padrover.com
padrover.com
everything about us
things we do
we're going out sometimes
pictures of us
skills related to scouting
one way to share
sign our guestbook!
 

Pendakian Lawu

Chapter 1

A Great Invitation

Alkisah, suatu hari M’Joko (baca: Mbah Joko…) menulis iklan di Bukunj, ngajak anak-anak sanggar naik ke Lawu, tanggal 2-3 Juli 2001, barengan sama anak-anak Mapadok (pecinta alamnya Kedokteran UGM). Karena waktu yang ditawarkan adalah ketika liburan, dan iklan itu dibumbui dengan berbagai rayuan mawut M’Joko, banyak anak sanggar yang tergoda. Apalagi fasilitas yang disediakan (kata M’Joko) sangat memadai, ada makan, transport, co-card, slayer, dan pijat refleksi, yang semua itu cukup ditebus dengan 30.000 perak thok thil.

Dari hasil pesan layanan masyarakat itu, terjaring beberapa orang sanggarists, dari kelas 1 sampai kelas… (M’Joko kelas berapa, ya..?). Padahal, sebelumnya Ambalan mau ngadain camping, yang waktunya tepat sebelum acara ke Lawu, yaitu 30 Juni-1 Juli. Wah, kalau ikut dua-duanya, tulang-tulang bisa mrotholi, nih… Tapi, nggak pha-pha, pokoknya bisa menikmati liburan…

Mendekati hari H, minimal ada 6 makhluk yang sudah meyakinkan diri untuk ikut. They are (urut tua) M’Joko (selaku Kepala Keluarga), Top-x (yang jadi tukang potret keliling, sekaligus ikut sebagai perpisahan sebelum KKN), Risti (sebagai penerjemah kalau ketemu orang Jepang nggunung), Tan-3 (sebagai “istri setia” yang pengin nemenin mbah kakung kita…), Ithox (yang harus menjamin bahwa para juragannya bisa makan enak ‘n tidur nyenyak), serta Rusty (sebagai anak berbakti yang bertugas menemani kedua orang tuanya yang sudah udzur…).

Selain 6 makhluk tadi, masih ada beberapa makhluk bayangan yang pengin ngikut. Seperti Dwee’ yang pengin jadi menantu bijak dengan nemenin kedua mertuanya, Mandha yang pengin menghirup udara segar, Hendy yang sekedar niat, atau Andri “jenggot” yang katanya Ithok pengin menikmati rumput Lawu (??), dan beberapa makhluk lain yang memang terlupakan…

Persiapan pun dilakukan. M’Joko mulai jogging keliling rumah tiap pagi ‘n sore. Tan-3 mengerahkan segenap tenaga untuk mencari pinjaman sepatu, tas, lsp. Ithox sibuk nginep di “sanggar” KM (bukan kamar mandi!!), Rusty yang bersemangat nyari dosennya (??), and other preparations untuk menghadapi gunung yang (kata M’Joko) lumayan tinggi namun sangat dingin.

Atas kemurahan ketua Team Flamboyant, plus berbagai godaan syetan, para “climbers” ini dapat subsidi @ US$ 1.74 (dengan kurs US$ 1=Rp 11.450,00). Asyiik…! Keenam makhuk tadi pun berunding agar bisa nyaman di sana. Biaya bantingan agar nggak marahi bonyok dirembug. Pembagian tugas pun dilakukan. Apa yang harus dibeli, siapa yang belanja, siapa yang bawa kompor, yang bawa spiritus, senter, panci, rantang, rice cooker, kulkas, bla…bla…bla… Pas undangan TM, semua peserta pun bersemangat ikut. Lho, ternyata yang datang TM cuman kami berenam!! Nggak pha-pha, pokoknya informasi yang dibutuhkan sudah di genggaman. Berangkat tanggal 2 Juli, jam 12.00, kumpul dulu di KU pukul 10.00 (nunggu 2 jam?!), pulang besok sorenya (insya Allah).

Chapter 2

What A Long Journey…

Senin 2 Juli 2001. ‘Cause malamnya ditelpon Top-x untuk belanja, Rusty segera bersiap berangkat pagi. Setelah ke rumah Top-x ngambil uang, dia segera meluncur ke kampus, nyari dosen…lagi. Karena sampai jam setengah 10 sang dosen belum rawuh, akhirnya dia menuju ke Mirota Kampus untuk shopping. Ternyata, shopping memang nggak mudah, milih makanan yang disukai semua anggota team, milih barang dari berbagai merk, milih yang harganya miring, apalagi milih yang padha shopping (??). Singkat cerita, dia baru kelar shopping ¾ jam kemudian, ‘n langsung cabut ke sanggar.

Di sanggar, udah ada Risti, Ithox, ‘n Tan-3 dengan tas jumbo masing-masing. Eh, bukan ding… Risti dengan tas milik Ikbal, Ithox dengan tasnya Asa, ‘n Tan-3 mbawa tas punya Dwee’. Dasar ra modal… Dengan alasan tasnya dititipkan di rumah Top-x, Rusty dengan licik membagikan barang belanjaannya yang bejibun kepada 3 orang itu, sambil jadi debt colector, narikin pajak yang udah disepakati.  Tak berapa lama, M’Joko datang, dengan tas pinjaman juga… Gubrak!! Karena merasa udah telat untuk kumpul di KU, mereka segera berangkat. M’Joko, Tan-3, Ithox, ‘n Risti mampir ke tempat Top-x mau nitipin motor, sedang Rusty ngampirke dulu Shark yang mau ke kampus, ketemu sama dosennya.

Rusty sampai di KU pertama. But, ternyata di sana sudah ada Dwee’ (gagal dipamitkan untuk ikut, nggak boleh sama …) yang pengin melepas tasnya, ‘n Ratna Ithink yang pengin melepas sepatunya, yang semua itu dipinjam Tan-3. Tak berapa lama M’Joko bersama Tan-3 datang (ihiii…), t’rus M’Joko ngomong sama Rusty, “Tam, nyilih klambimu, taknggo nemoni dosenku…”. Gubrak!! Dosen di UGM memang jadi selebritis, kali ya…

Walau jam di tangan sudah hampir menunjuk angka 11, tapi koq orang-orang yang berpakaian “nggunung” baru sedikit, padahal katanya mau naik satu bus. Tiba-tiba, Ithox ‘n Risti muncul di KU, tapi koq masih dengan motornya masing-masing..? Ternyata si Top-x baru tidak ada di tempat.

Panjang umur, Top-x yang baru digosipin muncul, ternyata dia baru ada kencan, sama dosennya juga kali. Karena kehabisan tenaga setelah kencan (??), Top-x sempat beli nasi bungkus yang tinggal satu-satunya di tangan pedagang ideran. Tapi makannya terganggu oleh Phi’i yang tiba-tiba muncul sambil ngambil telurnya. Rupanya, si Phi’i harus ngampus, untuk ketemu dosennya juga, mungkin. Dengan bantuan Dwee’, 4 motor yang dibawa para “climbers” dipindahkan ke rumah Top-x. Berat banget, man…

Karena sudah waktu dhuhur, sedang bus yang ditunggu belum datang, kami shalat dulu di masjidnya KU, yang lebih cocok disebut mushala karena mungilnya. Selesai shalat, rupanya Tan-3 belum puas dengan pinjamannya, so dia minjam jaketnya Phi’i. Jhan, Tan-3 ini memang kurang modal banget…

Jam 1 siang, kita ngumpul bareng peserta dari Mapadok, yang jumlahnya ada 18 orang. Dengan dipimpin M’Basuki, sang ketua Mapadok (yang pas kampanye ketua BEM terkenal dengan slogannya “Basuki, inovasi tiada henti!”), kita berdo’a bersama, memohon keselamatan dari Yang Kuasa. Sesudah itu, kita photo-photo bersama (kaya’nya, Team Flamboyant yang kelihatan di photo cuman Rusty ‘n Ithox…).

“…busnya koq belum datang, ya..?” tanya Top-x. “Kita nyegat bus kota ke terminal, Mas…” jawab, Eko alias Pényo, bendahara panitia. “HAH..!!” Gubrak..!! Tapi kita masih khusnudhon, mungkin busnya nunggu di terminal… Setelah tawar menawar dengan beberapa sopir, akhirnya kami ber-24 naik bus jalur 2 ke terminal. Jhan, suk-sukan… Di bus ini, ternyata nggak ada seorang pun yang gentleman, buktinya, nggak ada yang mau memberikan tempat duduknya pada ibu-ibu yang berdiri. Dasar..! Dan sempat diberitakan oleh Top-x, kalau dia melihat seorang oknum sanggar bernama Dhamar, melaju ke arah utara di Jl. Mataram, bersama Suzuki Satrianya. Siang-siang, pas liburan lagi, mau kemana, ya…?

Sampai di terminal, ternyata busnya memang udah nunggu, banyak lagi… Ada bus AKAP, bus kota, bus PATAS, bus sumur, dan bus-bus lainnya, kita tinggal milih. Pilihan jatuh pada bus jurusan Jogja-Solo bermerk Srimulyo (kalo’ nggak salah inget…). Kali ini lebih suk-sukan. Padahal rencananya (kata M’Joko) kita mau nyarter bus AC, yang ada TV-nya. Yah, semua tinggal khayalan…

Ketidaknyamanan mulai dirasakan. M’Joko merasakan sonyolnya mulai phanas karena duduk lama tanpa bisa bergerak. Mungkin juga rheumatiknya bakal kambuh. Sementara Ithox ‘n Rusty berusaha menikmati perjalanan dengan bobo’ manis. Namun sampai di Klaten, mereka terpaksa nggak tidur, soalnya di sebelah mereka berdiri beberapa cewek ABG. Gengsi dong kalau ketiduran. Tapi, koq ya tega-teganya mereka mendiamkan dan membiarkan cewek-cewek itu berdiri..? Mbok diajak kenalan, ngobrol, atau gimana, gitu…

Singkat cerita, mereka sampai di terminal Solo jam 4 kurang ¼ sore. Lalu, cari bus lagi ke Tawangmangu. Bus ketiga hari itu adalah bus putih seukuran bus kota di Jogja. Setengah jam berlalu, dan sang ketua rombongan baru sadar kalau mereka salah bus. Gubrak..!! Memang bener busnya jurusan Tawangmangu, tapi jalurnya lewat jalan desa, alias muter dulu, bukan lewat jalur utama yang jauh lebih cepat. ‘Cause diperkirakan sampai di sana ba’da maghrib, padahal belum shalat ‘asar, dengan dipelopori M’Joko ‘n Top-x, mereka terpaksa bertayamum dan shalat di atas bus (tapi bukan di atapnya, lho…). Bus ini lebih sesak daripada bus sebelumnya. Bisa jadi dendeng kalau kelamaan di dalam…

Saat menikmati pemandangan desa yang hijau dan asri, akhirnya muncul juga seorang gentleman. Ketika seorang nenek naik bus, salah satu mas dari KU (lali jenenge) mempersilakan beliau duduk. Salut buat masnya… Perlu dicontoh, tuch… Belum sampai di Tawangmangu, hawa dingin mulai merasuk lewat sela-sela jendela kaca bus. Bahkan telinga Rusty mulai agak-agak budeg, juga hidung Tan-3 yang sebelumya sudah mèlèr, jadi agak banjir… Dan sesuai dugaan, kami sampai di Tawangmangu ketika si saat sedang adzan maghrib. Alhamdulillah, di dekat terminal Tawangmangu ada masjid, so bisa maghriban di sana. Pas mau wudhu, brrr… airnya dingin sekalhéé. Selesai shalat, kita istirahat dulu, sambil melemaskan otot-otot pantat yang keju-keju karena kelamaan duduk (tapi sebenarnya nunggu Pényo ngambil makan malam yang baru dibungkus).

Jam 7 malam. Makan malam sudah datang, tapi baru akan dibagikan di Cemara Sewu, alias harus naik lagi. Dan kali ini adalah yang paling mengejutkan, 24 orang harus bisa masuk ke angkutan seukuran colt  Jogja-Pakem. Gepeng tenan… Yah, segala cara dilakukan. Mulai dari duduk empet-empetan, pangkon-pangkonan, ndhlosor di lantai, nggandhul di belakang, sampai jurus mengecilkan sonyol pun dikeluarkan. Untungnya nggak ada yang buang gas di dalam… Setengah jam kemudian, mereka sampai di Cemara Sewu. Masya Allah, dinginnya minta ampun… Akhirnya, setelah menunggu, mereka dapat menikmati jatah nasi bungkus dengan teh anget (yang mulai nggak anget lagi), lalu shalat isya’. Brrrrrr… airnya dingin bhuanget (buktinya lebih banyak huruf  “r” di kata brr). Bahkan keramik masjid di Cemara Sewu ikut-ikutan dingin, sampai-sampai mereka harus shalat pakai kaus kaki… Tapi, alhamdulillah, yang tadi itu adalah angkutan terakhir sebelum semua peserta mulai berjalan mendaki (padahal sempat mikir kalau pengin naik angkutan sampai puncak, he…he…he…).

Chapter 3

To The “Higher Ground”!!

30 minutes before the voyage. Persiapan mulai dilakukan untuk melawan hawa dingin. Top-x mendobeli lagi celana panjang yang dipakai. Bahkan M’Joko sudah makai 3 lapis celana panjang sejak dari Jogja. Rusty siap dengan 5 lapis pakaian. Ithox stand by dengan sarungnya. Sedang Tan-3 sudah minjam (lagi…) “kupluk gaul” milik M’Joko, padahal dia sudah pakai jilbab. Risti nggak mau kalah, juga minjam kupluknya M’Joko, soalnya dia bawa 3 buah. Mungkin setelah turun gunung M’Joko mau jadi juragan kupluk… Tapi, bareng mereka melihat beberapa anak Mapadok senior, ternyata ada yang cuman makai kaos lengan pendek ‘n celana panjang thok. Sandalan jepit, lagi. Hebat tenan…

Sementara yang lain sibuk berubah, karena nggak ada yang bawa kompor spiritus, Top-x ‘n Rusty mempraktekan cara yang dilakukan Top-x ‘n Shark di Bromo, yaitu gresek kaleng Coca Cola, Sprite, ‘n sejenisnya. Sayang, mereka cuman dapat satu, itupun sudah kosong… Padahal penginnya sih yang masih ada isinya, walau separo…

Atas nasihat M’Joko yang sering liat orang naik gunung, kami berenam menempelkan koyo’ di hidung. Tapi koyo’nya dipotong dulu, biar tetep bisa bernapas. Dengan cara ini (kata M’Joko) bisa membuat hidung lebih hangat, so nggak meler terus. Sanggarists lain yang masih culun pun manut aja(belakangan baru diketahui, kalo’ kelamaan nempel koyo’ di hidung, kulit bisa kering ‘n mengelupas, so jadi “hidung belang”…)

Sebelum mulai berangkat, M’Basuki meminta para Flamboyants memperkenalkan diri. Karena ada sang kepala suku, maka mereka berenam langsung diperkenalkan oleh M’Joko dengan gaya peserta Family 100. “Hallo, saya Joko, disini saya membawa keluarga saya, Tan-3, Top-x, Rusty, Ithox, ‘n Risti…” Ternyata diantara mereka ada orang Jepang beneran, cewek nggunung (mangsudnya, suka naik gunung), namanya Noriko. Tapi karena sudah “jinak” (‘cause sudah mahir bercas-cis-cus pakai bahasa Indonesia), so nggak butuh Risti sebagai “pawang”.

Setelah pengarahan singkat oleh M’Ipoel, mereka pun mulai berjalan. M’Ipoel dan seorang senior lagi menjadi penunjuk jalan di depan, lalu para peserta, termasuk The Flamboyant, di belakangnya, sementara M’Basuki dan beberapa orang tua jadi penjaring di belakang.

Etape pertama ini, jalannya masih lumayan nyaman, sangat nyaman malah. Jalan setapak yang sudah diberi batu, dan kemiringannya nggak sampai 300. Semua climbers berjalan santai, dengan diselingi ngobrol dan bercanda. Tapi, baru jalan 15’, mulai terasa capeknya. Satu demi satu peserta mulai tertinggal, dan terbagi menjadi 2 kelompok. Di depan, ada M’Joko, Rusty, Ithok, Risti, dan 3-4 anak KU, sedang lainnya tertinggal 50-100 meter di belakang. Karena melihat rombongan yang di depan pun mulai ngos-ngosan, M’Ipoel mengambil inisiatif untuk istirahat, sambil nungguin yang di belakang. “Tenang, sudah separuh jalan ke pos 1,” katanya memberi semangat. Saking capeknya, seorang peserta asal Malaysia bersumpah dengan napas terputus-putus, “saya berjanji, tak akan merokok lagi…” Setelah menunggu dan melawan dingin, rombongan belakang mulai kelihatan. Kami pun berjalan lagi. Tapi yang baru datang malah langsung ndeprok. Waduh, mending tadi jalan terus aja… Karena mengejar target, maksimal 8 jam sampai puncak, merek berjalan lagi, dan sekarang 6 orang Flamboyants berjalan bersama. Walau katanya udah separo jalan, tapi koq separo yang kedua ini rasanya jauu..uh banget. Nggak pha-pha ding, soalnya kalo’ jalan terus, dinginnya agak nggak terasa.

Akhirnya, setelah ± satu jam, rombongan depan sampai di pos 1. Kira-kira 10’ kemudian, satu-persatu peserta yang di belakang mulai menyusul. Mereka ber-24 istirahat di pos sambil mulai membuka bekal piknik kami, ‘n minum secukupnya. Setelah dirasa cukup, perjalanan pun dilanjutkan. Jalan yang mereka tapaki mulai benar-benar menjadi jalan setapak (lebarnya cuman setengah meteran), bervariasi antara menanjak naik dan menurun, antara jalan tanah dan jalan batu, bahkan jalan buntu…

Lagi-lagi, perbedaan kelas mulai terlihat setelah 5’ jalan. Satu persatu peserta berceceran di belakang. Untung nggak ada yang ngambil… Sementara pelan namun pasti, keenam Sanggarists tetap berusaha jalan beriringan. ± 30’ kemudian, M’Joko, Risti ‘n Ithok dengan tenaga turbonya masing-masing udah ngacir di depan bersama M’Ipoel. Sementara Top-x ‘n Rusty mendampingi Tan-3 di belakang. Mereka bertiga berusaha menyusul, soalnya sembako ada di tas Ithox. Kalo’ nggak cepet, mereka bisa kelaparan di jalan… Alhamdulillah, perjuangan mereka nggak sia-sia, soalnya yang di depan mau nunggu. Sampai di pos 2, kira-kira sudah jam 12 malam (ngeriii…malam Selasa Kliwon…). Karena memang bener-bener cape’, mereka istirahat cukup lama. Saking dinginnya, Ithox berinisiatif untuk membuat api unggun. Karena nggak bawa parafin seperti yang lain, dia pun gresek ranting ‘n daun-daun kering. Ndilalah, korek gasnya mati. Setelah pinjam, api unggunnya pun hanya nyala 10 menit. Ya udah, terpaksa nggabung apinya orang lain…

Karena sudah saat makan tengah malam, bekal biskuit mulai dikeluarkan dari tas Ithox. Tan-3 pun mulai mencampur air mineralnya dengan Extra Josh. Pokoknya, makannya biasa, minumannya luar biasa (nggak promosi, lho…). Rusty yang telinganya juga kedinginan, udah masang ear-phone sejak tadi, walau walkmannya sering mati… ¾ jam kemudian, semua rombongan sudah nongol di pos 2, perjalanan pun dilanjutkan. Dan seperti yang sudah-sudah, walau awalnya jalan bareng, tapi setelah beberapa menit, satu per satu peserta mulai berjatuhan, dan memilih untuk beristirahat. Padahal, kalau diam, dinginnya malam terasa lebih menusuk di kulit. Baju ‘n celana yang berlapis-lapis pun nggak sanggup menahan hawa nafsu, eh, hawa dingin. Apalagi jari-jari tangan, udah hampir mati rasa, susah mbuka risluiting tas. Untung ada ada tips yang (kata M’Joko, eh, kata Top-x…) cukup ampuh, yaitu masukin tangan ke saku, juga saat jalan. ‘N it’s work…

Peserta yang berjatuhan terjadi juga pada Sanggarists yang ngikut. M’Joko ‘n Ithox dengan semangat mengikuti sang penunjuk jalan (padahal jalannya ya cuman ada satu…). Dan hebatnya, si Risti pun nggak mau kalah, berjalan di depan mengikuti standard jalannya anak-anak PA. Strong abisch, deh… Salut buat dia… But, in another place, Top-x sudah beberapa lama menarik “buliknya” dengan slayer pink. Rupanya kalo’ nggak ditarik, si Tan-3 penginnya berhenti terus. Sementara Rusty berjaga di belakang mereka berdua, nyenterin jalan yang gelap (soalnya, walau hampir purnama, tapi jalannya tertutup oleh bayangan awan ‘n pepohonan), sambil njagain Tan-3 kalo’ tiba-tiba kepleset.

Setelah berjalan naii..ik terus selama 1 jam lebih, mereka sampai juga di pos 3. Sayangnya, di sini mereka nggak bisa istirahat lama-lama. Katanya sich nanggung, soalnya pos 4 dekat dari pos 3. Tapi sebab utamanya mungkin karena nggak bisa nahan dinginnya malam ‘n nahan mata yang mulai berat kalau berhenti lama-lama. Cabut dari pos 4, formasi The Flamboyant pun berubah. Ithox ‘n Risti masih strong dengan ngacir di depan. Top-x pun menyusul mereka di depan. Kali ini tugas berat diemban Rusty, soalnya dia harus njaga “kedua orang tuanya” sendirian. Sesekali dia harus mendorong Tan-3 (eh, tasnya ding, eh, tasnya Dwee’ ding…) yang kali ini ganti ditarik oleh M’Joko. Nggak sia-sia M’Joko latihan nuntun motor dari depan eks Regent sampai bengkel Tresno di selatan SMP 1. Sialnya, senter Tan-3 dibawa Top-x, so mereka bertiga berjalan dengan satu senter saja. Untungnya ketemu dengan rombongan anak KU yang juga bawa senter. But, senter mereka malah satu buat berenam. Gubrak..!! Nggak pha-pha, ada teman jalan bareng.

Perjalanan rute keempat ini rupanya yang paling berat dibandingkan ketiga rute sebelumnya. Selain jalannya cukup sempit, terjal ‘n curam, kadang kita tertipu oleh penglihatan kita sendiri. Berkali-kali kita kaya’nya udah melihat puncaknya 25 meter di depan, eee..h, ternyata cuman puncak pepohonan. Nggondhuk, kan… Kaya’nya di rute keempat ini, baru jalan 5 menit, istirahatnya bisa 10 menit, apalagi kalo’ pas dapat jalan yang sangat curam, baru naik 10 meter, udah ndheprok sambil ngos-ngosan. Padahal sebelumnya pengin jalan seperti pas PDT, jalan 1 jam istirahat 10-15 menit, bahkan waktu mau berangkat, M’Ipoel ‘n M’Basuki penginnya istirahat kalo’ udah nyampai di pos, sambil ngecek peserta. Beraaat…

Di tengah perjalanan, timbul akal licik M’Joko. Setelah tahu kalo’ ternyata coklatnya dibawa Tan-3, dia membujuk Rusty ‘n Tan-3 untuk menikmati coklat itu dulu. ‘Cause M’Joko memang udah berpengalaman dalam hal rayu-merayu (‘n pada dasarnya Rusty ‘n Tan-3 emang udah pingin sama coklat itu sejak di Jogja), maka ternodalah sebatang coklat “Baron” oleh mereka bertiga. Kacian yang di depan…he…he…he… Tapi, coklatnya udah keras gara-gara kedinginan. Padahal udah disimpan di dalam tas. Pokoknya, makan coklat tapi harus diklethak kaya’ makan peyek, dech…

Alhamdulillah, setelah lebih dari 99 tantangan dan 33 cobaan terlewati, 3 Sanggarists yang di belakang bisa juga menyusul yang lain, nyampai di pos 4. Rute yang katanya dekat itu, ternyata harus ditempuh dalam 2 jam lebih. Rupanya Top-x, Ithox, ‘n Risti lebih sial dari pada nggak kebagian coklat. Mereka udah hampir setengah jam kedinginan, soalnya mau mbuat api unggun, tapi spiritusnya dibawa Rusty. Walhasil, mereka cuman mengandalkan api “tetangga”, sambil menikmati biskuit kelapa yang dibawa Ithok (walau nggak seenak coklat…).

Rupanya, rombongan yang paling depan memang sedang nunggu yang di belakangnya. Tapi, setelah rombongan M’Joko dkk ngomong kalo’ yang dibelakangnya masih jauh, anak-anak yang udah nyampai di pos 4 sepakat untuk berangkat ke pos 5, pos terakhir sebelum puncak, ‘n meninggalkan beberapa orang untuk nunggu. Setelah berembug, berangkatlah 4 orang Mapadok dan keenam Sanggarist ke pos 5, yang katanya dekat. Walaupun akhirnya kami tahu kalo’ rute kelima ini memang dekat, tapi jalan yang dilalui lebih curam. Kami pun harus ekstra hati-hati, soalnya jalannya sempit ‘n kadang melewati jurang yang dalam di kanan or kiri kami. Nggak sampai 45 menit, kami bersepuluh sampai juga di pos 5.

Jam di tangan Rusty sudah menunjukkan pukul 04.03, sementara jam di tangan Tan-3 rupanya sudah jatuh entah di mana. Sanggarist penginnya nunggu subuh sambil nunggu yang lain, lagian Top-x udah nemuin tempat yang bagus, sementara yang lain ngajak langsung ke puncak. “Paling cuman setengah jam,” katanya. Karena diperkirakan sampai puncak pas subuh, mereka pun setuju saja. Tapi rupanya nggak ada yang tahu jalan ke puncak. Gubrak..!! Untung ada climbers lain yang baru turun. Setelah nanya, kami dikasih tahu ‘n beberapa tempe, “itu, lho, kesana, turun sedikit, lalu naik…” Mereka pun ngikuti petunjuk para climbers tadi.

Ternyata baru jalan 20 meter, mereka semua bingung lagi. Daripada tersesat ‘n terjadi hal-hal yang diinginkan, mendingan kembali aja ke pos 5. Di pos 5, mereka langsung menuju tempat yang udah ditemukan oleh Top-x tadi. Keenam Sanggarists segera melakukan persiapan. Mereka segera menggelar ponco masing-masing. Rupanya, selain berembun, ponco mereka jadi kaku ‘n lengket, so agak susah dibuka. “Dingin-dingin gini, enaknya ngapain, ya…” Ithox rupanya tanggap. Dia lalu berusaha lagi melaksanakan keinginannya sejak dari pos 2, membuat api unggun. M’Joko ‘n Risti pun ikut membantu. Tapi memang shulit kalau cuman pakai spiritus ‘n kayu. Untung teman-teman dari KU berbaik hati, mereka memberi sebatang parafin, sebelum turun ke pos 4 untuk njemput yang lain. “Makasih ya, Mas…” Ternyata, kalo’ mau naik gunung, mendingan bawa parafin yang banyak ketimbang bawa pakaian banyak.

Sementara itu, Top-x ‘n Rusty sibuk membuat minuman istimewa. Bahannya, ada susu bendera bubuk, jahe bubuk, kopi bubuk, coklat bubuk, plus beberapa bubuk ramuan rahasia. Nggak lama, minuman pun udah jadi. Acara selanjutnya, mbagi minuman. Rupanya Rusty curang. Dia nggak pengin makai gelas yang dibawa Risti, soalnya gelasnya kecil-kecil. Dia pun ngeluarin gelas campingnya, yang ternyata mempunyai kapasitas 5 kali dari pada gelas milik yang lain. Mereka pun menikmati minumannya masing-masing, sambil menunggu waktu subuh, saat benang merah bertemu dengan benang putih di ufuk timur. Ternyata tempat mereka memang sangat strategis, tepat di punggungan timur Gunung Lawu, so mereka bisa melihat indahnya malam yang akan berganti dengan pagi.

“How great the wonders of the heavens
And the timeless beauty of the night
How great, then how great The Creator?
And its stars like priceless jewels
Far beyond the reach of kings
Bow down for the sheperd, guiding him home

But how many eyes are closed to the wonder of this night?
Like pearls hidden deep, beneath a dark stream of desires
But like dreams vanish with the call to prayer
And the dawn extinguishes night, here too are signs
God is the light God is the light…*)

Waktu subuh pun tiba, menjemput keenam Flamboyants yang menggigil kedinginan. Mereka pun bersiap menunaikan ibadah shalat. Karena air yang dibawa diperkirakan hanya cukup untuk masak mie ‘n minum pas turun, mereka lagi-lagi bertayamum. M’Joko lalu mengeluarkan sajadah, untuk alas kaki para “climbers” yang takut nglepas sepatu karena dinginnya. Sajadah yang disimpan di dalam tas pun ikut-ikutan dingin. Sia-sia, deh, mbawa sajadah… Mereka pun shalat dengan memakai kaus kaki. Mungkin, baru pertama kalinya mereka berenam shalat dengan bergetar seluruh tubuhnya, bukan karena terlalu khusyuk, tapi karena kedinginan. Rusty yang menjadi imam pun membaca Al Fatihah ‘n surat pendek dengan suara yang terseok-seok gemetar… Usai shalat, mereka menunggu sunrise. Masya Allah, kaya’nya sunrise kelihatan lebih indah dari atas gunung. Semburat kuning kemerahan merekah di horizon langit timur. Sementara gumpalan-gumpalan awan berarak di bawahnya. Wah, rasanya benar-benar berada di “Negeri di Atas Awan”. Subhannallah…

Sayang, keindahan ini nggak bisa diabadikan dalam photo, ‘cause film yang dibawa Top-x asanya terlalu kecil. Harusnya bawa Dinaya, Iyun, Yoyok, atau Ganis… Rusty langsung usul agar dibuat sketsa panorama saja. Gubrak..!! Untuk mengisi waktu, mereka memasak mie, ‘cause perut mereka udah keroncongan minta diisi, sekalian untuk menghangatkan badan. Rusty ‘n Ithox bahkan udah hampir membuat “kaki bakar” gara-gara memanaskan kaki mereka di api unggun. M’Joko lagi-lagi mengeluarkan akal liciknya, dengan makan sebungkus mie instan, dipèk dhéwé manèh… Wis tuwo koq ya ora sadar-sadar…

Sembilan bungkus mie instan plus sarden pun matang sudah. Untung Rusty bawa 2 rantang, so bisa dimasak di dua rantang sekaligus, ‘n nggak usah mbagi lagi kalo’ mau makan. Dan pembagian kali ini, dengan lebih memandang pada asas keadilan ‘n kebutuhan, maka unsur gènder dikesampingkan. Top-x, Ithox ‘n Tan-3 makan di satu rantang, sedang lainnya rebutan mie ‘n sarden yang mulai remuk di rantang yang satunya. Pokoknya, siapa cepat ‘n cermat, dapat lauk yang lebih banyak… Nggak terasa udah jam 07.00. Pemandangan di bawah mereka pun mulai tampak lebih jelas, ‘n tentu saja lebih indah. Hamparan permadani hijau terhampar luas, jauh di bawah kaki gunung. Sementara awan selembut kapas seakan memayungi bumi, yang terlihat bagai kasur yang empuk di bawah mereka. Sungguh indah karya Sang Pencipta dilihat dari salah satu “Negeri di Atas Awan” ini.

“…How great the beauty of the earth
And the creatures who dwell on her
How great, then how great The Creator?
As it’s mountains pierce the clouds,
High above the lives of men
Weeping rivers for thousands of years

But how many hearts are closed to the wonders of this sight?
Like birds in a cage, asleep with closed wings
But like work stops with the call to prayer
And the birds recite, here too are signs
God is the light God is the light…*)

Rupanya di sekitar pos 5 banyak tanaman bunga. Kaya’nya sich (kata m’Joko) itu yang disebut edelweiss. Tapi Ithox bersikukuh kalo’ itu cuman rumput liar. Mereka sama-sama ngèyèl ‘n mencari dukungan dari yang lain. Akhirnya, masing-masing sepakat untuk nganggap tanaman itu sesuai keyakinan masing-masing… Saat mereka sedang menikmati keindahan bumi Allah, tiba-tiba dari selatan muncul beberapa anak KU. Rupanya mereka udah sejak subuh istirahat di pos 4, bahkan udah sarapan. Tiwas ditungguin… Mereka mau menuju puncak, yang jalannya udah terlihat karena hari emang udah terang. Sanggarist yang masih terbuai dengan alam, ‘n merasa udah nyaman di situ, ngomong kalo’ nanti mau nyusul. Para Sanggarists baru sadar kalo’ mereka udah semalaman nggak tidur. Ithox segera mencari tempat untuk nggelar ponco ‘n tidur. M’Joko yang ponconya dijadikan alas tas, rupanya nggak mau kalah. Dia segera grèsèk di sekitar pos, ‘n menemukan selembar plastik yang cukup lebar. “Kéthoké resik, lho…” katanya sambil merebahkan diri di atas plastik hasil grèsèknya. Hiii…

Rusty yang baru berjemur pun rupanya nggak kuat nahan ngantuk. Dia pun menyusul M’Joko di peraduannya. Hanya Top-x cowok (??) yang  masih bangun. Rupanya dia baru saling curhat sama Tan-3 ‘n Risti. Entah apa yang mereka omongin, hanya Tuhan, para malaikat penjaga, mereka bertiga, ‘n rumput-rumput yang kedinginan (koq banyak juga, ya…) yang tahu. Tapi, ketika yang lain bangun, mereka bertiga terlihat tersenyum puas. Ternyata mereka berenam benar-benar udah “mapan” di pos 5 ini. Walau anak-anak KU yang tadi naik udah padha turun, para Sanggarists ini masih males naik ke puncak, padahal jaraknya tinggal dua plinthengan, lho… Sekali dua kali Risti ‘n Ithox ngajak naik. Tapi karena yang lain cuman njawab “hhèè..èhh” niat mereka nggak kesampaian. Tak terasa udah hampir jam 9. Kata climbers KU tadi, mereka semua akan turun sekitar jam segitu, soalnya akan dijemput colt diesel yang semalam jam 3 sore, lagian udah ada anak Mapadok yang njemput kita ke atas. The Flamboyant pun mulai bebenah, ‘n segera kukut-kukut.

Dimana-mana, yang namanya Penggoda ternyata sama saja. Penampilan harus tetap OK. Rusty segera mengeluarkan sisir hitamnya, yang kemudian berpindah ke tangan M’Joko, lalu Ithox, ‘n Top-x. Sisiran dianggap belum cukup. “Biar nggak mandi, tetap harus wangi.” Rusty pun ngambil “She Sweet Splash Cologne” warna pink di tas kecantikan miliknya. M’Joko segera ikutan men-“splash”-kan She Sweet ke tubuhnya. Ithox nggak mau kalah. Sebenarnya dia mau minta sama Top-x yang juga bawa pewangi, tapi nggak jadi begitu tahu kalo’ yang dibawa Top-x adalah Rexona roll-on… So, kalau ketemu edelweiss, The Flamboyant pasti lebih wangi… Pokoknya wangi dari atas sampai bawah. Nggak itu aja, keenam Sanggarist pun menyempatkan diri untuk gosok gigi walau hanya dengan setengah gelas air. “Hahh, nafas segar meyakinkan…”

Barang-barang udah terpacking di dalam tas. Sampah-sampah udah jadi abu ‘cause dijadikan api unngun. Tapi sebelum turun, nggak puas kalo’ belum photo, lagian cahayanya udah cukup banyak. Dengan gaya co-boy ‘n co-girl Aneka, para Sanggarists berpose denagn latar belakang alam-Nya yang indah. Setelah puas jeprat-jeprèt, mereka segera memanggul tasnya masing-masing (kecuali yang minjem…), ‘n saat jam 09.07 Sanggarists udah mulai berjalan untuk menuruni Gunung Lawu, menuju pos 4.

*) Yusuf Islam & Raihan; “God Is The Light”

Chapter 4

The Voyage Home

Sebelum turun, tiba-tiba Tan-3 mengumumkan sayembara. “Barang siapa dapat menemukan jam tangan milik saya, kalo’ perempuan akan saya angkat jadi sodara, ‘n kalo’ laki-laki akan saya jadikan…sodara juga.” Gubrak..!! Kita semua kan udah sejak dari sononya bersaudara… Keenam Flamboyants pun berjalan dengan mata clilingan di sepanjang jalan kenangan. Di jalan, potret-memotret tetap jalan terus. M’Joko ‘n Risti berpose dengan bunga di tangan, untuk oleh-oleh Asa ‘n Mandha yang pengin kembang. Penginnya, sich, bawa kembangnya sampai sanggar, tapi kan “don’t take anything but picture.” Sayang sampai di pos 4 jam tangan Tan-3 belum juga ditemukan.

Anak-anak Mapadok yang berada di pos ternyata ada yang belum siap untuk berangkat. 6 orang Sanggarists pun permisi untuk jalan duluan. Saat menempuh rute ini, rupanya Rusty ‘n Ithox punya “satu kekhawatiran” yang takut nggak bisa ditahan sampai Cemara Sewu. Apa hayoo… Sampai di pos 3 satu jam kemudian, akhirnya mereka berdua segera menuju semak-semak ‘n menyalurkan hasratnya masing-masing. “Hilang satu kekhawatiran…” batin Ithox. Mereka pun istirahat di pos 3 sebentar, ‘n berangkat lagi begitu terdengar teriakan anak-anak KU yang mulai menyusul. Cepat juga mereka, ya…

Di jalan, Tan-3 yang malamnya banyak diam ‘n nggak bisa mbales kalo’ lagi digojlok, mulai kelihatan aslinya. Dia mulai balas dendam (tapi nggak sampai keluar tanduk, taring, ‘n ekor, koq…). Tapi sebaliknya, Risti yang sebelumnya tampak strong, mulai kehabisan tenaga ‘n sering tertinggal dari Tan-3. Untung para cowok selalu di belakang. Sanggarists sempat bingung ‘cause kaya’nya mereka melewati jalan yang belum pernah mereka lewati. Dan memang belum mereka lewati. ‘cause jalan yang mengerikan itu memang percabangan yang mereka hindari semalam, karena harus nrabas semak ‘n melompati pohon.

Berjalan turun memang lebih cepat dari naik (jayush banget, ya…). Singkat kata singkat cerita mereka pun udah melewati pos 2. Walau agak panas, tapi lebih menyenangkan karena pemandangan yang semalam cuman hitam ‘n hitam, udah seindah warna aslinya (iklan lagi…). Rupanya banyak juga climbers yang naik di kloter pagi-siang. Ada yang dari lokal Jateng-Jatim, tapi ada juga yang dari Jakarta. Ada yang cuman berdua, ada yang rombongan cukup banyak. Sanggarists yang ketemu dengan mereka pun tetap berbasa-basi (tapi nggak berbusa), or sekedar say hallo… Flamboyants sempat menemukan batu besar ‘n potret di sana. Di batu itu ada papan nama bertulis “Batu Jago”, selain nama-nama “Tina, I love you”, “Bambang love Dhoni”, ‘n tulisan-tulisan lain. Wah, tanda tidak cinta alam, tapi kasih sayang pada sesama manusia…

Tiba-tiba dari belakang Pényo ‘n seorang panitia udah nyusul. Cepet banget… Setengan jam kemudian, saat mereka berdelapan istirahat, Noriko, “M’Gentleman”, ‘n seorang lagi juga nyusul. Katanya, yang lain masih di pos 2, istirahat. Sebelum sampai pos 1, M’Joko iseng metik setangkai bunga berwarna ungu, untuk oleh-oleh katanya. Namun rupanya ada yang nggak ikhlas kalo’ dengan perbuatan “licik” M’Joko. Sekonyong-konyong ada seekor tawon ndhas yang berpatroli, ‘n bersiap melakukan formasi menyerang. Sebelum si tawon sempat memanggil bantuan ‘n melancarkan serangan, M’Joko pun ngalah ‘n membuang kembang yang ada di tangan. Kasihan, deh, luu…

Sampai di pos 1, di sana udah ada M’Basuki ‘n beberapa senior. Mereka berhenti di pos 1 karena ada beberapa anak KU yang sakit or nggak kuat, so harus ditemenin. ‘Cause udah jalan lumayan jauh ‘n hanya beberapa kali istirahat, Sanggarists plus lima anak Mapadok yang jalan bareng kongkow-kongkow dulu di sana sambil nunggu yang lain. Rupanya cewek-cewek Flamboyants nggak sabarpengin segera turun (mungkin mereka punya satu “kekhawatiran” juga…). M’Joko pun berbaik hati mendampingi mereka. M’Joko sempat pengin mengulangi ulahnya untuk mbawa sekuntum bunga, tapi niat itu dibatalkan ‘cause si lebah kembali lagi. Mungkin lebah ini memang jadi intelegen yang ditugaskan ratunya untuk menyelidiki M’Joko. Gubrak..!!

Sementara itu, Rusty ‘n Ithox udah mulai terkantuk-kantuk di pos. Mungkin tinggal Top-x yang sadar. Orang yang satu ini kaya’nya memang nggak punya puser, nggak tidur hampir 24 jam koq ya masih tahan… 10’ kemudian, Top-x nggugah Rusty ‘n Ithox, t’rus ngajak turun, soalnya udah jam 1 lebih ‘n mereka belum shalat dhuhur. Penginnya, sich, mereka mandi dulu di bawah, mumpung belum rame, t’rus shalat di masjid Cemara Sewu. Dengan mode 5S (Sangat Super Special Speed Sekali, ditemukan di malam terkhir PDT XXVII oleh Penggoda), ketiga cowok ini langsung ngebut turun, dan berhasil menyusul 3 Sanggarists yang udah ada di depan, lalu jalan bareng ke gerbang Cemara Sewu. Dan sayang seribu sayang, tidak ada yang berhasil memenangkan sayembara dari Tan-3, alias jamnya nggak ditemukan…

Sampai di bawah, tempat yang dituju pertama kali adalah kamar mandi. Walau airnya masih sangat dingin, Top-x ‘n Rusty berhasil membujuk yang lain untuk “mandi bersama” (tapi beda kamar!!), kecuali M’Joko yang takut rheumatiknya kambuh. Kepikunan M’Joko mulai nampak. Kaya’nya dia pemegang rekor keluar masuk kamar mandi paling banyak. Pertama, menyalurkan hasratnya yang terpendam. Setelah keluar, ternyata lupa belum ganti baju. Masuk lagi, lalu keluar lagi. Sampai di masjid bari ingat kalo’ belum wudhu. Ke kamar mandi lagi…

Top-x ‘n Rusty pun nggak kalah pikun. Setelah mereka selesai mandi, mereka baru ingat kalo’ pakaian gantinya ketinggalan di luar. Gubrak..!! Rusty terpaksa makai pakaian sebelumnya ‘n keluar ngambil ganti, t’rus masuk lagi. Tapi Top-x lebih “pinter”. Dia buka sedikit pintu kamar mandinya, ‘n begitu liat ada seorang cowok KU yang udah nyampai, dia ngomong, “Mas, Mas, tolong ambilin bungkusan di sana itu, ya Mas…” Coba bayangin kalo’ yang dimintai tolong seorang cewek. Bisa “17 tahun ke atas”, dech… Seusai mandi ‘n shalat, mereka pun ngumpul bareng beberapa anak Mapadok yang udah nyampai. Ithox kembali menyalurkan rasa ngantuknya dengan tidur. Kaya’nya dia memang jago dalam jurus “tidur di mana saja”, di sanggar, KM, bahkan saat naik motor, sampai pernah nabrak pick-up, lho… Karena haus, Top-x, Rusty, ‘n Risti cabut ke warung di dekat tempat mereka kongkow-kongkow. Baru aja selesai pesan minum, ee…ehh udah dipanggil untuk naik colt angkutan yang udah nunggu sejak tadi. Ya udah, minumnya diplastik aja.

Begitu semua udah naik ‘n siap berangkat, ternyata satu oknum Mapadok, cewek, ada yang belum naik. Setelah dicari, ternyata si Lala ini sedang mandi, baru masuk lagi… Bakalan lama, dech… Dan benar, setelah nunggu  plus nggrutu lumayan lama, si Lala kembali dari Tubbiesland, eh, kamar mandi dengan muka kusut. Katanya (M’Joko, eh, M’Basuki), dia sakit sejak di pos 3 or 4. Baru jalan 5 menit, semua penumpang udah terlelap. Tahu-tahu udah sampai di Tawangmangu. Begitu turun ‘n mencium bau asap, Tan-3 ‘n Rusty langsung pusing ‘n mual mau muntah. Untung M’Joko masih bawa Antimo. Bahkan Rusty makai cara lama, nempel koyo’ di pusernya.

Di sini, Sanggarists photo-photo lagi dengan latar G. Lawu. Lalu semua peserta digiring ke warung langganan Mapadok untuk makan siang. Porsinya ternyata porsi besar, sampai cewek-cewek Flamboyants nggak bisa ngabisin. Dan entah apa yang dimasukkan si penjual ke makanan itu, tapi begitu makanan habis, rasa mual di perut Rusty hilang (emang dasarnya laper tur bladhok…) Tapi dia lalu kalo’ topi hitamnya udah nggak ada di kepala, mungkin jatuh di terminal. Back to terminal, Rusty berusaha nyari topinya. Tapi sampai naik ke bus Tawangmangu-Solo, topinya nggak ditemukan. Belajar dari pengalaman kemarin, panitia milih bus yang besar, yang langsung ke Solo, biar lebih cepat. Bangun tidur, udah nyampai terminal Solo, lalu nyari bus ke Jogja. Alhamdulillah, akhirnya impian kami tercapai, ‘cause panitia milih bus PATAS ber-AC. Sejuk ‘n dingin… Mungkin karena pengaruh AC tadi, plus kecapè’an, semua peserta terlelap ke alam mimpinya masing-masing. Nggak banyak yang bisa diceritakan di jalan (masa’ orang tidur suruh cerita…).

Sampai di Maguwo, sesuai kesepakatan, M’Joko turun untuk pulang duluan ‘n nanti menjemput yang lain di KU. Dan, akhirnya para Lawuists samapi di terminal Jogja jam 7 lebih. Tapi perjalanan pulang belum selesai. Setelah nunggu lumayan lama (sampai menghabiskan sebatang coklat ‘n 2 bungkus Tango), ada juga bus kota yang mau dicarter ke KU. Ternyata sopir bus ini pinter juga. Walaupun udah dicarter, dia masih nerima penumpang yang searah ke KU. Dan sampai di KU, sekitar jam 9,di sana udah ada M’Joko, plus Agoez ‘n M’Awit untuk menjemput yang lain. Dan akhirnya, Top-x, M’Joko, ‘n Rusty kembali ke ranjang ternodanya masing-masing… Ithox, yang takut nabrak pick-up lagi, bali ke KM-nya… Risti, yang dikhawatirkan nggak bisa nyampai ke Bantul, nginep ke rumah Tan-3, sekaligus nganterin pulang. Dan akhirnya, mereka dapat tidur berbahagia (nggak selama-lamanya, soalnya masih bisa bangun esok harinya, ngepluk…), tanpa pernah mendapat co-card, slayer, pijat refleksi, ‘n menginjakkan kaki di puncak Gunung Lawu. But, pengalaman yang mereka dapat udah berkesan dalam diri mereka. “A Journey isn’t marked by its distance, but it’s marked by its worth…”

*******

Rusty & friends

Ada satu pesan di “Pendakian Lawu”

  1. 1
    tas branded Says:

    wah pengalaman yg tak terlupakan.
    tas branded

Tinggalkan pesan


padrover.com © 2007-2009

Tercantum di daftarweb.org

Log in | Register  

Indonesian noodles - indomie at eFoodDepot.com