekan. Selain itu m’Topx juga mengikat ujung sebatang bambu (yang biasa digunakan naik-turun para inlander) pada dinding tebing agar aman kalo digunakan sebagai tangga.

Karena pengalaman buruk caving terakhir di Jomblang yaitu kemaleman, maka dalam memasuki gua tim caver dibagi menjadi 2. Tim 1 turun lebih dulu. ketika tim 1 menuju Grubug, tim 2 turun ke dasar luweng. Setelah tim 1 keluar, tim 2 masuk ke gua Grubug dan kemudian tim 1 naik ke atas.

Setelah 7 orang turun, mereka bersiap menuju Grubug, kecuali m’Itox yang harus menjadi belayer. Tim 1 yang terdiri dari m’ Joko(selaku ketua rombongan), TeJe, Alfi, Deni, Muchtar dan Rossi segera menyiapkan semua alat yang perlu dibawa dan meluncurlah mereka.

Mulut gua menuju Grubug tampak begitu lebar, para caver memasuki gua. Setelah beberapa menit, tibalah caver di pintu sumur berikutnya. Dari bawah tampak sinar matahari merambat lurus tepat pukul 12.00 dan mengenai batu yang berasal dari tetesan air. Pemandangan begitu indah karena sinar tampak lurus. Para Caver berpose di atas batu (m’Joko, Alfi, Rossi, Denny & TJ). Setelah Mumu mengambil gambar, ternyata tutup lensa belum dibuka (yaa elah.?!!.).

Di dalam gua tersebut terdengar suara aliran sungai bawah tanah yang begitu deras dan juga tetesan air resapan dari atas seperti suara air terjun. Selain itu, TJ juga menemukan bianglala kecil dan sempat difoto (tapi koq gak jadi?!!).

Setelah puas menikmati pemandangan, tim 1 ke luar dan kemudian dilanjutkan dengan tim 2. Di saat tim 2 masuk gua, tim1 bersiap naik ke atas. M’Joko sebagai jump master yang pertama kali naik menggunakan prusik. Kemudian di atas, merancang simpul (pruisik) yang bisa digunakan sebagai belay atas. Pada mulanya caver naik menggunakan bambu (yang biasa digunakan para inlander) dengan pengaman tali yang diikat pada seatharness. Setelah sampai di ujung bambu, caver berpindah jalur dan mulai memanjat tebing.

the treasure of the cave

by ratih

Hh… akhire… setelah perjuangan yang begitu keras kami nyampe juga di sasaran. Hm… menghirup udara segar bentar, trus doa bareng2. Untuk keselamatan kita semua… amien.

Wow! Sekitar beberapa saat para penunggu (sebutan toek yang gak bikin anchor) menikmati indahnya mulut gua yang guedhe banget. Sekaligus merenung (cari wangsit kali!). Sementara itu, Alfi, m`Top-x, Mucsy, cs lagi asik masang anchor.

Pertamanya ngeri juga sih ngeliat kedalaman gua yang katanya sekitar 40 meter itu. Apalagi bebatuan yang super licin gini. Tapi… bismillah. Dikit2 bisa turun sampe bawah. Ngantrine yo lumayan lama juga loh.

Dan… uf… akhirnya aku bisa memijakkan kakiku di dasar gua. Hm… subhanallah… pemandangan di bawah tuh bagus banget… stalaktit… hijau… adem… damai… (tapi yo enggak ding, m`Top-x masih tereak2 gitu). Penyusuran dibagi jadi 2 kloter. Kebetulan, pas aku nyampe di bawah, kloter pertama udah slesei, malah siap2 mau naek lagi. Wah, ngeliat Teje yang basah kuyub gitu jadi smakin penasaran.

Hm… akhire… aku ngeliat mulut gua yang sesungguhnya. Wuzz… kabutnya tebel banget di dalem. Pertamane, aku pikir itu air. E… ternyata… hik, jadi pengin malu. Ups… kudu ati2 banget. Jalannya bener2 licin. Waw! Megah baget di dalem. (sst… akusempet mbuat `prasasti` lho) Kami terus masuk dan masuk ke dalem, walopun batu2 itu menjegalku beberapa kali. Dan akhirnya… terereng… wuah… hm… bagus banget. Di pangkal gua itu ada air terjun kecil2an, malah lebih mirip `hujan`. Wuih… ada lobang yang cukup besar di langi2nya (berhiaskan tanaman menjalar bo!). Keren banget. Semburat2 cahayanya keliatan jelas banget. Sumpah, bagus banget! Bahkan ketika matahari seperti mengintip di pinggir lobang itu, kaya` kipas raksasa… hm… Kami sempet poto2 di atas stalakmit (jangan salah, stalaknit yang ini nih kaya` batu kali yang guedhe banget itu loh). Kami juga `hujan2an`… malah m`Hendra ma Alma gebyur2an air `buthek` pake helm `cidhuk`. Weh… asli, semua basah kuyub, but gak tau ya m`Itox, dia pake payung sih. Wagu… Beberapa saat menikmati gemericik air… sambil ngeliat batu2. Wuih… teksturnya bagus banget. Alhasil, ngantongin beberapa. Weh…

Mmph… tiba2 m`Top-x udah teriak2 lagi, suruh balik. Yo uwis, dengan berat hati, kami meninggalkan tempat itu, hiks… wah… basah2 gini, tambah licin aja. Wuh, mulut gua keliatan bagus banget dari dalem. Ah, keluar aja.

Hm… di luar tuh langsung pada sunbathing. Wuss… auranya keliatan jelas. Gak ding, itu mah uap air dari baju basah. Tapi keren bo!

Mmph… belon slesei berjemur, udah disuruh naek. Dapet giliran pertama lagi. Pake pruisiking nih critanya. Kebayang dong lama und capeknya. Tapi pas ngejalanin beneran, ng… gak gitu capek kok. Cuman ribet aja, kudu narik sana, narik sini. Gara2 itu tanganku luka2, hiks… Susahnya tuh pas dah nyampe di batu2. Licin, jadi bingung mo climbing aja ato tetep pruisiking. Mph… tau gak? Aku dah dioverlap ama banyak temen2 yg freeclimbing. Hiks… akhire dengan bantuan m`Y2k aku brasil juga nyampe di atas. Wah, disambut tepuk tangan Alfi. Thx dude! Arigato juga buat yang udah nyuport aku dari atas dan bawah sana. Thx baget.

time to go home

by TJ

Kami divisi hura-hura yang terdiri dari golongan muda: TJ, Nika, Muchtar Syahroni dan pendatang baru cheza, serta golongan tua : saudari Joko dan m’Topix as the drivernya. Tim kita kehilangan satu anggota yakni Al’manyul. Al’manyul tergabung dengan tim klomor (alias kelompok motor). Divisi hura-hura pulang lebih awal dari tim klomor dikarenakan mobilnya m’Topix lampunya gak nyala. So, biar gak kemaleman di jalan, kita percepat pulangnya.

Di mobil, yang terlihat sangat kotor dan kemproh adalah TJ dan nicanica, tapi gak papa yang penting kita tetep cantiex!! Kami langsung menuju kota Wonosari untuk mencari masjid yang nyaman, aman, tentram, damai, dan bahagia serta sejahtera untuk mandi. Kami menemukan sebuah mesjid yang gedhe buanget dengan air yang melimpah ruah. Puas deh kami mandi sambil menghambur-hamburkan air kolah. Sekalian saja numpang sholat, namanya juga masjid, tempatnya orang sholat!!

Kamipun melanjutkan perjalanan. Tadinya TJ dan Nica kira kita bakalan langsung pulang, tapi ada sebongkah rencana di otaknya saudari Joko dan m’Topix yang gak kami ketahui. Sebagai penumpang yang baik, maniez, cantiex dan menawan, rendah hati, serta tidak sombong, kami ngikut aja rencananya saudari joko ünd m’Topix. Ternyata usut diusut kita mau ke Dlingo buat mencari rumahnya pak Ponidi. Mau nyelesein urusannya m’Topix. Perjalanan ke rumah sasaran cukup jauh tapi suasananya sangat menyenangkan. Pemandangan indah menawan di kiri-kanan jalan. Dengan iringan lantunan lagu Ahmad Dhani, plus pemandangan matahari terbenam alias sunset. Wouih, apik tenan cah!! Benar-benar lukisan Tuhan yang jarang kita lihat kalo kita ada di Jogja.

Jalanan yang sepi serta naik turun membuat m’Topix menjadi-jadi. Laksana pembalap F-1. m’Topix ngebut seolah-olah tidak membaw beban nyawa anak manusia di belakangnya. Karena masih ingin hidup, otomatis kami menjeri-jerit ketakutan. Tapi Jeritan kami tak membuahkan hasil apa-apa, karena m’Topix tetap aja ngebut. Tapi jujur aja kita menikmati kok!! Asyik buanget soalnya. Setelah urusannya m’Topix selesai kamipun langsung pulang. Kalo gak salah sekitar jam 17.30. mbuh ah.. rangerti akoe!!!

Sampe di Jogja/ di Sanggar sekitar jam 6.30 tapi tim klomor belum datang…. sepi…. setelah itu aku pulang…………….

last men standing

by itox

Waktu udah lewat jam 2 siang, beberapa orang masih di bawah. Ratih masih berusaha menaiki tebing. Akupun memutuskan untuk Sholat Dhuhur di bawah, segera kuminta ponco dari atas tebing dan mengajak temen-temen tuk sholat. Aku ganti celana, lalu diketahui bahwa Wawan terkena ajakanku sholat. Wudhu dari tetesan air yang telah membentuk stalaktit di atas……asyik juga. Usai aku dan Wawan sholat, yang lain segera kuanjurkan untuk sholat. Alma bilang ”Raono kaos kaki je!!!”. Aku menyahut,”nggo kaos kakiku po piye?”. Setelah sesaat berlalu akhirnya Alma mau juga make kaos kakiku (padahal teles-teles piyé gitu) untuk sholat. Hendra dan Alma lalu sholat berjamaah. Dalam benakku, akulah yang bakalan jadi orang terakhir yang naik ke atas, lalu kubilang pada Wawan bahwa dia juga orang terakhir yang naik, bareng aku.

Wawan dan aku bertanya-tanya akan keberadaan areal lurus di depan tempat pendaratan. Hmm ada apa ya di sana? Seperti sebuah dataran di bawah (batinku).. “Mudhun mrana yuk”, ajakku kepada Wawan. Diapun mengiyakan… Segera saja kupake sepatu lalu berkata pada orang yang masih tertinggal di situ (Yoyok, Hendra, Alma) jika aku nggak kembali dalam 10 menit berarti aku dalam bahaya, tolong jemput aku di bawah (live or dead). Aku dan wawan turun ke bawah menguak rerimbunan.. Wah jalannya ternyata licin. Di depan terlihat cekungan yang menjorok ke dalam. Kucoba terus turun… tiba-tiba mak tlusuuur gubrak, aku terpeleset dan refleksku meraih pohon kecil di sebelah kananku menggunakan lengan. Alhasil tanganku bertato bintik-bintik merah gara-gara tergesek (jawa=kebarut) pohon. Tapi alhamdulillah, pohon itu menyelamatkanku dari bahaya….. Hmm aku masih berjalan lagi turun, kulihat Wawan sudah ketakutan dan kelihatannya udah pengen naik lagi. Akupun berhenti, di depan bawah terlihat sebuah mulut goa yang tergenangi oleh air. Aku tak berani melanjutkan langkah karna sudah tak ada pohon lagi untuk berpegangan, mudah untuk turun tapi akan sangat susah untuk kembali naik karna memang licin. Segera saja kami kembali ke atas dengan masih bertanya-tanya akan apa yang sesungguhnya ada di bawah.

Sampai di atas, aku yang merasa haus lalu mengambil botol aqua dan mencoba menampung tetesan air dari stalaktit. Hmm susah juga…akhirnya dapat juga kutaruh botol itu berdiri tuk menampung air setelah diberi beberapa batu di pinggirnya.  Setelah itu kami mengemasi barang-barang yang masih tertinggal di situ agar nanti ditarik ke atas sebelum orang terakhir naik. Tak lupa juga aku ngobatin lukaku….Waktu berlalu, akupun teringat akan botol untuk menampung air tadi… segera kuambil dan mendapatkan air sekitar ¼ botol kecil aqua. Kubagi bertiga bersama Hendra dan Wawan yang masih ada di bawah. Wuahhhhh suegernya…. tapi koq cuman dikit… tak kurang akal aku memotong botol infus untuk corong menampung air…tapi gak jadi digunakan gara-gara bau dan diketahui oleh Wawan bahwa botol itu diambil dari tempat sampah…..

Hendra sudah mulai naik meniti tali, sementara barang-barang dinaikkan dari tali satunya. Aku masih merasa haus… kuambil sebuah helm cidhuk lalu kugunakan untuk nampung air tetesan stalaktit. Wah.. kali ini dapet banyak… siip lah…. kuminum dari helm itu.. sueger juga.. – mirip kaya film perang-…lalu kuberikan sedikit ke Wawan. Aku suruh wawan nampung air lagi pake helm itu sementara aku melihat Hendra merampungkan tugasnya meniti tali. Wawan kembali membawa se-helm air seger… aku segera minum sampai puas, Wawan juga begitu.

Tiba saatnya kami berdua ke atas. Kusuruh Yoyok yang berada di atas untuk menukarkan anchor pengaman climbing dan anchor untuk pruisik karna posisinya yang kurang menguntungkan. Tiba-tiba… terdengar suara: “adhuh tiba”….“wuuuuuuunggggg”….. “thingggggggggggg”. Aku terpana, tubuh ini terdiam, aku terpaku..(eh nggak dhing… nggak bawa paku + pukul besi koq!)  padahal ingin ku menangkap figure of eight yang terjatuh itu. Dua meter di depanku benda itu jatuh mengenai bebatuan dan melenting 3 meter ke atas dan jatuh di rerimbunan. Yoyok langsung bilang, ”Sorry-sorry, salahku… Rasah jupuk wae.. Suk takganti”. Tetap saja Wawan mencari benda itu di rerimbunan dan menemukannya… Jika tak pengin menggunakannya lagi paling nggak bisa buat pajangan.

Setelah selesai dengan urusan anchor dan figure of eight yang jatuh, ternyata aku harus berurusan dengan tali yang nggubet di bambu. Alhasil, aku naik dulu menggunakan pruisik tuk melepaskan gubetan tali di bambu. Setelah itu segera Wawan menyusulku naik memakai SRT set. Alhamdulillah Wawan dan aku sampai di atas disambut oleh Yoyok dan Alfi. Tali segera dilepas, alat-alat dibawa naik ke tempat parkir. Sampai di tempat parkir ternyata tersisa 4 buah motor dan semua berjumlah 8 orang, yang lain sudah naik mobil mendahului kami. Barang segera dikepak, kusadari bahwa sandalku tinggal sebelah kiri karna sebelah kanan jebat pas aku ngambil air di bawah. Tak apa lah… pake sandal selèn (yang satu karet, yang satu kulit asli). Setelah siap pulang ke rumah Rossi aku mengajak temen-temen berdiri baris di pondasi di samping luweng Jomblang. Menghadap luweng kami bershaf lalu memberikan penghormatan terakhir kepada luweng dan membungkuk 3x. Tentunya tak lupa berterimakasih kepada Allah yang telah memberi pengalaman ini kepada kami.

Perjalanan pulang dilakukan dengan formasi: Wawan+Rossi, Alfi+Hendra, Yoyok+Ratih, Aku+Alma. Sekitar jam 4 kami tiba di tempatnya Rossi. Istirahat, sholat dan mandi (bagi yang mandi), itu yang kami lakukan. Disuguh sepiring pisang kepok putih godog. Dibuka kulitnya, pisangnya nggak mau berdiri. Mbuka satu lagi, berdiri sebentar lalu mak pléyot, uh… pisangnya lemessss. Alma dan Ratih tak lupa menelpon rumah guna mengabarkan keberadaannya. Ternyata mandinya lama-lama semua….. setelah ku lihat ternyata bak mandinya guedhe banget… bisa buat renang…(jangan-jangan padha kungkum di situ ya?!)…..

Dan orang-orang masih santai…… ada yang masih mandi, ada yang nonton langit, dll, dsb,etc…………… dan sebenernya aku sudah tak sabar tuk pulang karna punya tanggungan 2 orang cewek.

Kebetulan saja ortunya Rossi hendak ke Jogja pake mobilnya. Barang-barang milik bersama kami titipkan ke ortu-nya Rossi biar di-drop ke rumah Rossi di Gedong Kuning… Lumayan-lah gak jadi nenteng seplastik besar sepatu basah nggilani plus njijiki dari Semanu sampe Jogja. Hari makin larut, masih saja kami tidak cag-ceg. Kami putuskan untuk mencari masjid untuk maghrib dan juga makan di jalan.

Ketambahan motor Rossi formasi sedikit berubah: Yoyok dan aku tetap. Alfi dan Wawan Sendirian. Rossi mboncengin Hendra. Rossi kusuruh menjadi komja. Tepat ketika adzan maghrib kami pun berangkat pulang. Wah.. yoyok koq tambah lambat?. Hmm.. Aku sempet rodo nganyel piyé gitu… tugas kita khan mengantar 2 makhluk yang berjenis cèwèk yang harus segera sampai rumah dengan seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja. Kini aku berkendara berada di posisi 4, di belakangku hanya tinggal Yoyok.

Sampai di kota Wonosari, dari arah kantor polisi menuju jembatan, kulihat beberapa sosok motor di depan berbelok ke kanan (yang kuyakini motor rombongan kami), lho tapi koq ada yang bablas????… sampai di pertigaan itu (cedhak pasar kulon jembatan) aku berhenti, biar Yoyok tahu kalo aku mo belok. Detik demi detik akhirnya Yoyok sampai juga, aku dan Yoyok lalu belok kanan. Instingku kugunakan… karna benar-benar saat itu aku sudah kehilangan lacak motor temen-temen di depanku. Dengan cepat kulalui jalur yang biasanya digunakan kalo mau ke Jogja dari arah timur.. Sampai di alun-alun terlihat juga sosok mereka… Hmm.. alhamdulillah gak jadi kepisah. Akhirnya kami masuk ke masjid Agung Wonosari. Lho… tapi koq kurang 1 personil yang tak lain adalah Wawan.

Kuputuskan bahwa Wawan sudah MIA (Missing in Action). Akupun segera berpikir.. lebih baik semua bareng-bareng ngambil jalan yang salah daripada kepisah meski yang kepisah itu mengambil jalan yang benar. Ya gitu tuh akibatnya… pulang sendiri deh!!!

Kami pun segera sholat di mesjid itu. Selesai sholat kami (bertujuh) berniat menghabiskan filmnya Alma yang dari tadi belum habis… Dijepret sekali, lho koq masih bisa diputar kokangannya, padahal paling tidak sudah 5 kali berada di posisi 36. Diputuskan kalo fotonya bakal numpuk, segera pula dilakukan penggulungan film oleh Yoyok. Belum sampai sekali putaran malah mak thel… film-nya putus… Wah…. akhirnya diserahin ke aku kamera itu, biar besok diambil trus dicuci film-nya….

Sekitar jam 7 malem kami keluar mencari makan, dapatlah sebuah warung tenda di sebelah timur alun-alun Wonosari. Pesan 4 pecel lele & 3 nasgor. Wah, ternyata dikasih 4 lele + sebakul penuh nasi dan 3 gundukan nasi goreng. Wah…. banyak nian…

Selesai makan kami-pun pulang menuju Jogja… Iring-iringan motor berjalan meniti jalan gelap dan suram. Lagi-lagi Yoyok lambat… tapi kali ini aku selalu di belakangnya.. ndhak ilang…. Akhirnya 2 motor di depan (Alfi, Rossi & Hendra) dan 2 motor di belakang (Yoyok & Ratih, Aku & Alma). Turun dari bukit pathuk, sampai juga di areal pandang. Kami semua berhenti sejenak tuk menikmati pemandangan Piyungan dan kota Jogja di kejauhan di malam hari.. such a beautiful scenery…..

Perjalanan dilanjutkan… selepas piyungan, aku dah nggak tahan lagi di belakang Yoyok, jalannya terlalu lambat buatku. Akhirnya kukendarai motorku seperti biasa (nggak lambat). Di Ringroad aku belok kanan biar bisa langsung nganterin Alma pulang. Berhenti dulu ah di fly-over Janti . Kami berhenti sejenak di tikungan fly-over merasakan getaran bus yang lewat – seperti gempa. Sampai di rumah Alma, aku langsung diinterogasi oleh ibuknya gara-gara pulangnya kemaleman (jam 9 kurang)…..dengan jujur kukatakan yang sesungguhnya terjadi…. Hmmm…. Sesudah itu akupun meluncur pulang, menikmati kesendirian dan rasa lelah dan kantuk yang tersisa.

cleaning the mess

by alma

Semua itu berawal  saat TJ and me maen ke sanggar pas istirahat. Alfi yang ada di sana menyuruh kami untuk membaca tulisan yang terpampang di papan pengumuman. Tulisan itu memberi tahu kami bahwa pulsek hari itu bakal ada acara balas budi (nyuci alat). Kontan saja yang terpikir adalah ogah ikut, buat apa sih. Tapi ada rasa bersalah juga. Kenapa? Karena kalo alat-alat itu belum dicuci berarti pekerjaan belum tuntas. Tugas belum usai. Yang bikin pikir-pikir karena TJ ada les, jadi kemungkinan gak bisa ikut. Rembug-rembug, Imus mau ikut dan disusunlah rencana. Namun tiba-tiba imus teringat sesuatu. She have to nyekar ke makam almarhumah ibunya. Ya sudahlah, toh aku juga ada KLR (Larutnya KIRPAD). Paling-paling ntar cuma mampir sebelum pulang.

Siangnya setelah KLR, aku maen ke sanggar lagi. Ternyata pada belum berangkat. Walah walah walah, jadinya aku ikut berangkat bareng. Yang berangkat waktu itu: Alfi, Deny, M’Wawan, M’Itox, M’Muchtar, M’Hendra & me of course. Kami lewat jalan yang beda-beda. Aku yang berangkat lumayan akhir malah sampai Babarsari duluan. Sampai sana kupikir pada di mana tahunya tak lama mereka nongol juga. Sungainya sudah bertambah deras karena hujan, airnya-pun coklat. Diputuskan bahwa tak jadi nyuci alat, tapi mbakar jagung thok.

Jembatan tepat di atas selokan mejadi tempat kami parkir. Di situ kami bertemu seorang nenek yang sedang merenung. Setelah disapa, beliau melarang kami untuk mencuci di sungai. Setalah dijelaskan oleh M’Hendra bahwa kami hanya akan membakar jagung saja, Nenek itu menyuruh kami berpindah lokasi. Beliau bercerita tentang cucunya yang meninggal 3 tahun lalu. Cucunya saat itu baru saja lulus SMP & sudah diterima di SMU tapi meninggal karena terjatuh dari jembatan babarsari. Untuk menjaga perasaan nenek itu, kami mencari-cari tempat yang tepat. Tapi apa boleh buat tak ada tempat lain yang menarik.

Lalu api mulai dinyalakan (mulai, tapi gak nyala-nyala). Saudari Joko tiba-tiba saja datang membawa tempe hasil gorengan sendiri dan kopi anget. Biar nggak sido-sido mbakar jagung, setidaknya ada pengganjal perut-lah. Sambil memakan hidangan dari saudari Joko, M’Wawan yang pantang menyerah menyalakan api dan M’Muchtar yang mengulek bawang untuk bumbu jagung bakar, tiba-tiba kami melihat sebuah benda belang-belang terhanyut di sungai. Dipandangi beberapa saat, sadarlah bahwa itu adalah kucing yang mati & tubuhnya sudah mlembung. Kasihan ya!!!

After a few mmoment, TJ dateng, di belakangnya ada m’Yoyox & m’Rossi. M’Rossi yang baru saja datang, nampak bersemangat dan dengan santainya langsung mengoles-oles bumbu pada jagung. Gubrakk!! Apinya aja belum nyala (& belum tentu nyala)!! M’Wawan yang merasa gadgetnya habis (bensin) mencoba mengambil dari motor. Satu detik, dua detik, ….. Satu menit, dua….. Eh, malah pulang dengan tangan kosong. Tampaknya pradana kita ini tak tahu saluran bensinnya di mana?! Alfi akhirnya turun tangan dan tertampunglah beberapa tetes bensin dalam botol yang sudah disediakan.

Sambil melihat usaha gigih m’Wawan menyalakan api, most of us (m’Yoyox, m’Hendra, TJ, m’Itox, m’Muchtar & me) maen jempol jengat. Lumayan seru lha wong m’Muchtar jempole gak kurang-kurang always 2. He..he..he.. melihat gelagat ada yang bakalan kalah, diputuskan bahwa yang kalah dicoreng-cemoreng wajahnya dengan arang. Yang sudah diperkirakan terjadi juga. M’Muhtar kalah. Hi..hi..hi. Arang disiapkan & serbuuuu!!! Hasil pembantaian adalah wajah m’Muchtar yang coreng-cemoreng. Second game, m’Rossi ikutan. Permainan mulai membosankan karena berlangsung terlalu lama. Finally m’Itox vs me. Unluckyly, sing kalah aku. Terang aja semua tangan langsung menyerbu wajahku. Wis ngono dikeki kumis maneh karo m’Yoyox. Hiks L. Entah karena sirik atau apa setelah aku kalah permainn dihentikan. Uh menyebalkan!!!

Our face (m’Muchtar & me) had been cleaned. Menunggu jagung matang sambil ngobrol-ngobrol. Lihat Deny yang kesulitan menusukkan batang kayu ke jagung karena garpu yang sudah dibawa tak digunakan, nyama-nyamain hidungnya Deny sama m’Dani, and so on and so on. Akhirnya ada jagung yang mateng. Punya saudari Joko dimakan TJ & me, maklumlah kita kan spesies Homo Sapiens Gossiper paliensis. Setelah perut kenyang (17.55) kami (m’Hendra, TJ & me) pulang. Pokoknya home sweet home-lah……

Sekilas info: akhirnya, tas kesayangan Joko Perwoto yang sudah menyertainya ke mana saja selama bertahun-tahun berhasil dilarung di Sungai Kuning Babarsari. Disinyalir berisi bara panas sisa pembakaran jagung di atas selokan. Selamat jalan tas!!

Hari berikutnya berhasil juga kita nyuci alat….. Alat-alat dicuci di belakang lab Biologi… lalu diangin-anginkan di sanggar.. kecuali untuk tali utama kita nyucinya di Babarsari… Sampe maghrib baru pulang……………….

Joko-Alfi-Rossi-Alma-Itox-Muchtar-Ratih-TJ

Petualangan kami tak akan pernah berhenti
Selama nyawa masih di tubuh ini

Tinggalkan pesan


padrover.com © 2007-2009

Tercantum di daftarweb.org

Log in | Register  

Like Asian Food? Try Asian Home Gourmet Chicken Curry at EfoodDepot.com