Pendakian Sundoro
Sebuah catatan perjalanan para petualang yang selalu haus dengan tantangan, mencari pengalaman tanpa perencanaan, tapi siap berkumpul untuk bersama-sama mengadakan petualangan yang bisa menjalin persahabatan dan keakraban diantara kami….komunitas padrover yang disatukan oleh alumni Ambalan.
Berkumpul bersama teman-teman lama merupakan suatu kebahagian. Tetapi akan terasa luar biasa apabila kita dapat berkumpul dengan teman-teman dari berbagai angkatan. Mulai dari yang masih SMA sampai alumni yang sudah lulus. Hal ini tentu saja sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan menimba pengalaman dari para senior.
Seolah-olah seperti kebiasaan yang tidak lazim namun menguntungkan, perjalanan kali ini dimulai dari sebuah “sms” yang intinya mengajak para alumni ambalan untuk berkumpul dan mengadakan pendakian. Rasa kekeluargaan yang begitu rekat sekaligus momen yang tepat untuk melatih fisik, mental, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui keindahan alam.
Diawalai pesan singkat dari Surabaya ke Solo, kemudian merembet hingga ke Jogja. Dan akhirnya seminggu kemudian kami dapat berkumpul : Itox, Wawan dan Mumu. Rencananya akan mengadakan technical meeting buat anak SMA yang mau ikut, tapi sepertinya adik-adik lagi semangat belajar. So, kami tetap memantapkan tekad untuk mengadakan pendakian ini, sambil menunggu Hendra yang masih ragu-ragu pada jumat siang_satu hari sebelum pendakian. Hingga pada sorenya, tim pendakian sundoro kali ini ketambahan peserta satu lagi yaitu Taruna “Una”.
Sabtu, 17 Februari 2007
Cuaca kota Jogja hujan deras. Rombongan (Wawan, Taruna, Hendra, dan Mumu) berkumpul di sanggar ambalan untuk checking barang sekitar pukul 12.00. berhubung hujan tidak kunjung reda, akhirnya kami berangkat pukul 14.30 menuju rumah Pak Marsudi(hehehe..bapakke sapa ya??)_rumah salah satu tim. Di sana kami menunggu Itox yang akan datang dengan belalang tempurnya. Repackaging dilakukan lagi untuk memastikan perbekalan siap, mulai dari tenda dome, SB, kompor (berhubung tidak ada kompor gas, akhrinya pake kompor sepirtus), alat masak, dan tentu saja air.
Setelah bercengkrama dan mengisi perut dengan mie instan, akhirnya rombongan berangkat menuju Sundoro pada pukul 17.00. Perjalanan menuju Sundoro pun dimulai. Menjelang kota Magelang hujan mengguyur. Karna hari sudah gelap, rombongan singgah di sebuah masjid untuk sholat. Setelah itu ketiga motor melaju kembali dibawah guyuran hujan menuju arah Temanggung. Selepas kota Parakan yaitu di jalanan menanjak menuju Kledung, kabut tebal dan rintik hujan menyelimuti. Jalanan pun harus dilalui dengan hati-hati karena jarak pandang yang hanya beberapa meter. Suasana mistis nan mencekam ini menyertai perjalanan kami hingga sampai di Kledung sekitar pukul 20.00 wib.
Setelah itu kami menuju ke base camp, tapi rombongan malah tersesat karena penunjuk arah yang tidak kelihatan. Setelah bertanya kepada warga, tim dapat menemukan lokasi base camp. Suasana base camp saat itu cukup ramai. Ruangannya penuh dengan kentang-kentang yang sepetinya habis dipanaen dan tentunya para pendaki yang akan naik malam itu juga.
Kami rombongan berlima istirahat sebentar setelah kurang lebih 3 jam menempuh perjalanan bermotor sambil minum teh panas yang bisa dipesan di basecamp. Di base camp kita dapat istirahat, pesan makanan & minuman, menitipkan kendaraan, dan tentunya melaporkan keberangkatan pendakian kita agar dapat dimonitor oleh tim SAR. Saat kita melapor, setiap pendaki akan dikenai biaya Rp. 5000.
Istirahat dirasa cukup. Kami pun bersiap-siap melakukan pendakian. Tepatnya pukul 21.15wib, tim mulai berangkat. Pada awalnya tim kebingunangan memilih jalur karena dari base camp tidak diberikan peta pendakian. Tapi setelah menemukan jalur utama, pendakian pun kembali dilajutkan.
Cuaca pendakian saat itu langit mendung. Dikanan-kiri rute terhampar perkebunan sayuran petani. Semakin ke atas, kami dapat melihat fenomena yang menakjubkan. Kilatan merah petir tampak membelah langit selatan. Selain itu kami juga dapat melihat puncak gunung Sumbing yang separuh badannya ditutupi awan. Hingga kami sadar bahwa kami diapit diantara dua gunung Sumbing dan Sundoro.
1¾ jam kemudian kami tiba di pos 1. Perjalanan menuju pos 1 ini cukup melelahkan. Karena kami belum pemanasan. Dan hal semacam ini normal, sebelum menemukan ritme berjalan yang tepat. Tidak berlama-lama berhenti tim kembali berangkat. Tapi sayangnya rombongan terpisah. Itox, Taruna dan Mumu di depan sedangkan Wawan dan Hendra masih asyik dengan rombongan dari UNY.
Tapi akhirnya kami dapat berkumpul kembali di pos 2 setelah berjalan sekitar 30 menit dari pos 1, tepatnya pada pukul 23.00 wib. Di pos ini kami sempatkan untuk berfoto ria. Langit tidak mendung lagi. Dengan perasaan yang agak merinding (coz suasananya emang serem banget), kalo-kalo rombongan yang ganjil ini berubah menjadi genap.(^_^). Dicengkram cuaca dingin, kami pun melanjutkan pendakian.
Semakin lama berjalan kondisi tim mulai kelelahan. Perdebatan akhir perjalanan malam itu pun dimulai. Antara meneruskan sampai puncak malam itu juga atau nge-camp di pos 3. Karena ada anggota tim yang sudah terserang kantuk berat, akhrinya diputuskan rombongan akan nge-camp di pos 3.
Tepat pukul 02.00wib, tim sampai di pos 3. areanya cukup luas. Di sana sudah ada tiga rombongan pendaki yang mendirikan tenda. Sambil menahan udara dingin, kami cepat-cepat memasang dome. Setelah dome berdiri, wawan dan Taruna langsung istirahat dan tidur di dalam tenda. Sedangakn Itox, Hendra, dan Mumu masih sibuk menghangatkan diri dengan wedang sekoteng campur marimas dan mie rebus yang dimasak dengan kompor spritus. Ibarat kata pepatah “kenikmatan akan terasa luar biasa di saat-saat yang tidak biasa”. Mie rebus yang biasanya rasanya biasa-biasa saja, menjadi nikmat sekali. Meskipun fasilitas hidup saat itu sangat minimalis, tapi sensasi yang kami rasakan sangat luar biasa. Jadikan kami selalu bersyukur padaMu ya 4JJI. Jam 3 dini hari, semua tim tertidur.
Ahad, 18 Februari 2007
Awan di langit timur tampak kemerahan. Tapi udara dingin belum juga sirna karena sinar matahari belum terbit dan menembus kebekuan tanah gunung Sundoro. Sebelum mentari bersinar, Taruna, Wawan, Itox, dan Hendra telah berdiri menatap ke arah timur dan siap menyambut sang fajar “sun rise”. Sedangkan Mumu masih mendekam di dalam tenda.
Hingga waktu itupun tiba. Dengan sinar lembutnya, matahari terbit tampak indah. Tidak ada tempat yang begitu tepat untuk mendapatkan sisi keindahan matahari selain puncak gunung. Bagaikan pemuda jomblo yang tak kunjung menemukan dambaan hati, percintaan antara gunung dan matahari seolah menjadi penawar bahwa cinta itu memang indah.
Kesempatan inipun tidak kami lewatkan begitu saja. Pemandangan yang menakjubkan ini kami abadikan dengan foto-foto. Sambil terus menatap ke arah “sang fajar”, kami menanti sinar hangatnya mencairkan hawa dingin yang membekukan tubuh kami.
Perjalanan belum selesai. Meskipun kami sudah mendapatkan keindahan sun rise, tetapi kami belum mencapai puncak. Setelah cukup menghanagtkan diri dengan minuman sereal dan packing, perjalanan kami lanjutkan kembali, tepatnya pukul 07.00wib rombongan berjalan menuju puncak.
Di awal perjalanan ini, Wawan, Hendra, dan Mumu tampak kewalahan. Kaki yang hari sebelumnya telah menemukan ritmenya, pagi itu kacau kembali. Melewati jalur yang semakin menanjak, kami pun sering berhenti untuk menkondisikan otot. Sedangkan Itox dan Taruna berjalan jauh di depan. Sepanjang perjalanan menuju puncak sangat melelahkan. Rute yang berbatu-batu kadang melewati jalan tanah licin dan membuat kami harus berhati-hati agar tidak terpeleset (tapi ya tetep kepleset juga=p).
Setelah melewati hutan Lamtoro 1 dan sampai di daerah berbatu, posisi tim berubah. Mumu jauh di depan. Diikuti Itox , Taruna, Wawan yang sedang foto-foto. Sedangkan di belakang Hendra jauh ketinggalan. Di atas dataran kecil yang agak menjorok kami berempat berhenti sambil menunggu Hendra yang tidak kunjung tampak batang hidungnya. Karena terlalu lama, akhirnya kami puruskan untuk masak, soalnya paginya kami belum cukup makan hanya sereal dan atau minum. Pikir kami sebelumnya perjalanan menuju puncak tidak jauh dan akan masak di sana. Tetapi ternyata perkiraan kami meleset.
Menu sarapan siang itu adalah sarden campur mie instan. Celakanya kompor dan spritus dibawa Hendra yang tak kunjung tiba. Akhirnya kami membuat perapian dengan ranting-ranting pohon dan dua buah batu sebagai kompor. Dua buah mie instan dicampur dengan sareden ukuran sedang ditambah telur asin. Sambil menikmati makanan, tanpa kamisadari ternyata sinar matahari semakin terik. Rasa haus tak terhankan lagi.
Saat akan memulai perjalanan kembali, ternyata persediaan air kami telah habis. Hal ini sempat membuat mental kami down. Berhenti mendaki dan turun ke bawah atau terus naik ke puncak. Tapi dengan harapan bahwa di puncak nanti kami bisa mendapatkan air dari kaldera, akhirnya kamipun meneruskan perjalanan ke puncak.
Itox dan Taruna berjalan di depan. Wawan dan Mumu cukup berdekatan berjalan bersama. Sedangkan Hendra jauh tertinggal di belakang. Saking jauhnya, Mumu yang berjalan di belakangnya Wawan, sempat tertidur karena tidak kuat menahan kantuk, tapi Hendra tak kunjung tiba.
Ditengah perjalanan yang tanpa air, semangat Mumu tampaknya mengendur. Bibirnya mulai tampak mengering. Sepertinya perasaannya mulai kacau. Dia tidur cukup lama seolah-olah tidak ingin melanjutkan perjalanan. Hingga akhirnya Wawan memberitahu Mumu bahwa ada genangan air di atas sebuah batu. Meskipun didasarnya penuh dengan endapan tanah, tapi air ini sangat berguna. Setidaknya bisa memacu semangat untuk mncapai puncak. Sepetinya air ini berasal dari air hujan yang turun sehari sebelumnya. Dengan sisa tenaga yang ada Mumu mencoba minum air itu dengan mendekatkan mulut pada air. Tapi hal itu tidak mungkin karena airnya terlalu sedikit bila dibandingkan dengan endapan yang ada. Akhirnya dengan tutup botol, empat-lima teguk dapat membasahi kerongkongannya.
Keadaan Itox dan Taruna sedikit saja berbeda. Seakan tanpa emosi, mereka menyusuri jalan dengan langkah kecil, pelan tapi pasti mendaki jalan setapak yang terjal. Menjelang hutan Lamtoro 2 mereka menemukan genangan air di atas batu, tapi sengaja tidak diminum karena belum terlalu haus dan terlihat tidak higienis. Taruna bilang kalo air itu mungkin udah lama di situ, sehingga mungkin terkontaminasi. Setelah sengaja melewatkan air di atas batu itu (yang akhirnya diminum Mumu) dan setelah melalui hutan Lamtoro 2 sampailah di hutan Edelweiss. Sayangnya pada saat itu bunganya tidak banyak yang mekar. Di situ Itox menemukan sebuah ceruk berisi sedikit air di jalan setapak yang bertanah cadas. Mungkin seperti menemukan oase di gurun pasir. Karena perbekalan air sudah benar-benar habis dan kami benar-benar haus, maka kami berdua berusaha meminum air itu. Tutup botol digunakan untuk mengambil air dari ceruk kecil yang ukurannya tidak lebih besar dari tangan terebut untuk kami minum. Betapa segarnya air itu…..
Perjalanan dilanjutkan. Di sepanjang jalan tampak hijau oleh pohon-pohon perdu Edelweisss, dinaungi kabut yang datang dan pergi. Sinar matahari terasa menyengat walaupun hawa dingin dirasa.
Pukul 12.00 akhirnya Mumu mencapai puncak. Di depan adalah kawah/kaldera yang cukup luas dengan danau dibawahnya. Anehnya tempat itu sepi, hingga terdengar suara Itox dan Taruna yang sudah tiba dan turun ke dalam kaldera untuk mencari air dan foto-foto. Mumu pun menyusul dengan membawa botol kosong. Sedangkan barang bawaannya ditinggal di atas. Kamipun minum sepuasnya. Air yang kami minum bukanlah sumber mata air melainkan air hujan yang menggenang ketinggiannya tidak sampai satu jengkal. Sebenarnya ada danau yang melimpah dengan air, tapi letaknya di level kaldera yang lebih bawah lagi. Untuk mencapainya kami harus turun lebih dalam lagi, oleh karena itu genangan air di kaldera level atas ini mungkin sudah cukup.
Beberapa menit kemudian Wawan sampai di puncak dan bergabung bersama Mumu, Itox, dan Taruna di kaldera Sundoro. Sambil istirahat dan menunggu Hendra yang jauh tertinggal di belakang, Wawan menyaring air dengan kertas tissue untuk perbekalan.
Satu jam kemudian akhirnya Hendra tiba di puncak. Dengan wajah yang tampak kelelahan Hendra turun ke kaldera bergabung dengan kami semua. Kabut mulai turun kembali. Rintik-rintik hujan semakin deras. Kamipun berteduh di bawah bukit, bergantian sholat jamak qosor dhuhur-asar.
Setelah gerimis reda, kami semua kembali naik ke bibir kaldera, menyiapkan perbekalan untuk turun. Kabut semakin tebal. Pukul 14.15 kami menempuh perjalanan turun dari puncak.
Sebenarnya perjalanan turun ini lebih mudah daripada saat kami naik. Meskipun seperti itu, kami tetap berhati-hati, karena jalan yang dilewati cukup licin dan bisa membuat kami jatuh. Berkali-kali Mumu terpeleset. Untuk perjalanan turun sampai pos tiga kami menargetkan 2-3 jam. Lagi-lagi Hendra teritnggal jauh di belakang. Saat kami berempat telah tiba di pos 3 jam 17.00, hendra belum juga tiba.
Setelah tiba, ternyata Hendra mengaku kakinya sakit, jadi tidak bisa jalan cepat. Kamipun istirahat sebentar. Kami targetkan sebelum jam 9 malam kami harus sampai kembali di base camp, karena persediaan makanan dan senter kami sudah menipis.
Baru beberapa meter berjalan, permasalahan muncul. Hendra tiba-tiba merasa pusing dan minta berhenti sebentar. Sayangnya kami lupa membawa obat-obatan seperti Antalgin atau parasetamol untuk obat pusing dan obat panas. Kami hanya membawa obat luar saja. Beberapa menit kemudian Hendra mual-mual dan muntah. Sepertinya dia tidak kuat melanjutkan perjalanan.
Hari semakin gelap dan udara semakin dingin, sedangakan Hendra berbaring sakit. Wawan berusaha membuat air panas untuk kompres. Namun terjadi insiden kecil yaitu ketika Wawan akan menambah isi kompor spirtus, ternyata ada bara api di kompor yang belum padam. Ketika spirtus dituang seketika itu api menyulut spiritus dan membuat botol spirtus tersebut meledug. Api sempat membakar bagian bawah Hendra yang sedang berbaring, namun segera diatasi. Wawan pun menderita luka bakar ringan. Spirtuspun kini tinggal sedikit.
Udara berhembus kencang dan Hendra semakin kedinginan. Setelah dikompres dan keadaan tidak juga membaik, Wawan “ngeroki” Hendra yang sepertinya masuk angin. Berkali-kali dia muntah dan menggigil kedinginan.
Karna hari beranjak gelap Una dan Itox membuat api unggun dari ranting-ranting pohon di sekitar situ sebagai peneghangat, sedangkan Mumu sibuk membikin makanan untuk mengisi perut Hendra. Kamipun memutuskan untuk menghubungi tim SAR yang ada di base camp untuk mengirimkan bantuan. Mengingat perbekalan kami yang habis dan tidak mungkin bertahan terlalu lama di sana. Beruntung ada sinyal HP di tempat itu, meski sangat lemah. Tim SAR menyanggupi permintaan kami dan akan mengirim bantuan ke posisi kami.
Untuk memulihkan kondisi, Hendra harus memakan mi instan yg dibuat Mumu karna perutnya kosong (terakhir makan adalah pagi menjelang siang di daerah berbatu), tapi ternyata dia tak mau makan. Semua memaksa Hendra untuk makan, sesendok saja dia tak mau – entah mengapa. Kamipun sedikit stress karena ulah Hendra itu yang dapat menyulitkan semua anggota.
Akhirnya Hendra merasa baikan, kami mencoba tuk melanjutkan perjalanan meski lambat. Pertukaran tas-pun dilakukan supaya terjadi keseimbangan kekuatan-beban. Perlahan tapi pasti kami menyusuri lereng ditemani cahaya senter yang warna-warni, redup-terang – maklumlah, batre hamper habis. Kali ini kami jalan bareng berurutan. Sekitar jam 21.00 kami tiba di pos 2 sejenak mampir melepas lelah. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan yang berliku.
Beberapa saat berjalan, sesekali sorot senter nampak di kejauhan. Rupanya itu adalah tim SAR. Ternyata tim SAR membawa sebuah tandu dan satu jrigen air. Sedikit berbasa-basi kamipun segera berangkat. Hendra dipapah oleh salah satu personil SAR. Kali ini perjalanan kami sangat cepat, setengah berlari mungkin. Sesekali kami-pun beristirahat melepas lelah.
Setelah mencapai jalan berbatu Hendra diboncengkan motor, sedangkan yang lain masih harus berjalan 1-2 km lagi. Setelah lama berjalan, saking senangnya ketemu air, Mumu langsung gosok gigi di selokan pinggir jalan, padahal basecamp cuma 200 m di depan. Tak lama kamipun sampai di basecamp, jam menunjukkan angka 11. Rasa bersyukur kami tak terkira karena tlah diberi keselamatan.
Segera saja kami pesan makan dan minum untuk mengisi kembali perut yang sudah merana. Karena Una telah berjanji pada seseorang untuk ketemu pagi buta, dia memutuskan untuk pulang sendirian. Yang lain memilih menginap mengingat kondisi tubuh yang sudah ekstra capek.
Paginya kamipun pulang ke Jogja, meluncur menuruni lereng gunung dalam udara dingin. Kami-pun melewati kota Temanggung. Namun tak disangka kami dihentikan oleh pak Polisi. Ditanyai aneh-aneh dari mana, mau ke mana, pokoke ribet. Setelah nanya muter-muter ke sana ke mari akhirnya pak Polisi ke masalah yang sebenarnya yaitu para bembonceng yang gak pake helm standar. Ternyata di Temanggung gak boleh pake helm batok (waktu itu di Jogja masih boleh pake helm batok). Akhirnya kami dibiarkan meneruskan perjalanan setelah yakin kami memang anak Jogja yang gak dong aturan di sana.
Sebelum ke rumah masing-masing kami mampir ke rumah Hendra. Kami-pun pulang dengan buanyak sekali memori dan juga banyak rambutan……..
Muchtar & Itox



December 18th, 2008 at 9:48 pm
tolong dong akses kendaraan nya dari jakarta/bekasi naik apa ja kendaraan nya,naek kereta or naek bis enak kan /murah han mana naek kerta/bis trus turun di mana trus nek apa lagi